
" Jadi itu yang buat lo engga mau deket sama cewek terus nolak perjodohan dari emak lo? " tanya Alex lagi yang tahu jika Adi menolak perjodohan dengan anak dari teman mama nya yang di jumpai di Bali.
" Gue belum bisa buka hati aja, entar juga gue nikah kalau udah nemu yang pas " sahut Adi karena perasaan nya terhadap Arin belum mampu ia hilangkan meski sudah bertahun tahun ia mencoba.
" Emang lo engga pernah cemburu gitu kalau Arin sama Rafa lagi mesra mesra an di depan lo?" tambah Alex karena sering nya melihat Rafa dan Arin bermesraan di hadapan Adi dan Alex.
" Ya cemburu, sakit juga hati gue tapi gue juga seneng lihat sahabat gue sama cewek yang gue suka bahagia. Apalagi habis ini mereka udah punya anak. Lagian gue engga berharap apa apa sama perasaan gue, gue cuma mau lihat Arin sama Rafa bahagia doang itu udah cukup buat gue " jelas Adi.
Rafa yang mendengar percakapan dua sahabat nya meraskan perasaan yang tak karuan dalam hati nya. Ia merasakan sakit hati karena sahabatnya mencintai istrinya namun ia juga merasa bersalah karena tak pernah tahu persaan Adi yang sudah ada dari kelas satu tersebut. Jika saja Rafa tahu tentang perasaan sahabatnya mungkin ia akan menolak perjodohannya dengan Arin sebelum ia memiliki perasaan yang terlanjur dalam terhadap istri nya kini apalagi sebentar lagi Arin yang melahirkan anak mereka. Rafa mencoba untuk bersikap biasa saja meski ia sendiri merasakan lemas pada sekujur tubuh ketika mengetahui fakta yang terungkap dari bibir kedua sahabat nya dan mulai menghampiri Adi dan Alex dengan pura pura.
" Makanan gue mana? " tanya Rafa menghampiri Adi dan Alex yang sudah berhenti membahas tentang perasaan Adi.
" Lama banget lo, udah di pesenin Adi tunggu aja " sahut Alex menatap ke arah Rafa yang duduk di hadapan Adi.
" Lagian lo biasanya sarapan dirumah, ngapain engga makan sih? bini lo engga masak apa? " tegur Adi masih asik dengan ponsel nya.
" Engga, bini gue pagi pagi udah pergi ke rumah mertua gue jadi gue males makan sendirian " jawab Rafa mencoba untuk biasa dan menganggap tak mendengar apapun.
" Bini lo sama bini gue sama aja kaya nya " dengus Alex.
" Nama nya bini gimanapun lo terima aja, tinggal lo doang Di yang belum nikah kapan lo nyusul " tegur Rafa mencoba memancing Adi.
" Engga, gue masih betah jomblo engga mau ribet sama cewek " sahut Adi mematikan ponsel nya karena pesanan mereka yang sudah tiba.
__ADS_1
" Tua lo kebanyakan milih " sahut Rafa lalu memakan makanan yang sudah di pesankan oleh Adi.
" Kenapa lo engga jujur sama gue sih Di " batin Rafa sambil memakan makanan nya.
Rafa menyadari bagaimana perasaan Adi karena mereka yang sudah menjadi sahabat dari kecil. Ia tahu jika memang Adi adalah orang yang paling serius dengan urusan hati dan tak mudah membuat nya jatuh cinta, namun ketika ia mencintai ia akan terus mencintai dan menjaga perasaan nya. Sama hal nya dengan Adi yang sangat menyukai pensil yang di berikan oleh almarhum kakeknya hingga kini ia selalu membawa nya kemana mana meski sudah mulai usang.
Usai makan Rafa memutuskan untuk pergi ke apartemen lebih dulu untuk menenangkan hati dan perasaan nya yang tak karuan. Sementara Adi memutuskan untuk pergi ke kantor papa Rafa dan bekerja. Alex yang memang sudah berjanji pada Reta akan langsung pulang ke apartemen begitu kelas usai langsung pulang karena sudah mendapat ijin dari papa Rafa untuk cuti tiga hari dari kerja.
Rafa melajukan kendaraan dengan pikiran yang kacau karena apa yang ia dengar sungguh membuat nya tak mampu mempercayai apa yang terjadi.
" Maafin gue Di, gue bener bener sahabat yang egois sampai gue engga ngerti perasaan lo" gumam Rafa sembari melajukan kencang mobil nya.
Tiba nya di apartemen, Rafa langsung merebahkan diri di atas sofa sambil menatap langit langit apartemen memikirkan tentang percakapan Adi dan Alex yang membuat pikirannya melayang kemana mana.
Malam hari nya Alex dan Reta mengundang Adi, Rafa dan Arin untuk makan di apartemen Reta. Rafa yang sudah menjemput Arin tiba lebih dulu ke apartemen Reta dan bermain Playstation dengan Alex selama Arin dan Reta menyiapkan makan malam yang sudah dipesan oleh Alex. Tak lama bel apartemen Reta pun berbunyi dengan Reta yang membukakan pintu untuk Adi yang sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian kerja.
