
Setelah selesai, semua orang kembali ke rumah masing masing. Orang tua Arin, Rafa dan Alex lebih dulu pulang dari tadi. Rafa langsung menuju apartemen karena Arin meminta suaminya segera meminum obat dan beristirahat. Sementara Alex kembali sendiri ke rumahnya, karena sudah cukup lelah hari ini.
Di rumah, Adi membawa istrinya masuk dengan kedua orang tua Yessi mengantar. Sejenak berbincang, Yessi sudah banyak menguap langsung di ajak Adi masuk ke kamar.
" Buset emak Gue, dimana mana happy wedding, lah ini masa cepet kasih cucu? " seru Adi melihat kamarnya dengan tulisan untuk cepat memberi cucu dengan emoticon wings.
Kado berbentuk bulat, di buka oleh Adi dengan lingerie hitam yang membuat keduanya malu sendiri.
" Emak Gue semangat banget, kagak tahu kendinya bocor apa " gumam Adi melihat lingerie di dalam kotak.
" Gue mandi dulu ya, biarin nih kagak usah dilihat lagi " ucap Adi pada Yessi sambil meletakkan kado di atas meja kamarnya.
Yessi mengamati tiap sudut kamar Adi dengan stik drum juga gitar di dinding kamar tersebut. Banyaknya barang untuknya sudah di siapkan oleh Adi juga membuatnya tersenyum senang, karena suaminya memiliki perhatian lebih padanya.
Masih dengan gaun pernikahan melekat, Yessi lebih dulu membersihkan make up dan tatanan rambutnya. Semua sudah tersedia lengkap di sana, tanpa perlu Yessi membawa apapun dari rumah sesuai permintaan Adi dulu.
Gaun coba di lepaskan oleh Yessi, namun terlalu sulit karen resleting panjang hingga pinggang. Adi yang baru selesai mandi, membantu istrinya membuka gaun dan terpampang punggung mulus di depannya. Matanya membulat dengan ludah di telan kasar. Yessi merasa kurang nyaman dengan tangan Adi menyentuh punggungnya, hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
" A.. a... Aku mandi dulu ya " pamit Yesi terbata, di iyakan oleh Adi melalui isyarat kepala.
" Gila Gue! " batin Adi duduk di tepi ranjang.
" Bisa gini ya dekat sama cewek, rasanya aneh banget padahal tadi Gue udah mau nyentuh tuh anak, tapi tetep aja Gue masih gugup " gumam Adi memegang dada berdetak cepat.
" Tidur deh " tambah kembali Adi merebahkan diri dan menarik selimut.
Matanya tertuju pada langit langit kamar, dengan tangan tetap memegang dada menata napasnya sendiri. Tak lama setelah itu, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Dilihatnya Yessi sudah mengenakan pakaian tidur dengan rambut tergerai.
" Tidur gih " pinta Adi menatap ke arah Yessi.
Perlahan Yessi naik ke atas ranjang, dan tidur memunggungi Adi karena merasa canggung harus berada satu ranjang semalaman dalam ruangan terkunci. Adi memeluk dari belakang tubuh dalam selimut yang sama itu, membulatkan mata Yessi terkejut.
" Aku datang bulan Di " lirih Yessi mengingatkan.
" Gue mau terbiasa tidur gini sama Lo " sahut Adi pernah melihat hal itu dari Arin juga Rafa.
Yessi menerima saja perlakuan Adi, dan meletakkan tangan di atas punggung tangan laki laki tak menyisakan jarak itu. Terlalu dekat, hingga aroma Yessi mampu di cium kuat oleh Adi. Bahkan Yessi juga mampu merasakan setiap hembusan hangat napas dari laki laki yang sudah menjadikan dirinya istri hari ini.
" Di, tangan Kamu " seru Yessi lirih ketika tangan Adi memeluk di dada.
" Eh sorry, Gue engga sengaja " jawab Adi memang merubah nyaman posisinya.
" Bukan gitu maksudnya Di, cuma Aku takut Kamu pengen dan pusing lagi kaya tadi " polos Yessi.
