
Sabar dan bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi adalah salah satu cara untuk mendapatkan kebahagian.
~Ay Alvi~
"Mommy jangan pergi, jangan tinggalkan Daddy," ucap Ziga yang mempererat pelukan kepada sang istri.
"Mommy harus pergi, tadi Daddy sendiri yang bilang kalau Mommy bisa pergi dengan Erik," sahut Via berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya tersebut.
Namun, Ziga tidak membiarkan Via melepaskan dirinya. Ia semakin mempererat pelukan terhadap istrinya karena takut Via akan pergi meninggalkannya.
"Daddy mau bunuh Mommy ya?!" tanya Via kesal karena Ziga memeluknya terlalu keras sehingga membuat wanita itu kesulitan untuk bernafas.
"Maafkan Daddy, Mom," sesal Ziga melonggarkan pelukannya, namun tetap tidak melepaskan tangan sang istri dari genggamannya.
"Iya, Mommy maafkan Daddy, tapi lepaskan dulu tangan Mommy," ujar Via menarik tangan dari genggaman suaminya.
"Tapi Mommy jangan pergi!" mohon Ziga tak ingin Via meninggalkannya.
"Tadi Daddy bilang Mommy boleh pergi dengan Erik," ucap Via berkacak pinggang di hadapan suaminya. Ia tak mengerti mengapa sang suami kini melarangnya untuk pergi ke Praha.
"Daddy pikir Mommy hanya ingin pergi berbelanja, makanya Daddy bilang minta antar Erik saja," ucap Ziga jujur dengan apa yang di dengarnya.
"Daddy, Mommy bilang mau ke Praha bukan belanja!" ujar Via membelalakkan matanya setelah mendengar apa yang di katakan oleh suaminya.
"Praha?" tanya Ziga terkejut, pria itu kembali menarik sang istri dan memeluknya dengan erat.
"Daddy kenapa sih?" tanya Via yang bingung dengan sikap suaminya tersebut.
__ADS_1
"Mommy jangan tinggalkan Daddy, kalau Daddy ada salah, Daddy minta maaf tapi jangan tinggalkan Daddy," jawab Ziga masih dengan memeluk istrinya itu.
"Hahaha," Via tertawa terbahak-bahak setelah mendengar jawaban suaminya itu membuat Ziga melonggarkan pelukannya dan menatap Via dengan menautkan kedua alisnya.
"Apa yang Mommy tertawakan?" tanya Ziga kebingungan, pria itu tidak tahu apa yang membuat sang istri tertawa terbahak-bahak.
Via tidak menjawab, wanita itu mencium sekilas bibir suaminya. Entah mengapa wanita itu merasa gemas dengan sikap sang suami yang posesif kali ini. Dulu ia tidak suka dengan sikap posesif Ziga yang kelewatan, tapi kali ini sikap suaminya tersebut dapat menjadi hiburan tersendiri bagi ibu tiga orang anak itu.
"Mommy ke Praha untuk menjenguk nenek Mila, Daddy sayang," ucap Via memberi pengertian kepada suami tercintanya itu.
"Apa yang terjadi dengan nenek Mila?" tanya Ziga menggaruk tengkuknya merasa malu karena telah salah sangka kepada sang istri Via.
"Mia dapat kabar kalau nenek Mila pingsan dan saat ini tengah di rawat di rumah sakit," jawab Via kembali melanjutkan membereskan baju yang akan di bawanya.
"Apa?! Rumah sakit? Kalau begitu ayo kita cepat ke sana," ujar Ziga yang langsung bangkit dan ikut bersiap-siap.
Akhirnya seluruh keluarga Pratama beserta dengan Erik juga terbang ke Praha untuk menjenguk nenek Mila. Sepanjang perjalanan Mia terus menangis memikirkan keadaan nenek yang sangat di sayanginya tersebut.
"Tapi, aku takut. Aku takut kalau nenek~"
Erik meletakkan telunjuknya di atas bibir Mia, ia tidak ingin kekasihnya itu melanjutkan ucapannya. Ucapan adalah doa jadi Erik berharap Mia tidak berbicara yang buruk tentang neneknya.
