
Kebahagian tidak diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi dari perasaan mensyukuri apa yang dimiliki.
~Ay Alvi~
"Mia, aku dengar nenek Mila sakit? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Aldrich yang tiba-tiba ada di sana membuat Mia mengerutkan keningnya.
"Darimana kau tahu?" tanya Mia penasaran, ia tidak habis pikir bagaimana pria itu dapat mengetahui keadaan sang nenek padahal ia sendiri baru menerima kabar dari Bertha pagi ini.
"A-Aku kebetulan tadi ingin mengunjungi Nenek, tapi salah seorang tetanggamu mengatakan jika nenek pingsan dan di bawa ke rumah sakit ini. Jadi aku segera datang kesini," jawab Aldrich menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana ia bisa mengetahui bahwa nenek gadis itu sedang sakit.
"Terimakasih atas kepedulianmu, tapi aku sendiri belum tahu pasti bagaimana keadaan nenek," ucap Mia mengatakan yang sebenarnya.
"Oh, seperti itu. Aku harap tidak terjadi hal yang buruk terhadap nenek," ujar Aldrich tulus, sejak mengenal Mia pria itu memang sering mengunjungi Nenek Mila untuk melihat keadaannya.
"Aku harap juga begitu," jawab Mia melihat Erik yang tengah berjalan ke arahnya. Sepertinya pembicaraan pria itu dengan sang dokter telah selesai.
"Apa yang di katakan oleh dokter?" tanya Mia penasaran, gadis itu langsung menodong Erik dengan pertanyaan begitu pria itu mendekatinya.
"Nenek kelelahan, beliau terlalu banyak pikiran," jawab Erik menyampaikan apa yang di katakan oleh dokter walau tak sepenuhnya benar. Ia tidak ingin membuat kekasihnya bertambah cemas jika mengetahui keadaan nenek Mila yang sebenarnya.
"Syukurlah jika seperti itu, sebaiknya kau masuk untuk menemui nenek," ucap Via menyarankan Mia untuk terlebih dahulu melihat keadaan nenek Mila.
Mia menurut, gadis itu segera masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan sang nenek yang saat ini tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Anda pasti Nyonya Pratama!" sapa Aldrich mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Via yang kini ada di hadapannya.
"Anda~"
__ADS_1
"Perkenalkan saya Aldrich Kenningstoon, saya adalah rekan bisnis Tuan Mahendra," ucap Aldrich memperkenalkan dirinya kepada nyonya muda itu.
"Tuan Mahendra?" tanya Via tak yakin menyebutkan nama belakangnya yang merupakan nama sang kakek yang kini telah tiada.
"Oh, maksud saya Tuan Jordan, sepupu Nyonya," ralat Aldrich berusaha menjelaskan agar Via mengerti.
"Senang berkenalan denganmu Tuan Kenningstoon," ucap Via menyambut uluran tangan mereka.
"Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa Anda datang kemari Tuan?" tanya Erik kepada Aldrich, pria itu seolah menunjukkan bahwa kehadiran Aldrich sangat tidak di harapkan untuk saat ini.
"Maaf Tuan, aku hanya ingin menjenguk nenek Mila dan sepertinya Mia pun tidak keberatan dengan kedatanganku," jawab Aldrich santai.
"Tapi kehadiranmu tidak di harapkan Tuan Kenningstoon!" tukas Erik pelan, ia sengaja mendekati Aldrich agar hanya pria itu yang mendengar ucapannya.
Aldrich mengepalkan tangannya erat, pria itu tersinggung dengan apa yang di katakan oleh Erik, namun karena ini adalah tempat umum di tambah lagi ada Via di antara mereka membuat Aldrich menahan emosinya dan berusaha tidak meladeni Erik.
"Ini adalah tempat umum, jadi siapapun berhak Tuan," balas Aldrich tak mau kalah, walau keduanya berbicara dengan suara pelan, tapi aura permusuhan yang di pancarkan oleh mereka tertangkap oleh Via yang berdiri tak jauh dari kedua pria itu.
Walau tidak rela Erik tetap mengikuti perintah sang Nyonya, pria itu pergi meninggalkan rumah sakit untuk menjemput sang Tuan Muda di kediaman Via.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" tanya Via kepada Aldrich begitu Erik pergi meninggalkan mereka.
