
Di dalam kamar, Adi sudah merebahkan diri. Menyalakan pendingin ruangan, meringkuk nyaman di atas tempat tidur. Namun pikirannya tetap pada kerinduan untuk bisa saling berkumpul dengan sahabat sahabatnya seperti dulu. Ia merasa berat menjauhi Alex dan Rafa selama ini, hanya karena menghindari Arin cuma untuk menjaga perasaan istrinya sendiri. Rasa ingin bisa berkumpul, bermain bersama dan bercanda mendera kuat pada batin dan pikiran Adi. Kekonyolan ketika berkumpul bersama pun membayanginya jelas.
" Kamu mau tidur lagi? kalau mau keluar ya udah keluar aja " ucap Yessi begitu masuk dan duduk di tepi ranjang dekat tubuh suaminya.
" Engga usah, mau tidur aja " santai Adi.
" Kamu kangen kan sama mereka? ya udah susul aja tinggal telpon Alex sana terus berangkat susulin mereka. Ada Arin jug kan di sana? jadi Kamu bisa sekalian ngobrol sama Dia, bawa Alka kaya dulu bercanda gitu " ucap Yessi panjang lebar, langsung membuat Adi membuang napasnya panjang.
" Gue udah nurutin Lo, apa lagi sih? Gue udah jauhin mereka, Gue engga pernah lagi ketemu mereka, Gue selalu pulang tepat waktu ke rumah, semua cuma buat nurutin Lo, jaga perasaan Lo, terus sekarang Lo ngomong kaya gitu buat apa? Lo lihat sendiri kan tadi Gue kaya gimana ke sahabat Gue sendiri? bahkan Arin yang Lo cemburuin aja engga Gue peduliin pas nyapa Gue. Lo lagi hamil, kalau Lo terus pransangka buruk engga bakal baik buat kandungan Lo, dan Gue lagi yang kena omel emak Gue " panjang lebar Adi meluapkan semua yang tengah Ia rasakan.
" Aki cuma minta Kamu engga ketemu Arin, bukan Rafa ataupun Alex. Wajar Di, Aku minta kaya gitu karena Aku engga mau perasaan Kamu ke Arin terus ada, apalagi sekarang Kita udah mau punya anak " sahut Yessi tetap duduk di tepi ranjang.
" Apapun yang Lo minta udah Gue turutin, Gue harap engga ada lagi pembahasan masalah ini Gue udah capek. Gue udah ninggalin semua buat Lo, sekarang Lo bilang cuma suruh Gue jauhin Arin bukan Rafa sama Alex?! Lo tau gak siapa Arin? Di bininya Rafa, dan Dia pasti ada dimana Alex atau Rafa ada " jawab Adi menahan sendiri suara juga rasa amarahnya yang sangat ingin meledak dari dulu.
" Kamu tahu Arin istrinya Rafa terus kenapa masih suka? apa Kamu engga mikir gimana kalau Rafa atau Arin tahu hal itu? mereka juga bakal hancur rumh tangga nya " seru Yessi.
" Mereka tahu, Arin tahu, Rafa tahu, Alex tahu, bahkan Vio juga tahu kalau Gue masih suka sama Arin. Tapi engga ada satupun yang nyuruh Gue atau Arin menjauh kaya Lo, Rafa juga engga pernah nyurus Arin jauh malah Dia nyuruh Arin buat tetap jaga persahabatan Kami bareng bareng " jelas Adi tetap menahan amarah, tak mau menyakiti istrinya yang tengah hamil.
Mendengar ucapan Adi, Yessi hanya terdiam sendiri. Walaupun semua tahu tentang perasaan Adi ke Arin, bahkan Rafa sebagai sahabat Adi dan suami Arin memang tak. pernah meminta keduanya untuk saling menjauh. Rafa sendiri meminta istrinya untuk tak menjaga jarak ataupun bersikap lain pada Adi, meskipun tahu jika Adi masih memiliki perasaan pada istrinya. Ia yakin jika keduanya takkan pernah macam macam dan melukai dirinya.
" Kenapa diam? ngerasa salah? " tanya Adi ke arah istrinya.