" Adi, lo dateng juga " teriak Arin menghampiri lelaki yang mengenakan kemeja abu tua di lipat hingga siku dengan membawa satu kantung plastik di tangan nya.
" Seneng banget yank lihat Adi datang " seru Rafa berjalan bersama Alex untuk menghampiri Adi usai mematikan game mereka.
" Bini lo bukan seneng lihat gue, tapi seneng lihat donat nya tuh " seru Adi memberikan satu kotak donat titipan Arin.
" Kamu mau donat yank? kenapa engga bilang dari tadi sih kan kita bisa beli " ucap Rafa dengan duduk bersama Adi dan Alex di ruang tamu.
__ADS_1
" Kan kita engga lewat yank, makanya aku titip Adi soalnya dia yang lewat habis dari kantor ke sini " sahut Arin duduk dan menikmati donat coklat kesukaan nya.
" Lo emang demen repotin gue, enak gak? bagi gue dong satu" sahut Adi dengan menatap Arin yang melahap donat ditangannya.
" Enak dong apalagi lo yang beliin jadi gue gak bayar lagi " sahut Arin cengengesan sambil menyodorkan kotak donat ke arah Adi yang duduk di hadapan nya.
Rafa hanya mendengarkan dengan sesekali melihat ke arah Arin dan Adi yang terus ngobrol. Meski setiap harinya Adi dan Arin selalu bercanda dengan sikap serta nada bicara Arin yang manja namun setelah mengetahui perasaan Adi membuat Rafa sedikit sakit hati mendengar sahabat dan istrinya tersebut bercanda dan tertawa bersama. Rafa memilih untuk memainkan ponsel nya dengan masih mendengarkan candaan Arin, Adi dan Alex. Mata nya sesekali melirik ke arah Adi di sebelah nya untuk memastikan perkataan Alex yang bisa melihat perasaan Adi ke Arin hanya dari sorot mata nya.
" Lo berdua nih kaya anak kecil tahu gak, donat tinggal satu dipakai rebutan " tegur Reta melihat Adi dan Arin berebut donat yang akhirnya di potong menjadi dua oleh Arin agar sama sama bisa menikmati sisa donat tersebut.
" Tau nih anak, katanya beliin gue malah makan sampai habis " jengah Arin menatap ke arah Adi yang tersenyum.
" Engga usah senyum lo, pengen gue tabok pakai bibir lo " tambah Arin melihat Adi yang tersenyum manis dengan memasang wajah sok lucu ke arah Arin.
" Nih, nih gue kasih lo tabok aja " seru Adi menyodorkan pipi kanan nya semakin membuat Rafa panas.
" Yank, kalau ngomong enteng banget " sahut Rafa jengah.
" Tau nih anak asal ngejablak aja bacot nya " seru Adi tersenyum.
" Gue aja lo tabok pakai bibir sini nih " sahut Alex dengan menyodorkan bibir nya ke arah Arin.
" Gue tonjok kalau lo mah " seru Arin membuat Reta tertawa bersama Adi dan Alex namun tidak dengan Rafa yang memilih tetap menatap ponsel di tangan nya.
__ADS_1
Meski Adi ataupun Alex selalu memperhatikan Arin selama kehamilan nya, entah mengapa ketika ia mengetahui perasaan Adi, Rafa menyimpulkan sendiri perhatian Adi ke Arin dengan pemikirannya yang menganggap itu adalah curahan perasaan Adi yang terdalam. Jika boleh memilih, Rafa ingin tak mendengar apapun tentang perasaan Adi yang membuatnya harus curiga terhadap sahabat nya yang membuatnya cemburu ketika sahabatnya memperhatikan Arin. Rafa terus menepis pikirannya dan mencoba untuk berpikiran positif karena Adi tak mungkin merebut Arin dari nya dqn istrinya tak mungkin akan berpaling untuk menyukai Adi. Perasaan Rafa benar benar berkecamuk usai ia tahu tentang perasaan Adi yang sudah teelanjur dalam untuk Arin. Ia tak ingin pernikahan nya hancur mengingat jika mereka akan memilik anak sebentar lagi, ia juga tak mau persahabatannya dari kecil hancur hanya karena perempuan. Rafa mencoba menjaga perasaan Adi dengan tak menunjukkan sikap manja kepada Arin ketika mereka berkumpul bersama, karena tahu jika Adi merasakan sakit hati dan cemburu melalui percakapan dua sahabatnya di kantin tadi. Ia tak akan memberitahu Arin tentang perasaan Adi yang mungkin akan membuat istrinya menjaga jarak nanti, juga memutuskan untuk tak bertanya apapun pada Adi ataupun Alex. Ia lebih memilih untuk diam dan pura pura tak tahu meski harus merasakan sakit jika melihat istri dan sahabatnya mulai bertemu dan bercanda.