Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 31


__ADS_3

Sukses adalah menyukai diri sendiri, menyukai apa yang kamu lakukan, dan menyukai bagaimana kamu melakukannya.


~Ay Alvi~


"Coba tekan tombol yang ada di belakang nakas!" perintah Albert yang baru saja ingat bahwa ada jalan rahasia yang terdapat di balik dinding kamar itu.


Jordan pun menuruti apa yang di katakan oleh Albert, pria itu segera menekan tombol yang terdapat di belakang nakas setelah ia menggesernya.


Duargghhh ....


Suara ledakan terdengar hingga ke telinga Howard yang berada di dalam hutan rimba. Merasa puas pria itu tersenyum bahagia, bersama dengan Daniel yang juga ikut tertawa membayangkan kekalahan Ziga dan kawan-kawan.


Sementara itu Erik dan kelima orang anak buahnya yang tadi ikut berupaya menjinakkan bom sedikit terluka terkena pecahan kaca yang hancur dari bangunan tersebut. Beruntung mereka sempat berlari menjauh dari bangunan dan berlindung dari ledakan bom yang amat dahsyat tersebut.


Marco sendiri terkejut begitu mendengar suara ledakan, pria itu segera menghubungi Erik untuk mengetahui keadaan pria itu di sana.


"Apa yang terjadi?" tanya Marco dengan nada cemas karena pria itu tahu ledakan itu berasal dari tempat di mana Erik dan yang lainnya berada.


"Bom yang terpasang di pintu tempat Tuan Muda di sekap meledak," jawab Erik dengan nafas sedikit tersengal, pria itu masih mengatur nafasnya karena baru saja berlari untuk menghindari ledakan bom.


"Lalu, bagaimana keadaan Tuan Muda?" tanya Marco khawatir, pria itu berharap Ziga dan yang lainnya dapat selamat dari ledakan tersebut.


"Aku belum mengetahui keadaan Tuan Muda, tapi sinyal yang di kirimkan Tuan Ziga menandakan bahwa Tuan Muda selamat," jawab Erik, ia sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin dengan keadaan Ziga. Hanya saja sinyal darurat dari atasan sekaligus sahabatnya itu masih dapat ia terima walau sedikit lemah.


"Kalau begitu kau cari Tuan Muda melalui sinyal yang terpancar, aku dan yang lainnya akan meneruskan pencarian Howard," ucap Marco yang kemudian segera mematikan ponselnya.


Marco tetap melakukan pencarian walau malam telah gelap. Namun, karena mereka tidak menguasai medan pencarian membuat pria itu dan anak buahnya sedikit kesulitan.

__ADS_1


Erik mengikuti apa yang di ucapkan oleh Marco, pria itu menyisir sepanjang reruntuhan untuk mencari kebenaran Tuan Mudanya. Mereka juga terpaksa menggunakan senter karena penerangan terputus akibat ledakan bom yang lumayan dashyat.


Di sebuah lorong sempit di bawah reruntuhan bangunan, Jordan tampak memapah tubuh Joshua yang masih lemah. Pria itu mengikuti Albert yang memimpin jalan di depan dengan kursi rodanya. Sedangkan Ziga menggendong sang putri berada di urutan paling belakang.


Mereka berjalan sedikit merayap karena cahaya penerangan yang kurang. Lorong di dalam ruang bawah tanah itu ternyata sangatlah panjang dan hanya di lengkapi dengan lampu tempel sebagai penerangan.


Albert sedikit kesusahan karena menggunakan kursi roda di jalan yang tidak begitu rata tersebut. Sesekali Jordan membantu kakek tua itu mendorong kursi roda yang di naikkinya.


Joshua sendiri sudah sedikit banyak mencoba untuk berjalan sendiri walau hanya beberapa langkah pria itu harus terhenti karena lelah. Hanya Ziga yang masih menggendong tubuh Zeline karena keadaan putrinya masih sedikit lemah.


"Dad!" panggil Zeline dari belakang punggung ayahnya. Bocah kecil itu mendekatkan wajahnya ke wajah sang ayah.


"Ada apa sayang?" tanya Ziga sedikit menoleh kebelakang tanpa menghentikan langkahnya.