"Percaya pada Tuhan, semua sudah ada takdirnya," ucap Erik bijak, pria itu tidak mau kekasihnya menebak-nebak apa yang telah menjadi keputusan Tuhan karena Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk setiap umatnya.
Mia mengangguk kemudian memeluk tubuh Erik, gadis itu bersyukur memiliki kekasih yang jauh lebih dewasa daripada dirinya. Pemikiran pria itu lebih matang karena telah lebih dulu mengalami pahit manisnya kehidupan.
Erik mengecup puncak kepala Mia, ia memang harus lebih pandai membimbing gadis yang usianya terpaut jauh dengannya itu. Mia masih remaja jadi pemikiran gadis itu sesuai dengan usianya. Erik berharap perbedaan usia ini tidak membuat cinta mereka memudar, semoga saja mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan walaupun Erik harus bersabar menunggu gadis itu menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah menempuh satu jam lebih penerbangan dengan menggunakan pesawat jet pribadi milik keluarga Pratama, akhirnya Mia dan juga keluarga kaya itu tiba di Praha. Mereka langsung menuju rumah sakit tempat di mana nenek Mila di rawat.
"Aunty, bagaimana keadaan nenek?" tanya Mia kepada salah seorang tetangganya yang membantu gadis itu untuk membawa nenek Mila ke rumah sakit setelah menemukannya tergeletak pingsan di lorong apartemen mereka.
"Mia, akhirnya kau tiba juga," ucap wanita berusia tiga puluh tahunan itu yang memang telah lama mengenal Mia dan juga nenek Mila.
"Bagaimana dengan nenek Aunty?" Mia kembali bertanya karena gadis itu mengkhawatirkan keadaan sang nenek yang saat ini masih berada di ruang ICU.
"Sebaiknya kau tanya dokter, Aunty sendiri tidak terlalu jelas," ucap Bertha dengan cemas.
"Biar aku yang bertanya pada dokter," sela Erik di tengah perbicangan mereka, ia tahu kekasihnya tersebut terlalu panik sehingga tidak dapat berpikir dengan jelas.
"Sabar ya sayang. Kita berdoa semoga nenek hanya kelelahan," ucap Via menepuk bahu Mia mencoba untuk menenangkan gadis itu.
Ia ikut dengan Mia ke rumah sakit terlebih dahulu, sementara Ziga membawa Ayu sang ibu dan ketiga anak mereka menuju rumah yang pernah di tinggali oleh Via selama mereka berada di Praha.
Erik pun segera menemui dokter yang bertugas untuk menanyakan tentang keadaan nenek Mila yang saat ini terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. Usia nenek itu sendiri belum terlalu tua, hanya saja akibat operasi gagal jantung yang pernah di jalaninya membuat kesehatan wanita berumur tujuh puluh tahun itu sedikit berkurang.
"Nyonya, terimakasih atas bantuan Anda," ucap Via kepada Bertha, ia bersyukur masih ada orang seperti Bertha yang perduli pada orang lain di zaman seperti ini.
"Tidak perlu berterima kasih Nyonya, kami bertetangga sudah sewajarnya saling membantu," ujar Bertha tulus.
"Maaf Mia karena kau sudah ada di sini, Aunty pamit pulang. Masih ada yang harus Aunty kerjakan di rumah," ucap Bertha pamit kepada Mia, ia masih harus mengurus putra di tinggalkan di apartemen.
"Terimakasih Aunty," jawab Mia memeluk tubuh Bertha, gadis itu benar-benar merasa bersyukur karena ada wanita itu yang menolong neneknya.
Setelah melepaskan pelukan dari Mia, Bertha pun pamit kepada Via untuk segera kembali ke apartemennya.
__ADS_1
"Mia, aku dengar nenek Mila sakit? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Aldrich yang tiba-tiba ada di sana membuat Mia mengerutkan keningnya.
"Darimana kau tahu?" tanya Mia penasaran, ia tidak habis pikir bagaimana pria itu dapat mengetahui keadaan sang nenek padahal ia sendiri baru menerima kabar dari Bertha pagi ini.