SWEET MARRIAGE

SWEET MARRIAGE
BAB 114


__ADS_3

Pukul 10.00 Adi langsung saja meminta di antarkan pulang oleh Rafa. Restu sudah di tangan, mengiringi langkah laki laki dengan senyum terus menghias itu memasuki rumah.


Dilihatnya wanuta cantik tengah asik menata bunga di dalam ruang tengah. Tanpa pikir panjang, masih dengan suasana hati bermekaran, Adi mencium pipi wanita yang masih berdiri dengan celana jeans sampai lutut tersebut.


" Tumben banget cium Mama? biasanya sampai rumah langsung ke kamar sampai lupa kalau ada orang lain di rumah " celetuk wanita dengan kaos hijau tosca tersebut. menoleh ke arah putranya.


" Berlebihan banget sih, tiap hari juga di cium " gerutu lirih Adi, di balas senyuman Mamanya.


Rafa, Alka, Arin juga Alex menyusul kedalam dan mencium tangan Mama sahabatnya itu. Wajah berekspresi bahagia, ditunjukkan berlebih oleh wanuta masih terlihat cantik dan segar tersebut ketika melihat senyum Alka.


" Cucu nenek " seru Mama Adi meraih tubuh gemuk Alka dalam dekapan sang Bunda.


" Cantik, ke dapur gih bilang Bibi suruh buat makanan sama minuman " lembut Mama Adi ke arah Arin yang masih berdiri memberikan tubuh Alka dengan hati hati.


" Siap Tante " senyum Arin dan pergi ke arah dapur.


Bqik Arin, Rafa ataupun Alex memang sudah seperti anak sendiri bagi keluarga Adi, begitu juga sebaliknya. Setiap orang tua mereka sellu meminta sahabat sahabat anaknya, untuk menganggap rumah sendiri.


" Rafa, kasih resep Adi sama Alex tuh gimna caranya bikin anak kaya Alka " ucap Mama Adi sudah duduk bersama dengan memangku Alka, dan ketiga laki laki di karpet bawah.


" Udah pintar Tante, engga usah di ajari " celetuk Rafa sudah memegang stik play station bersama Alex.


" Kan ada resenya Fa, ajarin dong. Tante juga mau punya cucu kaya Alka gini " ucap kembali wanita dengan tangan mencubit gemas pipi Alka.

__ADS_1


" Lah resep apaan sih Ma? tinggal buka masukin kan beres, jadi deh cucu " celetuk Adi bersandar pada sofa, di pukul keras oleh Mamanya hingga memekik kesakitan.


" Ma, kawin ya " bujuk Adi ke arah Mamanya dengan kepala di atas pangkuan.


" Ya kawin aja, udah gede pada pintar juga " santai Mama Adi masih asik dengan Alka, mengembangkan senyum lebar Adi.


" Langsung kawin Ma? boleh? " tak percaya Adi masih dengan senyum ke arah Mamanya, hanya di simak oleh kedua sahabat sudah asik dengan game mereka.


" Boleh dong nak, Mama kan sayang banget sama Kamu. Tapi, silahkan keluar dari rumah terus coret sendiri nama Kamu dari daftar keluarga sama ahli waris, oke? " lembut kembali Mama Adi, di tertawakan oleh Alex juga Rafa masih menujukan pandangan ke arah TV di hadapan mereka.


" Ya makanya besok lamaran ya Ma, udah engga sabar banget Aku Ma " rengek Adi seperti anak kecil.


" Nunggu Papa pulang dong, Kamu pikir lamaran engga pakai uang apa? " ucap Mama Adi tetap menggoda Alka.


" Adi yang gantengnya nanggung banget, dimana mana itu lamaran, nikah baru kawin. Jadi anak kok bodoh banget sih " celetuk Mama Adi, kembali membuat Alex juga Rafa tertawa walau tetap fokus pada permainan mereka berdua.


Mendengar ucapan Mamanya, Adi membanting bantal sofa di atas pangkuan menunjukkan rasa jengkel. Matanya tertuju ke arah layar TV LED dimana masih asik kedua sahabatnya bertanding dengan game play station milik Adi.


" Tuh? udah lupa? " bisik lirih Mama Adi mengarahkan mata pada Arin yang baru tiba membawa nampan berisi minuman.


" Ada lagi nanya nya, kalau bilang belum salah, kalau bilang udah engga percaya. Mending diam kalau ngomong sama Mama " sahut Adi mengarahkan pandangan ke bawah.


Walaupun seorang laki laki, tapi Adi selalu jujur pada Mamanya akan apa yang Ia rasakan. Sama halnya dengan Alex juga Rafa, yang selalu menjadikan Ibu mereka sebagai teman curhat.

__ADS_1


Arin dengan senyumnya, sudah kembali membawa nampan berisi minuman dan di letakkannya di atas meja dekat suami juga sahabatnya bermain. Perempuan cantik dengan rambut terikat tinggi itu, duduk di samping Mama Adi dengan menggoda putranya.


" Ngantuk deh kaya nya, ajak ke dalam yuk sama Tante " ucap Mama Adi lembut pada Arin, berulang kali melihat Alka menguap.


" Engga usah Tante, biar Aku bantu tidur di sini aja " lembut dan sopan Arin mencoba meraih tubuh putranya.


" Jangan dong, kan Alka pakai ASI jadi kasih di dalam aja. Masa tega sih Kamu engga kasih ASI putra Kamu " ucap kembali Mama Adi penuh kelembutan.


" Bener sayang, mending Kamu bantu Alka tidur di dalam aja kasihan daritadi ngntuk tapi engga bis mulai tidur " celetuk Rafa masih asik dengan stik play station juga mata ke arah layar datar besar di hadapannya.


" Iya deh " singkat Atin menurut.


Arin, Alka juga Mama Adi sama sama pergi ke arah kamar tamu, karena Arin menolak untuk di ajak menidurkan Alka di kamar pribadi Mama Adi. Sedangkan Adi yang menatap kepergian ketiganya, berharap jika nanti Yessy yang akan ada di posisi Arin.


" Bini Lo pintar banget ambil hati orang ya, kagak usah ngapa ngapain semua udah sayang gitu sama Dia " celetuk Adi masih memperhatikan langkah Mama juga seorang yang tengah berusaha Ia lupakan.


" Arin tuh anaknya tulus Di, semua juga pasti bakal sayang banget sama Dia. Kagak usah ngapa ngapain, cuma senyum aja tulusnya udah berasa " celetuk Alex di benarkan oleh Adi.


" Kalau aja tuh anak kagak ada yang punya, Gue rela mati ngejar tuh anak. Biar kata urakan juga, rela Gue " tambah kembali Alex.


" Gue aja mau " lirih Adi.


Rafa tak bergeming sedikitpun dengan ucapan sahabatnya. Tetap dengan mata tertuju pada layar LED di hadapannya, juga tangan sibuk dengan stik tak sedikitpun Rafa menggubris.

__ADS_1


Hanya sebatas mengagumi, tak akan menjadi sebuah masalah bagi Rafa yang terus berusaha mempercayai istrinya, dibalik rasa trauma akan Reta yang juga Ia rasakan. Namun tak dapat di tampik jika memang istrinya cukup layak di jadikan pusat perhatian banyak orang, yang membuatnya terus was was.


__ADS_2