
Pukul 06.15, Rafa sudah memasuki halaman rumah Adi. Terlihat saudara saudara Adi sudah berkumpul, juga pelayan serta kedua orang tua Adi sibuk mondar mandir di rumah sahabatnya.
" Rafa, kok udah di sini aja ? Kamu udah sehat ?" tegur Mama Adi menghampiri Rafa yang baru turun dari mobil, lalu memeluknya.
" Udah kok Tante, Adi dimana ?" sopan laki laki dengan kaos polos putih serta celana chino tersebut usai mencium tangan wanita yang sudah di anggapnya Ibu.
" Ada tuh masih tidur, Kamu bangunin gih. Tapi makan dulu ya Tante ambilin " lembut Mama Adi merangkul lengan Rafa memasuki rumah.
" Engga usah Tante, Rafa udah makan tadi. Aku langsung bangunin Adi aja ya " sopan kembali Rafa tersenyum pada wajah tampan dengan brewok tipisnya.
" Ya udah deh, tapi nanti harus makan ya " lembut wanita dengan kaos serta celana jeans panjang itu tersenyum membelai rambut Rafa.
" Siap Tante " pungkas Rafa dan membuka pintu ruang tamu, dimana Mama sahabatnya itu mengantar.
Dilihatnya Adi dan Alex masih terlelap dalam seliut yang sama saling berhadapan, seketika membuat Rafa bergidik jijik sendiri melihat posisi tidur dua sahabatnya. Dengan jahil, sengaja Rafa perlahan meletakkan masing masing tangan sahabatnya saling melingkar pada pinggang.
Sambil menahan tawa juga jijik, Rafa menggelitik kedua kaki sahabatnya, hingga keduanya mengubah posisi semakin dekat. Tak mampu lagi menahan tawa melihat wajah keduanya sudah hampir menyentuh hidung masing masing, Rafa tertawa puas dan membangunkan dua sahabatnya cepat.
Baik Adi ataupun Alex langsung terperanjat menyadari posisi mereka. Keduanya cepat duduk sambil mengusap tubuh masing masing jijik.Rafa hanya tertawa lalu duduk di sebuah kursi tak jauh dari ranjang.
" Wah Lo berdua, Gue tahu Lo berdua kesepian tapi engga gitu juga kali " celetuk Rafa sudah duduk melebarkan kaki.
" Ih amit amit, jijik banget Gue " seru Alex bergidik jijik.
" Ampun gila, merinding Gue " seru Adi mengusap tangannya sendiri sambil bergidik.
" Halah gaya Lo berdua, semalam juga udah enak enakan " celetuk Rafa makin membuat keduanya bergidik.
__ADS_1
" Jam berapa Fa ? Lo udah sehat ?" tanya Alex beranjak menghampiri sahabatnya.
" Udah siang nih, Lo lupa nih hari nikahan nya Adi? masih molor aja " sahut Rafa ke arah sahabatnya.
" Lah, Gue lupa " ucap Adi terkejut dan cepat berjalan menuju kamar mandi, diiringi gelengan kepala dua sahabatnya.
" Moga aja Lo engga lupa calon bini Lo sama namanya " lirih Rafa menggelengkan kepala.
" Yang ada entar Dia nyebut nama bini Lo " sahut Alex terbahak, dipukul lengannya oleh Rafa.
" Sakit kali Fa " protes Alex mengusap lengannya.
" Bau mulut Lo, belum gosok gigi udah lebar banget tuh mulut kaya selokan " celetuk Rafa, di tatap jengkel Alex dan mencium nafasnya sendiri melalui telapak tangan.
" Kagak bau ! selokan jidat Lo kinclong ! " protes jengkel Alex.
" Otak Lo mekar " jengkel Alex juga tak mau kalah.
" Usus Lo di kepang " jengkel kembali Rafa.
Keduanya saling jengkel sampai Adi keluar dari kamar mandi, saking lamanya mereka tak mau mengalah satu sama lain.
