
Setelah menyelesaikan mandi, Adi keluar dengan handuk melilit pada pinggang. Sudah ada Shanum tersenyum ke arahnya dengan membawa kemeja hendak membantu bersiap.
"Aku malas kerja" rengek Adi manja, berjingkrakan seperti anak kecil.
"Kok gitu sih?" aneh Shanum menatap dengan tertawa.
"Aku engga mau kerja yank, aku maunya sama kamu aja di rumah hari ini. Lagian itu kadal berdua ngapain juga datang udah kaya jelangkung aja" ucap Adi menggerutu kesal.
"Sayang, kita kan masih ada banyak waktu. lagian kerja juga sampai sore aja" lembut Shanum berucap sembari membuka kancing kemeja yang ia pegang.
Tetap memajukan bibir kesal dan mengumpat tidak karuan, Adi tetap berdiri seperti anak TK yang dikenakan pakaian oleh Ibunya. Shanum pun mengenakan kemeja berwarna abu tua itu pada suaminya.
Baru dua buah kancing di kancingkan Shanum, pinggangnya diraih oleh Adi mendekat dengan sedikit membungkuk karena tinggi badan berbeda. Wajah dingin usai mandi di dekatkan pada wajah istrinya, sampai hidung mancung laki laki terus menatap kebawah itu menempel pada kening istrinya.
"Sayang, Rafa sama Alex udah nunggu di bawah kan kasihan. Ini juga udah terlalu siang" lembut Shanum dengan wajah merah menundukkan pandangan.
"Biarin aja, siapa suruh gangguin orang baru nikah" santai Adi berucap.
__ADS_1
"Lihat sini dong, masa lihat bawah sih?emang muka aku kaya lantai apa?" protes Adi.
Shanum menaikkan wajah menatap suaminya yang tinggi di hadapannya. Tanpa basa basi langsung saja Adi mengecup lembut bibir Shanum, makin memerahkan wajahnya seperti udang rebus.
"Udah siap panen tuh" goda Adi, menatap wajah memerah istrinya.
"Heh?" tak mengerti Shanum dengan wajah bingung, mengembangkan senyum Adi.
"Wajah kamu udah kaya tomat siap panen merah banget, deg-degan ya?" goda Adi kembali.
"Apaan sih?" senyum Shanum merasa wajahnya sangat panas, dan mendorong lirih tubuh suaminya.
Tersenyum mengatupkan bibir, Shanum kembali melanjutkan untuk membantu suaminya bersiap. Adi yang tak pernah terlihat genit, kini malah melebihi dua sahabatnya ketika menggoda istri cantik berhijabnya.
Tidak segan segan, Adi mendaratkan ciuman dadakan pada istrinya. namun Shanum yang belum terbiasa akan hal itu selalu saja merasa panas dengan wajah memerah.
Awal pertemuan, dikiranya Adi adalah seorang laki laki pendiam karena tidak begitu banyak bicara dan lebih terlihat seperti seorang laki laki dingin dan cuek. Namun setelah menikah, kekonyolan demi kekonyolan juga sikap manja nan genit terus saja keluar menampakkan diri.
__ADS_1
Beberapa waktu bersiap, Adi turun dengan menggandeng istrinya. Setiap anak tangga ditapakinya bersama tanpa sedikitpun melepas tangan berdua.
Rafa dan Alex sudah menggerutu karena Adi bersiap lebih dari satu jam, dan Rafa sudah berulang kali dihubungi oleh Papanya karena hari sudah siang namun belum juga berangkat. Ia hanya berkilah jika jalanan tengah ramai dan akan sedikit telat, tanpa ingin mengatakan sesungguhnya untuk melindungi Adi dari cap buruk papanya nanti.
Walaupun anak sendiri, Papanya memang sangat tegas untuk urusan pekerjaan. Tanpa segan menghukum Rafa ataupun memarahi putra semata wayangnya itu ketika melakukan kesalahan saat bekerja. Begitu juga pada Adi dan Alex.
Memang saat dalam kantor mereka tidak menggunakan hubungan keluarga dan hanya menggunakan hubungan antara atasan dan bawahan. Rafa selalu saja melindungi kedua sahabatnya ketika melakukan kesalahan, agar tak menjadi masalah dalam pekerjaan mereka. Namun Rafa juga tidak segan menegur untuk mengingatkan kedua sahabatnya, agar mereka tak dilepas dan dikirim ke perusahaan keluarga mereka di luar negri.
"Lo mandi apa nyelam lama banget Di?" tegur Rafa melihat Adi tiba dengan wajah tanpa dosa.
"Mandinya orang udah nikah masa lo kagak tau sih Fa? masa gue jelasin sih? kan malu gue" jawab Adi dengan wajah malu malu.
"Emang mandinya orang udah nikah sama manusia beda? kan tadi kamu mandi sendiri yank" polos Shanum menatap Adi yang langsung menutup mulut istrinya dan tertawa paksa.
Rafa dan Alex terbahak tidak henti mendengar ucapan polos Shanum yang membuat Adi gelagapan sendiri. Niat hati ingin pamer pada dua sahabtanya, namun kepolosan juga kejujuran Shanum tidak bisa untuk diajak kerja sama hingga ditertawakan dua sahabatnya.
__ADS_1