Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 16


__ADS_3

Bukan mereka yangmempunyai segalanya, tapi mereka yang mempunyai hati yang sempurna yang bisa membuat kita benar-benar bahagia.


~Ay Alvi~


Di salah satu kamar di kediaman keluarga Pratama, tepatnya kamar yang di tempati oleh Nadhya. Gadis itu belum juga tertidur, ia tidak dapat memejamkan matanya. Nadhya kembali teringat akan Joshua. Teringat sentuhan pria itu dan juga teringat semua kenangan saat mereka bersama.


"Josh, aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Nadhya berkata dengan lirih, matanya juga berkaca-kaca teringat kembali akan kenangan indah saat mereka bersama.


"Aku lebih merindukanmu sayang," jawab Joshua yang tidak akan pernah terdengar di telinga kekasih hatinya itu.


Joshua merasakan kepedihan yang mendalam saat bulir-bulir air mata mengalir membasahi wajah Nadhya. Ingin rasanya pria itu membelai rambut sang kekasih dan memberi penghiburan pada gadis itu. Namun, apalah daya kini ia hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuh wanita yang hampir


saja menjadi istrinya tersebut.


Via terbangun dari tidurnya kemudian menghampiri sang suami yang masih berdiri di balkon. Ia merasa ada banyak beban pikiran yang membuat Ziga belum juga tidur padahal waktu telah menunjukkan lewat dari tengah malam.


"Apa yang Daddy pikirkan?" tanya Via melingkarkan lengannya di pinggang Ziga dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.


"Daddy memikirkan masalah Joshua," jawab Ziga menarik sang istri ke depan dan kini berbalik ia yang memeluk Via dan meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Apa ini tentang pria yang ada di dalam photo itu?" tanya Via lagi, ia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada calon suami sahabatnya Nadhya.


"Hemnmm," hanya gumaman yang keluar dari mulut Ziga, pria itu memejamkan mata sambil terus berpikir tentang apa yang harus ia lakukan.


"Siapa sebenarnya orang itu?" Via kembali bertanya kali ini dengan membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Ziga.


"Entahlah, namun sepertinya bukan orang sembarangan," jawab Ziga, ia belum berani mengungkap siapa orang tersebut sebelum mendapat keterangan yang jelas.


"Lalu apa yang akan Daddy lakukan?" tanya Via lagi, sebenarnya ia tidak terlalu mengerti akan masalah Nadhya dan Joshua. Apalagi Via belum pernah bertemu dengan kekasih gadis itu.

__ADS_1


Ziga terdiam, ia tidak mampu menjawab pertanyaan istrinya karena memang ia belum merencanakan apa-apa.


"Masih belum tahu," jawab Ziga membelai kepala sang istri yang kini telah bersandar di dadanya.


"Daddy tidak ingin melibatkan Zeline, dia masih terlalu kecil," ucap Ziga semakin erat memeluk istrinya.


Via juga memikirkan hal yang sama seperti yang di pikirkan oleh suaminya. Zeline putrinya masih terlalu kecil untuk terlibat hal seperti itu. Namun, ia juga tidak dapat menutup mata atas masalah yang menimpa Joshua karena ini menyangkut dengan kebahagiaan Nadhya.


Nadhya adalah sahabat terbaiknya, lewat gadis itu lah Via akhirnya dapat mengenal Ziga hingga kini pria itu menjadi suaminya. Menjadi orang yang paling berarti dalam hidupnya tentu saja setelah ketiga putra dan putrinya.


Bagi seorang ibu tentunya anak adalah yang paling utama melebihi seorang suami. Maka dari itu Via sedikit khawatir ketika Zeline yang baru saja berusia lima tahun harus terlibat masalah orang dewasa yang cukup pelik. Via tampak berpikir sebentar kemudian wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu.


"Mengapa tidak minta bantuan Kak Jordan?" tanya Via membalikkan tubuhnya menatap mata amber milik suaminya.


"Jordan? Sepupu Mommy?" tanya Ziga memastikan bahwa yang di maksud oleh sang istri adalah orang yang sama.


"Iya Kak Jordan, setahu Mommy sedari kecil ia bisa melihat hal seperti itu," jawab Via meyakinkan suaminya.