__ADS_1
" Engga, karena emang engga ada yang salah dari apa yang Aku minta ke Kamu Di. Aku lakukan itu sebagai seorang istri yang engga mau kehilangan suami. Aku bukan Rafa yang bisa nerima gitu aja, Aku perempuan dan perasaan Aku lebih sensitif dari itu " santai Yessi menjawab.
" Udah lah Gue capek, Gue cuma mau pernikahan ini berjalan sesuai mau Lo dan Gue turutin semua mau Lo. Sekarang Gue mau tidur, Lo debat aja sono sama kembang " pungkas Adi memunggungi Yessi dan memaksa memejamkan mata.
Tidak pernah bisa mengerti bagaimana jalan pikiran istrinya sendiri, karena selama ini Ia hanya bergaul dengan orang orang yang berpikiran terbuka. Adi sudah terlalu memendam rasa marah pada istrinya, seakan bisa meledak kapanpun. Namun mengingat kehamilan muda Yessi, Ia menahan segala perasaan nya Menekan setiap kerinduan, mengubur dalam persahabatan sudah Ia bangun dari dulu bersama Alex juga Rafa.
Di mall, Rafa, Arin, Alex, Viona juga Alka sudah mulai berbelanja kebutuhan dapur apartemen Rafa. Alka tak henti meraih apa yang bisa di raih dengan duduk di troli belanja, menggigit semua yang Ia pegang sampai membuat Ayahnya stres sendiri.
" Alka, ini tuh bayar nak bukan gratisan. Ayah bisa miskin kalau Kamu kaya gini, semua di gigit kan engga bisa di balikin lagi harus di beli sama Ayah " ucap Rafa ke arah putranya yang masih asik menggigit kemasan coklat hingga robek.
" Tau nih sultan, Lo mah enak dati bayi udah kaya. Lah Bapak Lo warisan kagak ada, kerja sampai engga pulang, eh Lo gerogotin dompetnya. Mbil yang banyak sana terus buka semua " sahut Alex menambahkan, di pukul punggungnya oleh Rafa.
" Engga usah jelas jelas juga kalau ngomong " protes Rafa, malah di tertawakan Alka yang melihat dua laki laki mendorong troli itu.
" Emang anak Papa nih pinter banget bikin orang kesel, sama kaya Bapak Lo. Emak Lo aja males sama Bapak Lo " celetuk Alex tertawa mencubit gemas pipi Alka.
Arin dan Viona hanya mendengarkan kedua laki laki berbicara di belakang mereka, sambil terus mencari banyak barang kebutuhan dapur juga kebutuhan rumah lainnya. Saking gencarnya Rafa dan Alex berdebat, Arin dan Viona merasa ingin tahu dan berjalan menghampiri.
" Lah kenapa kotor banget sih yank? " tanya Arin terkejut melihat baju serta wajah putranya belepotan coklat.
" Mau engga kotor gimana, tuh coklat satu bungkus Dia habisin semua " jawab Rafa menunjuk coklat di tangan putranya.
__ADS_1
" Yank, kok di biarin makan coklat sih? kemarin baru aja sembuh diare " ucap Arin mengambil coklat putranya.
" Tuh kan nangis, Kamu sih yank " ucap Rafa melihat putranya menangis karena coklat di ambil oleh Bunda nya.
" Gendongin Lex " ucap Arin ke arah Alex.
" Ogah, baju Gue kotor bini Gue kasihan nyuci " jawab Alex juga tak menggunakn pembantu di apartemen.
" Aku cuciin yank, udah gendong Alka nya sana " sahut Viona mendorong lengan suaminya.
" Rafa tuh " protes Alex.
" Ogah, Gue pakai baju putih entar kena coklat " jawab Rafa menggelengkan kepala.
" Ya udah deh nih makan coklat lagi. Kamu sih jorok kan engga ada yang mau gendong. Bunda juga engga mau " ucap Arin menyerahkan kembali coklat pada putranya yang langsung tersenyum menikmati kembali coklat.
" Kebangeten " celetuk Arin.
" Lah Kamu juga yank " jawab Rafa memprotes.
" Sama aja " celoteh Alex.
__ADS_1
" Lo juga " seru Arin dan Rafa ke arah Alex bersamaan, namun malah tertawa terbahak bersama.