Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 9


__ADS_3

Jika kamu membiarkan rasa takut tumbuh lebih besar dari imanmu, maka kamu menghalangi impianmu menjadi kenyataan.


~Ay Alvi~


Zeline terus menarik-narik ujung baju ayahnya meminta Ziga untuk mendengarkannya.


"Ada apa Zel?" Ziga bertanya dengan suara pelan membuat semua orang yang berada di sana melihat mereka dengan curiga.


Zeline bingung bagaimana harus menyampaikan pesan Joshua karena semua mata kini memandang ke arahnya.


Sementara Joshua semakin tidak sabar, pria itu terus meminta Zeline untuk membujuk Nadhya agar gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi ke Colorado besok.


"Baiklah, aku pulang," ujar Nadhya berdiri dari duduknya untuk bersiap pergi.


"Aku harus menyiapkan keperluan untuk pergi esok," tambah Nadhya membuat Joshua semakin panik.


Pria itu terus mendesak Zeline agar menghalangi niat Nadhya untuk pergi ke Colorado. Ia tidak ingin wanitanya tersebut mendapat masalah di sana.


"Aunty!' panggil Zeline menghampiri Nadhya dan bermanja-manja dengan wanita itu.


"Ada apa sayang?" tanya Nadhya mengecup puncak kepala keponakannya tersayang.


"Bisakah Aunty menginap di sini?" tanya Zeline, bocah kecil itu sedang mencari cara agar Nadhya tidak meninggalkan rumahnya.


"Ehmm ... Besok Aunty harus pergi jauh sayang. Jadi Aunty harus bersiap-siap," jelas Nadhya membelai kepala Zeline dengan penuh kasih sayang.


"Tapi Aunty ...." Zeline bingung harus bicara apa lagi untuk menahan kepergian Nadhya.


"Menginaplah semalam ini, sudah lama kau tidak bermalam di sini," ucap Ziga membantu putrinya, ia tahu Zeline pasti punya maksud tertentu meminta Nadhya bermalam di kediaman Pratama.


"Benar Nadh, sudah lama kita tidak berkumpul bersama," tukas Via teringat kembali kenangan saat mereka dulu bersama sebagai dua orang sahabat dalam suka dan duka.


Nadhya terdiam, perempuan berusia 27 tahun itu tampak berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju.

__ADS_1


"Baiklah," putus Nadhya, gadis itu mengalah pada keinginan keponakan dan juga sepupunya.


"Yeay, terimakasih Aunty," ucap Zeline mengecup pipi Nadhya sebagai ungkapan terimakasih bocah kecil itu.


Joshua pun akhirnya dapat bernafas lega setelah mendengar keputusan Nadhya. Kini, tinggal bagaimana ia harus menceritakan semua masalahnya pada Ziga karena hanya pria itu yang percaya bahwa Zeline dapat melihat sosoknya.


Demikian pula Ziga, pria itu merasa tenang saat mendengar keputusan sepupunya tersebut. Setidaknya ia masih mempunyai waktu berkomunikasi dengan Joshua untuk mengetahui apakah yang menjadi penyebab kecelakaan yang menimpa pria tersebut.


Saat mereka tengah berbincang di ruang keluarga, Erik pun datang dengan membawa seikat bunga untuk Mia membuat semua yang berada di sana menjadi iri pada gadis itu.


"Wah ... ternyata kau bisa romantis juga ya," ledek Nadhya kepada Erik, gadis itu memang telah mengenal Erik sejak lama. Bahkan sedari kecil mereka sudah bermain bersama.


Erik hanya tersenyum mendengarnya sedangkan Mia tersipu malu, ia tidak menyangka sang kekasih yang terkenal acuh ternyata bisa menjadi romantis seperti ini.


"Tuan, bisakah saya mengajak Mia keluar?" tanya Erik pada Ziga meminta izin untuk membawa pergi kekasihnya tersebut.


"Sudah hampir makan malam, mengapa kau tidak bergabung bersama kami sekalian?" tawar Via mengajak Erik untuk makan malam bersama seluruh anggota keluarga.


Erik tampak ragu mendengar tawaran Nyonya muda Pratama tersebut. Sebenarnya ia ingin mengajak Mia makan malam berdua. Pria itu ingin menikmati waktu bersama sang kekasih selagi Mia berada di kota New York.


Ziga tertawa terbahak-bahak melihat keraguan Erik, pria itu tahu bahwa asistennya sedang dilema antara menerima atau menolak tawaran istrinya tersebut.