"Tidak ada Nyonya, mungkin asisten Anda tidak menyukai keberadaan saya," jawab Aldrich menutupi apa yang terjadi sebenarnya. Ia tahu bahwa ketidaksukaan Erik kepadanya adalah karena masalah Mia. Aldrich juga tahu saat ini gadis itu telah menjadi kekasih Erik dan sejujurnya ia juga tidak berniat untuk merebut Mia, walau ia sendiri masih belum bisa merubah perasaannya kepada gadis itu.
"Di mana Erik Aunty?" tanya Mia yang telah keluar dari ruangan tempat nenek Mila di rawat. Gadis itu langsung menanyakan sang kekasih begitu tidak melihat kehadiran Erik di sana.
"Aunty meminta Erik untuk menjenguk Uncle Ziga," jawab Via menjawab pertanyaan Mia apa adanya.
__ADS_1
"Mia, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Aldrich mengambil kesempatan saat Erik tidak berada di sisi gadis itu. Ia khawatir jika Erik akan melarang Mia untuk bicara dengannya jika melihat sikap pria itu yang sedikit posesif terhadap gadis di hadapannya kini.
"Kalian bicaralah! Aunty masuk ke dalam untuk melihat keadaan nenek," ucap Via memberi kesempatan keduanya untuk berbicara dan tak ingin ikut campur masalah anak muda.
"Ada apa Aldrich?" tanya Mia ketika hanya ada mereka berdua di luar ruangan.
"Bagaimana dengan tawaranku?" Aldrich balik bertanya tidak menjawab pertanyaan gadis itu.
"Tawaran?" pertanyaan kembali terlontar dari mulut Mia karena ia belum memahami apa yang di maksud oleh Aldrich.
"Tentang kesempatan magang di perusahaan," jawab Aldrich menjelaskan arah pembicaraan mereka. Ia sangat berharap gadis itu dapat bekerja di perusahaan miliknya. Selain Mia memang pintar, ia juga berharap dapat berjalan berkesempatan untuk mengenal lebih dekat gadis yang membuatnya penasaran tersebut.
"Oh, masalah itu. Aku sudah mengajukan permohonan untuk magang di perusahaanmu," jawab Mia jujur, ia memang berniat untuk magang di perusahaan milik Aldrich yang selama ini membantu kuliahnya lewat program beasiswa yang di adakan perusahaan tersebut.
"Benarkah?" tanya Aldrich setengah tak percaya, pasalnya ia belum menerima laporan tentang pengajuan proses magang Mia.
Mia mengangguk menjawab pertanyaan Aldrich, gadis itu memang hanya tinggal menunggu panggilan dari perusahaan milik pria itu.
"Mengapa kau tidak langsung ajukan padaku?" tanya Aldrich, " Dengan begitu bisa langsung aku terima," ucap Aldrich sedikit menyesal karena Mia tidak meminta bantuan kepadanya agar gadis itu lebih mudah masuk ke dalam perusahaan miliknya tersebut.
"Mana boleh seperti itu," tukas Mia tidak setuju dengan ucapan Aldrich, gadis itu tidak ingin mengambil jalan pintas untuk pekerjaan yang akan di ambilnya.
Walaupun ia mengenal Aldrich, tapi ia tidak ingin pria itu ikut campur yang tidak seharusnya. Mia lebih memilih melalui jalur formal dengan mengajukan CV untuk dapat magang di perusahaan milik Aldrich. Ia ingin di terima karena kualitas dirinya bukan karena ia mengenal Aldrich sebagai pemilik perusahaan itu.
"Kenapa tidak?" tanya Aldrich tidak mengerti mengapa Mia tidak ingin ikut membantu.
"Aku ingin di terima karena aku memang pantas untuk berada di perusahaanmu, bukan karena aku mengenalmu," jawab Mia membuat Aldrich semakin kagum kepada gadis belia itu.
__ADS_1
Rasanya akan semakin sulit bagi Aldrich untuk menghapus rasa cintanya ketika ia begitu mengagumi sikap Mia yang dewasa dan juga terpelajar.
Andai masih ada kesempatan, batin Aldrich.