" Lo berdua ya, Gue mau nikah malah berantem kaya bocah aja " seru Adi menatap kedua orang saling memunggungi di atas kursi masing masing dengan wajah kesal.
" Tau nih Bambang " celetuk Rafa.
" Paiman Lo ! " jengkel Alex.
__ADS_1
" Mandi sana ! " ucap keras Adi penuh penekanan ke arah Alex.
Dengan malas, Alex berjalan menuju kamar mandi melewati kedua sahabatnya dan mengusapkan telapak tangan sudah Ia letakkan di ketiak lebih dulu tepat di hidung mancung Rafa, dan berlari cepat mengunci pintu ketika Rafa sudah beranjak mengejar.
" Gila bau banget! udah kaya toilet umum ! " gerutu jengkel Ayah satu anak itu mengusap hidungnya sambil terus membuang napasnya berulang, demi menghilangkan bau yang menyangkut dalam hidung.
" Baru tau Lo kalau tuh anak baunya kaya toilet umum? makanya dirtinggal sama bini nya " celetuk Adi terbahak melihat Rafa kembali duduk sambil terus mengusap hidungnya.
Sikap jijik Rafa akan bau badan, selalu membuat Alex bisa mengerjai dengan mengusap telapak tangan sudah di letakkan ketiak tepat di hidung sahabatnya. Meski Alex tak memiliki bau badan dan selalu wangi seperti kedua sahabatnya, namun tetap saja tingkah Alex membuat kedua sahabatnya merasa jijik.
Adi tanpa segan, mengganti pakaian di ruangan sama dengan sahabatnya, karena memang sudah terbiasa akan hal itu. Mungkin sebagian orang akan merasa aneh dan menganggap lain, namun hal itu sudah menjadi pemandangan biasa bagi tiga sahabat dari kecil itu.
Tak ada persiapan khusus untuk Adi, karena memang hanya mengenakan jas saja seperti hari hari Ia bekerja. Lagipula ada Rafa juga Alex yang sudah siap untuk membantunya berkemas sebelum acara ijab qabul pukul sepuluh pagi ini.
Sementara di rumah Yessy, keadaan rumah lebih heboh dari rumah Adi. Dimana calon mempelai wanita itu sudah di rias di dalam kamarnya dengan di dampingi oleh Bunda, Nenek juga Bibinya. Kebaya warna putih yang hendak di kenakan Yessy pun sudah siap di kamar gadis dengan perasaan gelisah itu.
" Yessy takut deh Bunda " seru Yessy duduk masih di rias pada wajahnya.
" Santai aja sayang, nanti kalau udah sah juga lega kok " santai Bunda Yessy tersenyum.
" Iya, dulu Bibi juga gitu tapi sekaran udah biasa aja sama Paman Kamu " celetuk wanita duduk di tepi ranjang tersebut memperhatikan.
" Itu karena Kamu sudah menikah lama, wajar udah bosan " sahut Nenek Yessy tersenyum menggoda menantunya.
" Ibu... " seru Bibi Yessy tersenyum memeluk mertuanya.
Yessy yang seharusnya di temani Arin hari ini, harus merasas sedikit bersedih karena temannya itu tak bisa datang. Arin yang ingin pergi menemani Yessy pagi ini, tak mendapatkan ijin dari Rafa yang meminta istrinya untuk tetap bersama dengan Alka saja dan baru menyusul nanti di lokasi akad nikah sahabtnya.
__ADS_1
Rafa hanya tak mau jika istri juga anaknya terlalu lelah, usai melakukan perjalanan jauh. Terlebih Alka yang masih kecil dan takut jika nanti sampai putranya itu sakit. Meski merasas tak enak tak memberikan ijin istrinya, Ia terpaksa harus melakukan hal itu demi kebaikan keduanya. Arin sendiri berjanji pada Yessy akan mulai menemani ketika usai ijab hingga resepsi nantinya, dan di setujui oleh gadis yang tak memiliki teman lain selain Arin itu.