
Selesai makan dan melegakan perut, Rafa mengajak semuanya untuk mampir ke rumah Adi sebelum belanja keperluan dapur. Rafa merindukan sahabatnya itu, karena Adi tak pernah lagi terlihat ketempatnya untuk sekedar minum kopi ataupun main game.
Tepat pukul 10.00 kelimanya berangkat ke rumah Adi dengan menggunakan mobil Alex, karena mobil Rafa sudah tertata tempat tidur Alka di baris belakang dan malas untuk melepas lagi.
Beberapa lama perjalanan, mereka pun memasuki halaman rumah Adi dengan pelayan Adi membukakan pagar. Kelimanya di persilahkan masuk dan menunggu di ruang tamu, bersama dengan Mama Adi di sana.
" Kalian langsung ke kamar Adi aja engga apa apa " ucap wanita yang memangku Alka tersebut lembut.
" Engga usah Tante, Kita tunggu di sini aja " sopan Rafa tersenyum.
Alka yang baru bisa berjalan, tak bisa diam dalam pangkuan Mama Adi dan memaksa turun. Bocah kecil dengan setelan pakaian berearna kuning itu di biarkan terus berjalan di ruang tamu, meraih semua yang bisa di raih dengan Bunda nya yang siap mengembalikan kembali.
Terlihat Adi menghampiri dengan rambut acak acakan serta wajah lesu, tak seperti biasanya. Adi yang selalu terlihat segar, tampan dan ceria malah terlihat tak karuan hari ini dan membuat Rafa, Alex dan Viona terkejut, sementara Arin sudah mengikuti putranya hingga ke teras rumah.
" Sehat Lo Di? " tegur Alex memperhatikan laki laki dengan celana pendek dan kaos itu masih berdiri.
" Ngapain? tumben banget Lo semua ke sini? " sahut Adi mengambil duduk di samping Mamanya.
Alex dan Rafa tetap memperhatikan sahabat yang selalu pulang lebih dulu dari kantor ataupun kampus itu. Sahabat yang sudah begitu susah untuk di ajak berkumpul ataupun hanya sekedar berbicara di telpon.
Yessi yang baru tiba menjabat tangan semuanya dan duduk di samping Adi, sementara Mama Adi membiarkan semua berbicara dan menyusul Arin ke depan karena Alka tak mau masuk dengan sibuk sendiri mondar mandir.
" Lo kenapa Di? Kita masih sahabat kan? " tanya Rafa tiba tiba.
" Masih lah, Gue kagak ada waktu buat keluar " santai Adi duduk dengan merapikan rambutnya.
" Lo kagak kaya biasanya Di, lesu banget Lo. Baru bangun Lo jam segini? " sahut Alex memperhatikan.
" Kagak, Gue udah bangun dari tadi cuma tiduran aja di kamar. Ada apaan? " jawab Adi masih santai.
" Lo kagak suka kesini? Kita ganggu ya? Kita balik deh kalau Lo mau istirahat " jawab Alex merasa tak enak mendengar pertanyaan kaku Adi.
__ADS_1
" Kagak, bukan gitu. Gue cuma kaget aja Lo semua tiba tiba kesini " sahut santai Adi.
" Aku buatin minum dulu ya " ucap Yessi beranjak pergi.
" Kagak usah, Bibi udah bikin di dalam. Lagipula Lo hamil jadi jangan banyak gerak, entar Gue yang di omelin " dingin Adi ke arah istrinya, mengejutkan Rafa, Alex dan Viona.
" Lo hamil?! " seru ketiganya ke arah Yessi.
" Iya, baru dua bulan " sahut Yessi tersenyum.
Ketganya memberikan selamat pada Adi juga Yessi. Namun terlihat jelas di wajah Adi bukan seperti seseorang yang bahagia menunggu kelahiran, seperti seseorang yang tengah menunggu kematian dalam ekspresi diam juga dingin.
" Yayah, yayah " seru Alka menghampiri Rafa dengan membawa bunga yang Dia ambil dari taman Adi.
" Anak Ayah, lain kali kasih bunga deposito ya jangan bunga taman, Ayah engga doyan " ucap Rafa meraih tubuh putranya.
" Bapak Lo matre banget " celetuk Alex melirik.
" Anak Kamu tuh yank, engga bisa diam capek Aku " ucap Arin duduk mengatur napas, di seka keringatnya dengan tisu oleh Rafa sambil tersenyum.
