Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 36


__ADS_3

Tiada seorang pun yang dapat mengatur cerita perjalanan hidupmu, kecuali dirimu sendiri dengan segala ketentuanNya.


~Ay Alvi~


"Sebaiknya kau naik duluan!" perintah Ziga kepada Jordan, membiarkan pria itu lebih dulu di tarik oleh Erik karena hanya mereka berdua yang masih berada di dalam sumur tua tersebut.


"Tapi ...."


"Tidak usah membantah!" tegas Ziga tidak ingin lagi ada penolakan dari Jordan. Ia kemudian segera mengikatkan tambang tersebut ke pinggang sepupu istrinya itu.


Jordan awalnya ingin menolak karena ia tahu keadaan di bawah sini juga berbahaya. Apalagi di dalam sumur tersebut tidak hanya ada hantu Joyce tetapi ada makhluk lain yang tidak dapat di lihat oleh mata Ziga.


Karena Ziga memaksa akhirnya Jordan mengalah, pria itu naik ke atas terlebih dahulu.


"Berhati-hatilah!" pesan Jordan kepada suami sepupunya tersebut.


Ziga mengangguk, ia mengikat kencang tali di pinggang Jordan. Kini, tinggal pria itu di dalam sumur sendirian. Tiba-tiba ia merasa bulu kuduknya seketika berdiri. Ziga menoleh ke belakang saat ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya.


Sementara itu di gua, suara letusan senjata kembali terdengar membuat Daniel semakin mencengkram tubuh Nadhya hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Ayo cepat!" bentak Daniel yang ketakutan setelah kembali terdengar letusan senjata di mulut gua. Pria itu berpikir sepertinya Howard sang atasan telah kehilangan nyawanya mengingat dua kali suara senjata api terdengar di telinga pria itu.


Walau telah lelah dan sudah tidak tahan lagi, namun Nadhya hanya bisa pasrah pada kelakuan Daniel yang kasar karena tangannya terikat serta mulutnya tersumpal. Ia berjalan tertatih menghindari bebatuan tajam di lantai gua.


"Uncle mana Daddy?" tanya Zeline kepada Jordan yang baru saja tiba di atas. Bocah perempuan itu khawatir karena sang ayah belum juga muncul di permukaan.


"Daddy masih di bawah sayang, tunggu sebentar Uncle akan membantu Daddy," jawab Jordan mengusak rambut keponakannya itu.


"Tuan bersiaplah!" teriak Erik dari atas permukaan sumur sembari melempar kembali tali tambang tersebut ke dalam sumur.


Di dalam sumur Ziga tidak menjawab, pria tengah melihat keadaan di sekeliling yang entah mengapa terasa sangat mencekam. Pria itu terkejut saat di kegelapan ia melihat sepasang mata berwarna merah menyala tengah menatap ke arahnya.

__ADS_1


Ziga mundur ke belakang hingga tubuhnya menabrak dinding sumur ketika sepasang mata itu semakin mendekat. Ia bukan pria penakut akan tetapi berhadapan dengan yang seperti ini adalah hal yang baru baginya. Selama ini hidupnya tidak pernah menjumpai hal-hal yang berbau mistis, namun sejak ia mengetahui Zeline sang putri memiliki kelebihan lain ada saja kejadian di luar nalar yang singgah di hidupnya.


"Di mana Nona Nadhya?!" Marco berteriak bertanya kepada Howard yang kini telah tertangkap.


Pria itu tidak dapat melarikan diri lagi karena kedua kakinya telah tertembak.


"A-Aku tidak tahu, tolong ... tolong aku," pinta Howard yang saat ini ketakutan, pria itu masih melihat keberadaan Joyce yang terus menghantuinya.


"Apa maksudmu?! Cepat katakan di mana Nona!" Marco kembali bertanya bahkan kali ini pria tersebut memukul wajah Howard yang meringis menahan sakit dan juga rasa takutnya.


"Jangan ... jangan ganggu aku lagi! kau sudah mati," ucap Howard tidak memperdulikan pertanyaan Marco. Lelaki itu lebih takut kepada Joyce yang terlihat sangat menyeramkan dengan wajah rusak dan seluruh tubuh hangus terbakar.