"Dulu, ketika kami main bersama Kak Jordan selalu mengatakan bisa melihat seseorang yang kami tidak lihat, namun sewaktu itu Mommy tidak terlalu percaya dan tidak mengerti juga. Mommy kira Kak Jordan hanya bercanda hingga ada satu kejadian di sebuah rumah duka dan Kak Jordan dapat berkomunikasi dengan arwah orang yang meninggal itu sama halnya seperti Zel." Via menjelaskan panjang lebar bagaimana Jordan juga memiliki kelebihan yang sama seperti yang di miliki oleh Zeline putrinya.


Terlintas kembali kenangan-kenangan masa kecilnya dengan Jordan yang dapat membuat bulu kuduk wanita itu merinding. Via tidak menyangka kini putrinya memiliki kelebihan seperti itu. Mungkinkah ini semacam garis keturunan?


Entahlah hanya Tuhan yang mampu menjawab itu semua.


Via bukan menolak anugerah yang Tuhan berikan lewat kelebihan putrinya, namun ia takut dan khawatir jika Zeline tidak mampu memanfaatkan kelebihan itu. Ia juga takut kalau-kalau nantinya kelebihan bocah itu bisa membawa petaka bagi putri kecilnya yang belum mengerti apa-apa.


"Sepertinya Daddy harus secepatnya menghubungi Jordan, kita tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut hingga lama," ucap Ziga.


"Benar, kasihan Nadhya dan Joshua. Mereka pantas bahagia," ujar Via mendukung ucapan suaminya tersebut.

__ADS_1


"Kapan mereka kembali ke New York?" tanya Ziga yang mengetahui bahwa saat ini Jordan dan Sera sedang berada di Indonesia untuk mengunjungi Weny ibu Jordan dan juga makam ibu dan Rio kakak Sera.


"Seharusnya nanti siang mereka sudah tiba," jawab Via yang memang mengetahui bahwa hari ini penerbangan yang membawa sepupunya tersebut dari Indonesia ke New York akan tiba hari ini.


"Baiklah, nanti akan aku minta Erik untuk menjemput mereka, kapan penerbangan mereka tiba?" tanya Ziga lagi, ia sudah tidak sabar ingin membicarakan masalah ini dengan Jordan yang pastinya lebih mengerti ketimbang Zeline.


"Sepertinya sebelum makan siang mereka sudah tiba, mungkin sekitar jam sebelas," jawab Via memperkirakan waktu Jordan tiba di bandara.


"Hemm." Ziga bergumam menanggapi perkataan Via.


"Ayo sekarang kita istirahat, Mommy tidak mau Daddy terlalu lelah," ucap Via mengajak suaminya untuk tidur karena kini waktu sudah dini hari.


Siang itu di bandara John F. Kennedy, Erik telah menunggu kedatangan Jordan dan Sera. Pria itu menuruti perintah sang tuan muda untuk segera membawa sepupu nyonya muda ke kediaman Pratama.


Namun, ternyata yang datang tidak hanya Jordan dan Sera, Weny juga turut serta bersama mereka. Wanita yang masih tampak cantik walaupun sudah berumur itu tersenyum ramah saat melihat Erik datang menjemput mereka.


"Selamat siang Tuan Jordan, Sera, Nyonya Weny!" sapa Erik kepada ketiga orang tersebut.


"Siang Erik," jawab mereka berbarengan.


Erik pun segera membantu untuk membawakan koper milik Weny, sedangkan milik Sera telah di bawakan oleh Jordan. Sera memandang gugup ke arah Erik. Jujur wanita itu masih memiliki sedikit perasaan pada pria yang telah menjadi cinta pertamanya.


Namun, gadis itu juga sadar jika Erik tidak akan pernah menjadi miliknya. Dan kini ia akan membuka hati untuk Jordan, walau ia belum menjawab pernyataan cinta pria itu. Akan tetapi melihat ketulusan dan kesungguhan Jordan membuat hati Sera sedikit demi sedikit luluh, apalagi Weny ibu dari pria tersebut juga menerima keadaan dirinya apa adanya.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 jangan lupa untuk like, coment dan juga votenya ya.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘

__ADS_1


__ADS_2