"Aunty Nadhya ...." Zeline tidak meneruskan kalimatnya, bocah itu kembali melihat sesuatu yang tidak dapat di lihat oleh orang-orang di sekitarnya.


Jordan yang berjalan di depan Ziga tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat pria yang tengah menggendong Zeline itu menabrak tubuhnya tak sengaja.


"Ada apa?" tanya Ziga terkejut karena tiba-toba saja sepupu istrinya tersebut berhenti melangkah padahal tidak ada apa-apa di hadapannya. Bahkan Albert yang menggunakan kursi roda sudah berjalan sedikit jauh dari mereka.


Joshua juga kebingungan melihat Jordan yang hanya diam mematung tak bergerak. Pria itu tidak tahu apa yang terjadi yang membuat mata Jordan menatap nanar ke arah ruang kosong di hadapan yang gelap.


"Apa maumu?" tanya Jordan pada sosok yang hanya bisa dilihat oleh dirinya dan juga Zeline.


Suara tawa menakutkan yang sanggup membuat bulu kuduk merinding terdengar di sepanjang lorong yang gelap tersebut. Suara itu tidak hanya terdengar oleh Jordan dan Zeline, mereka semua yang ada di sana ikut mendengarnya. Bahkan Albert pun menghentikan kursi rodanya dan menoleh kebelakang melihat Jordan yang berada di jarak yang lumayan jauh.


Mereka yang berada di sana bergidik ngeri mendengar suara tawa tersebut, namun tidak halnya dengan Zeline. Bocah kecil itu melorot turun dari punggung sang ayah dan berjalan menghampiri Jordan yang tengah berhadapan dengan hantu wanita dengan wajah yang menyeramkan tersebut.

__ADS_1


Seluruh wajah wanita itu terluka, bahkan tubuhnya tidak dalam keadaan utuh. Beberapa bagian tubuh hantu itu terlihat seperti hangus terbakar. Matanya hantu wanita bergaun putih itu merah menyala menatap nanar ke arah Zeline yang saat ini tengah memandanginya tanpa rasa takut.


"Zel, kau mau kemana?" tanya Ziga ikut menghampiri Zeline yang terus melangkah ke depan mendekati hantu wanita itu.


Jordan menahan lengan Ziga tidak membiarkan pria itu menyusul putrinya yang berjalan semakin menjauh ke depan. Bukan tanpa alasan Jordan menahan suami sepupunya tersebut. Keadaan itu sangat berbahaya bagi Ziga yang tidak dapat melihat keberadaan hantu wanita di hadapannya.


Untuk Zeline sendiri, Jordan percaya bocah kecil itu dapat berkomunikasi dengan hantu wanita tersebut. Ia yakin jiwa murni Zeline yang masih polos dapat mengalahkan kekuatan jahat yang menyelimuti hantu wanita itu.


"Apa yang kau lakukan?!" Ziga berusaha melepaskan tangannya yang di cengkram erat oleh Jordan, ia tidak mengerti mengapa sepupu Via itu menahannya untuk menghampiri Zeline.


Namun, pria itu langsung menghentikan pemberontakannya pada Jordan setelah mendengar sang putri tengah berbicara dengan sosok yang tidak dapat ia lihat dengan kasat mata. Walau begitu Ziga tetap khawatir dengan keadaan putrinya karena Zeline baru saja siuman setelah menghabiskan banyak tenaga untuk membuat roh Joshua masuk ke dalam raganya.


"Apa yang terjadi dengan Aunty?" tanya Zeline lembut pada sosok hantu wanita yang berwajah mengerikan itu.


Bocah itu sama sekali tidak merasa takut untuk berdekatan dan berkomunikasi dengan sosok yang tidak dapat di lihat selain oleh dirinya dan juga Jordan sepupu dari ibunya.


Si hantu wanita tidak menjawab, tangannya yang hangus terbakar menyentuh wajah mungil Zeline. Setelah menyentuh wajah bocah itu, tiba-tiba saja hantu wanita itu mengeluarkan suara tangisan yang memilukan. Tangisan menyayat hati yang dapat terdengar oleh mereka semua yang ada di sana.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2