Bahkan dengan kedua kaki yang tertembak pria itu masih mencoba untuk melarikan diri dengan merayap di atas tanah. Marco mulai hilang kesabarannya, pria itu menodongkan pistol ke kepala Howard karena pria itu terus saja bicara tak karuan tidak menjawab pertanyaan tentang di mana Nadhya berada.


Sepasang mata merah yang menatap Ziga semakin mendekat, sosok itu terus menghampiri Ziga yang telah terpojok menempel di dinding sumur. Pria itu mencoba memicingkan matanya karena keadaan yang gelap membuat Ziga tidak dapat melihat jelas makhluk seperti apa yang ada di hadapannya tersebut.


Tali tambang yang Erik lemparkan tiba di bawah. Dengan segera Ziga membelitkan tali tersebut di pinggangnya. Ia mengikat dengan kencang tubuhnya sendiri sambil sesekali matanya mengawasi tatapan dari mata merah tersebut.


Erik mulai menarik tali yang mengikat tubuh Ziga dengan perlahan. Entah mengapa ia merasa tubuh sang tuan muda tampak lebih berat dari yang lainnya. Padahal setahu Erik postur tubuh Ziga tidak jauh beda dengan Jordan ataupun Joshua yang telah mereka tarik lebih dulu ke atas, tetapi mengapa rasanya berat pria itu lebih dari dua kali lipat yang lainnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Jordan setelah melihat Erik dan kelima anak buahnya nampak kesusahan.


"Entahlah, sepertinya sangat sulit menarik tubuh tuan muda," jawab Erik meringis karena pria itu berusaha sekuat tenaga untuk menarik tubuh Ziga ke atas.


"Ayo keluarkan semua kekuatan kalian!" teriak Jordan memberi semangat, pria itu pun ikut membantu untuk menarik tambang tersebut.


Benar apa yang di katakan oleh Erik, ternyata menarik tubuh Ziga tidaklah mudah. Ia curiga ada sesuatu yang terjadi di bawah sana yang menyebabkan tubuh pria itu menjadi jauh lebih berat dari kebanyakan orang normal yang berpostur sama seperti dirinya.


"Jatuhkan senjatamu jika kau tidak ingin wanita ini mati!" ancam Daniel yang tiba-tiba saja muncul dengan membawa Nadhya dan menodongkan senjata ke kepala gadis tersebut.


Marco terkejut saat melihat Nadhya yang kini tengah di ancam dengan tangan terikat. Akhirnya Marco membuang senjatanya karena tidak berani ambil resiko ketika Nadhya di jadikan sandera oleh Daniel.

__ADS_1


"Perintahkan seluruh anak buahmu untuk membuang senjata mereka!" tukas Daniel tidak ingin ada yang menodongkan senjata ke arahnya maupun ke arah Howard yang kini tengah merangkak dan meringis kesakitan.


"Buang senjata kalian!" titah Marco kepada seluruh anak buahnya, pria itu terpaksa mengikuti perintah Daniel karena tidak ingin Nadhya terluka.


Semua anak buah Marco pun menuruti perintah pria itu. Masing-masing melemparkan senjata mereka ke tanah. Tidak ada yang berani bertindak karena nyawa Nadhya menjadi taruhannya.


"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya Daniel kepada Howard yang saat ini tengah merangkak di tanah.


"Pergi! Cepat pergi! Jangan menggangguku!" teriak Howard ketakutan karena ia masih saja melihat sosok Joyce terus menghampiri mendekatinya.


Mendengar teriakan Howard membuat Daniel kebingungan, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah yang Howard lihat. Namun, Daniel tidak melihat apapun di sana.


Dan Duarr ....


Marco segera melesakkan pelurunya ke kepala pria tersebut ketika Daniel lengah membuat pria itu kini terkapar tidak bernyawa. Ia juga memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Howard yang kini lebih mirip orang gila.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Marco kepada Nadhya membantu melepaskan dasi yang menyumpal mulut gadis itu dan tali yang mengikat tangannya.


Di atas sumur, akhirnya dengan susah payah Erik, Jordan dan kelima anak buahnya berhasil mengangkat tubuh Ziga ke atas.


"Uncle siapa? Di mana Daddy Zel?" tanya Zeline membuat yang semuanya saling berpandangan kebingungan karena tidak mengerti apa yang di maksud oleh bocah kecil itu.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2