" Gue emang pengen tapi masih bisa nahan " sahut Adi.
__ADS_1
Keduanya terlelap bersama dalam posisi sama, Adi tak melepaskan pelukannya sedikitpun.
****
Pagi hari, lebih dulu Yessi bangun dan membantu di dapur. Sedangkan Adi masih terlelap dalam balutan selimut nyaman. Yessi sudah terbiasa membantu bundanya memasak setiap haru, hingga bukan menjadi hal baru untuknya.
Setengah enam, Mama Adi baru bangun dan menuju dapur hendak membuatkan kopi suaminya. Matanya berbinar beriringan senyum merekah melihat menantunya sudah menggantungkan celemek pada leher, melekat indah pada tubuhnya.
" Kok udah bangun nak? " tegur wanita masih memakai piyama tidur itu menghampiri.
" Pagi Ma, Aku udah terbiasa bangun pagi jadi sekalian bantu buat siapkan sarapan " senyum Yessi mengatakan dalam nada sopan.
" Adi masih tidur kan? engga nakal? " tanya Mama Adi sambil meracik kopi untuk suaminya.
" Engga kok Ma, sekarang masih pulas banget di kamar. Habis ini mau bangunin Dia kalau udah selesai " senyum kembali Yessi ke arah mertuanya.
" Ya udah, Mama mau kasih kopi buat Papa dulu ya sekalian mandi " pamit Mama Adi membawa cangkir berisi kopi ke kamar.
" Iya Ma " sahut Yessi kembali melanjutkan acara memasaknya.
Di dalam kamar, Mama Adi menceritakan semua yang Ia lihat di dapur. Keduanya bahagia karena putranya tak salah memilih istri. Kedua orang tua itu menganggap jika Yessi akan mampu menjadi seorang istri terbaik bagi putranya, dan mungkin akan merubah sifat Adi menjadi lebih baik juga serius.
Tepat setengah tujuh, Yessy kembali ke kamar ingin membangunkan Adi. Namun laki laki dalam selimut itu masih saja lelap walau matahari sudah indah di luar sana.
" Bentar Ma, sepuluh menit " sahut Adi mengubah posisi memunggungi Yessi.
" Kok Ma sih? " gumam lirih gadis duduk di tepi ranjang tersebut heran.
" Adi, ayo bangun udah siang " coba kembali Yessi membangunkan.
Napas panjang di buang Yessi, lalu membungkuk ke arah sisi wajah laki laki masih terlelap itu. Bibirnya lembut mencium pipi Adi sembari berbisik membangunkan. Cepat Adi membuka mata dan menjauh dari Yessi karena lupa jika dirinya sudah menikah.
" Ah, kaget Gue. Gue kira ular Lo tadi " seru Adi mengusap telinganya.
" Masa ular sih Di? anakonda " celetuk Yessi terkejut melihat Adi langsung cepat turun dari tempat tidur.
" Lupa Gue udah nikah " lirih Adi kembali naik ke atas ranjang.
" Sorry, Gue lupa kalau udah nikah. Gue kaget aja ada yang bangunin Gue kaya tadi. Lo cium Gue? " ucap Adi duduk menghadap Yessi, langsung memerahkan wajah istrinya cepat.
" Gue cium Lo, kata Arin itu cara paling cepet bangunin suami makanya Gue lakuin " polos Yessi sudah bertanya lebih dulu pada Arin cara berumah tangga di usia muda.
" Lo, bau apaan sih? " ucap Adi mengendus tiap bagian tubuh Yessi.
" Kaya bau emak Gue " tambah kembali Adi, membuat Yessi mencium baju juga tangannya sendiri.
__ADS_1
" Oh ini? baru masak makanya bau dapur " senyum Yessi menunjukkan kedua telapak tangan ke arah wajah laki laki terus mundur itu.
" Bau banget, sumpah kaya emak Gue " celetuk Adi tak menyukai aroma dapur selama ini.
" Ampun Di jahat banget sama istri, ini juga masak buat Kamu lagi makanya bau. Lagian bukan bau asap kaya tungku juga " protes Yessi manyun.