" Anak Lo bocah! " celetuk Alex ke arah Arin.
Arin masih mencoba mengatir napas, dengan di tatap semua di ruang tamu. Ke aktifan Alka ketika berjalan sellu sukses membuat Bunda nya kelelahan mengikuti. Karena ketika di biarkan sendiri. Alka akan selalu meraih apapun dan memasukkan ke mulut.
" Yessi, Gue kangen banget sama Lo " sapa Arin beranjak dan memeluk tubuh Yessi.
" Gue juga kangen sama Lo " sahut Yessi tersenyum di pelukan Arin.
" Gila Lo Di sombong banget sekarang, engga pernah main main lagi ke tempat Gue " ucap Arin usai melepas pelukan dqri Yessi dan memukul lutut Adi yang menundukkan wajah.
" Maaf ya Rin, engga bisa datang pas Lo ikut olimpiade " sesal Yessi di balas senyuman lebar oleh Arin.
__ADS_1
" Engga apa apa kali, santai aja udah ada nih berempat bagian teriak teriak " sahut Arin tersenyum dan kembali duduk di samping suami juga anaknya.
" Kita balik deh, kalian berdua istirahat aja" ucap Alex merasa tak nyaman dengan ekspresi Adi yang tak welcome seperti biasa.
" Buru buru banget, kan belum minum " lembut Yessi sopan.
" Mereka mau main, jadi biarin aja " sahut Adi tak enak, kembali semua temnnya saling tatap.
" Engga usah Yes, Kita mau belanja buat dapur dulu. Lain kali mampir lagi kok " sahut Viona tersenyum.
Alex dan Rafa memaksakan senyum mereka merasakan Adi benar benar sangat berbeda dari dulu. Bahkan ucapan Adi yang dingin itu tak jarang membuat Alex juga Rafa merasa tak enak, tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Kelimanya berpmitan untuk pulang, meninggalkan Adi dan Yessi juga Mama Adi mengantar sampai teras rumah. Begitu mobil sahabatnya berllu, cepat Adi masuk dan kembali ke kamarnya diiringi tatapan Mama juga istrinya.
Adi tak pernah memiliki semngat semenjak tak bisa berkumpul dengan sahabat sahabatnya, demi menjaga perasaan Yessi sendiri. Walau tak. pernah ada pertengkaran anatara Adi dan Yessi, namun juga tak. pernah ada kehangatan dalam pernikahan mereka.
Kehamilan Yessi pun tetap tak membuat Adi bersemangat, merasa hidupnya sudah tidak memiliki arti tanpa adanya sahabat dalam hidupnya. Janji pada Yessi untuk tak lagi bertemu dengan Arin, membuatnya terbelenggu akan janjinya sendiri. Baik Mama ataupun istrinya juga melihat jelas perubahan Adi, sama seperti Rafa dan Alex.
Dalm perjalanan, Alex mengemudi dengan Rafa di smpingnya. Mereka masih tk mengerti akan apa yang terjadi pada Adi hingga mengubahnya seperti sekarang. Benar benar berbeda dari Adi yang kocak dan suka bercanda. Ketika Adi mengatakan jika mereka akan main, terlalu menunjukkan sikap tidak enak Adi yang membuat Rafa dan Alex makin merasa aneh.
" Si Adi kenapa sih? " tanya Arin tak mengerti.
" Engga tahu, aneh banget Gue rasa " sahut Viona duduk di samping Arin.
" Tuh anak gila dibikin sendiri Gue rasa, lihat aja tuh muka kaya orang udah mau mati besok aja " celetuk Alex sembari mengemudi.
" Gue heran tapi Lex sama Dia, Kita ada salah? Lo inget inget deh biasanya Lo yang paling sering bikin masalah " ucap Rafa, mendapat protes keras dari ekspresi Alex.
" Enak aja Lo! " protes keras Alex.
Tetap tak mengerti jika alasan Adi menjauh adalah untuk menjaga persaan istri yang memintanya berjanji tak lagi menemui Arin, keempat orang dalam mobil itu terus membahas dan saling bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya.
__ADS_1
Terlalu aneh dan tak di sangka sangka perubahan yang di berikan oleh Adi pada hubungan persahabatan mereka. Namun merek juga tak menyalahkan Adi, dan malah mencari cari sendiri kesalahan apa yang sudah mereka perbuat hingga membuat Adi bersikap begitu.