Erik pasti berpikir jika ia menolak tawaran Via untuk makan malam dia akan terkena marah mengingat yang mengajak adalah Nyonya rumah atasannya.


"Mommy, mungkin Erik hanya ingin makan malam berdua dengan Mia," ucap Ziga memberi pengertian kepada istrinya. Maklum saja mereka berdua sedari awal bukanlah pasangan yang saling mencintai jadi sebelum mereka menikah tidak ada makan malam romantis atau juga pacaran seperti layaknya pasangan pada umumnya.


Akhirnya Via mengerti apa yang di maksud oleh suaminya. Erik ingin mengajak Mia untuk berkencan, wajar saja Via tidak paham karena sedari awal ia mengenal Ziga tidak ada istilah kencan di antara mereka. Pernikahan atas dasar perjanjian di atas kertas, perpisahan karena kesalahpahaman bahkan hingga kini ia telah memiliki tiga orang putra mereka bahkan belum sama sekali melaksanakan bulan madu mereka.


"Oh ... maaf Erik," sesal Via, wanita itu tidak bermaksud untuk menghalangi kencan mereka.


"Mia, bersiaplah! Nikmati waktu kalian," ujar Via kemudian.


Mia tersipu malu mendengar perkataan Via, namun ia juga bahagia karena pada akhirnya mereka punya waktu berkencan. Gadis itu ingin menikmati kebersamaan mereka sebelum nantinya ia kembali ke Praha.

__ADS_1


"Kau bilang selama ini selalu merasakan kehadiran Joshua?" tanya Ziga memancing pendapat Nadhya saat mereka tengah berada di meja makan.


Nadhya mengangguk masih sembari dengan asyik mengunyah makan malamnya.


"Seperti apa misalnya?" Ziga bertanya lagi karena penasaran, sementara itu Via hanya menyimak percakapan mereka.


Nadhya terdiam, ia tampak berpikir sembari mengingat-ingat apa yang pernah di alaminya.


"Entahlah," jawab Nadhya bingung, gadis itu tidak tahu harus bagaimana menjelaskan apa yang di alaminya.


"Aku hanya merasa ada seseorang yang selalu mengawasiku dari kejauhan." Nadhya menambahkan sambil terus mencoba menggambarkan apa yang selama ini di alaminya.


Mata Nadhya menerawang kembali teringat akan Joshua yang hingga saat ini belum ia yakini bahwa pria itu telah meninggal. Tampak jelas wanita itu belum merelakan kepergian calon suaminya tersebut.


Sementara itu Joshua yang kini berada di samping gadis itu juga bersedih. Selama ini ia memang selalu mengikuti kemana pun Nadhya pergi, pria itu ingin selalu melindungi wanita yang hampir saja menjadi istrinya tersebut. Namun, apalah daya ia bahkan tidak dapat menghibur wanita itu, ia merasa hanya menjadi beban kesedihan untuk Nadhya wanita yang amat di cintainya itu.


Via menggenggam tangan Nadhya mencoba memberi penghiburan kepada sahabat sekaligus sepupu suaminya tersebut. Walau ia tidak mengenal Joshua, tapi ia yakin pria itu adalah laki-laki yang baik mengingat Nadhya amat mencintainya.


Kehilangan orang yang kita cintai memang sungguh berat, apalagi kecelakaan yang menyebabkan Joshua meninggal hanya beberapa jam lagi sebelum pria itu naik ke altar untuk mengucapkan janji sucinya. Mereka bersyukur Nadhya tidak menjadi depresi atau gila karena kejadian yang menimpanya. Walau hingga saat ini wanita itu belum juga mampu untuk membuka hati dan mengisinya dengan nama yang lain.


"Lalu siapa yang akan kau temui di Colorado?" tanya Ziga ingin mengorek informasi dari sepupunya tersebut.


Nadhya menghela nafas, kemudian wanita itu pun menceritakan tentang photo-photo yang telah di temukan secara tidak sengaja oleh detektif suruhannya.


Saat Nadhya menceritakan hal tersebut, tiba-tiba gelas yang berada di sisinya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.


Semua yang berada di sana terkejut dan kebingungan karena letak gelas memang cukup jauh dari sisi meja dan tidak ada yang menyentuhnya.


Hanya Zeline yang tidak terkejut karena bocah kecil itu melihat Joshua dengan sengaja menjatuhkan gelas tersebut dengan wajah yang penuh dengan amarah.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 dan terimakasih juga yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.

__ADS_1


Buat yang belum like Ay tunggu ya, biar Ay tambah semangat buat berkarya.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2