" Ya tetep aja bau, mandi gih terus ganti baju habis itu makan " ucap Adi.
" Aku udah mandi tadi jam lima, masa iya harus mandi lagi? " protes kembali Yessi.
" Ya udah deh Gue mandi dulu " sahut Adi beranjak.
Adi yang selalu bersihan dan membenci setiap adanya bau, memang paling tidak menyukai bau masakan. Untuk itu. Mamanya selalu mandi ketika selesai memasak, agar putranya mau di peluk juga di cium ketika hendak pergi ke kampus ataupun ke kantor pagi hari. Namun hal itu belum dipahami Yessi yang baru saja masuk dalam kehidupan Adi.
Keduanya turun dan menikmati sarapan bersama kedua orang tua Adi. Adi yang mendapat cuti tiga hari dari Papa Rafa hanya ingin berdiam diri saja di rumah, karena memang Mamanya juga belum mengijinkan keluar mengingat mereka masih pengantin baru.
Mama Adi tetap ingin membuat putranya membangun perasaan lebih dekat bersama Yessi, dan melupakan sepenuhnya Arin. Sebenarnya sudah ada acar bulan madu yang disiapkan, namun mengingat Yessi tengah datang bulan semua harus terpaksa di undur, karena tak ingin perjalanan mereka menjadi sia sia.
Di kediaman orang tua Alex, laki laki sudah duduk bersama di meja makan itu hanya menikmati bersama Mamanya saja pagi ini. Ia harus segera berangkat keluar Kota bersama Rafa pagi ini, juga tim dari kantor yang ditunjuk oleh Papa Rafa untuk melakukan meeting bersama klien.
" Alex, kenapa kemarin engga ajak Vio mampir? " tanya Mami Alex sembari menikmati makan.
" Kagak, entar bawa cewek ke rumah terus malah di omongin orang lagi. Entar kalau udah nikah juga tiap hari di sini " sahut Alex terus mengunyah.
" Alex, kemarin Mami ketemu sama mantan istri Kamu di jalan, kaya nya Dia lagi berantem deh kemarin " cerita Mami Alex mengehentikan kegiatan sarapan putranya seketika.
" Mi, udah engga usah di bahas lagi. Mami tahu kan perutnya udah gede dan Dia lakuin itu saat masih nikah sama Aku? jadi udah Mi biarin aja " sahut Alex masih memegang sendok garpu menatap Maminya.
" Mami cuma cerita, lagian Mami juga engga mau bahas kalau kemarin bukan sengaja ketemu Dia lagi nangis di jalan " sahut wanita di hadapan Alex tersebut, malah membuat Alex penasaran.
" Nangis kenapa? sama laki nya? " tanya Alex ingin tahu.
" Kaya nya sih, itu lakinya sama cewek gitu, lah si mantan Kamu tuh kaya nahan tangannya biar engga pergi. Eh malah di gampar " cerita Mami Alex seperti seorang Ibu rumpi.
" Terus terus " tanya kembali Alex memajukan wajah.
" Ya udah nangis lah orang di gampar pasti sakit, lah lakinya itu malah pergi gitu aja engga nengok lagi ke belakang. Malah asik asik aja tuh rangkul rangkul cewek di sampingnya. Cantik sih, rambutnya panjang pakai rok pendek gitu, cuma si mantan tuh sekarang buruk banget engga terawat gitu mukanya, mana pakai daster jelek banget lagi " panjang lebar Mami Alex, membuat putranya mengangguk berulang.
" Kita kaya emak emak di tukang sayur gak sih Mi? " tawa Alex mengakhiri pembicaraan mereka.
" Kamu sih, jadi Mami kan naluri gosip nya keluar " senyum Mami Alex selalu semangat saat bergosip.
" Emak emak tulen tuh Mami gini emang, belanja cuma lima ratus tapi gosipnya tiga jam. Nih mirip nih, makan satu piring ngobrolnya lama " celetuk Alex tertawa bersama Maminya.
" Udah Ah, Aku berangkat dulu udah di tunggu Rafa. Love you Mi " pungkas Alex mencium pipi Maminya dan berlalu pergi.
__ADS_1