
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yang salah dan teruslah melangkah.
~Ay Alvi~
"Aku membencimu!" pekik Nadhya melemparkan bantal ke sembarang arah berharap dapat mengenai pria yang ia panggil Joshua tersebut.
Melihat sikap Nadhya membuat Joshua semakin sedih, ingin sekali rasanya ia memeluk wanita tercintanya itu. Namun, apalah daya ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan kini untuk berdiri pun Joshua sedikit kesusahan akibat menahan rasa sakit yang menyerang dadanya.
"Aku benci padamu, sangat membencimu!" Nadhya berteriak kemudian menangis dengan keras, wanita itu kecewa karena harapannya untuk dapat menemukan Joshua hidup-hidup telah sirna.
Joshua memandangi Nadhya dengan kesakitan yang mendalam. Pria itu sangat terpukul karena tidak dapat menghibur gadis yang sangat di cintainya tersebut. Akhirnya dengan langkah gontai pria itu pun meninggalkan Nadhya sendirian, ia tak sanggup lagi jika harus melihat wanita yang amat di cintainya itu menangis.
"Uncle kenapa?" tanya Zeline yang melihat Joshua berjalan tertatih sembari memegangi dadanya. Bocah kecil itu langsung menghampiri Joshua dengan raut wajah cemas.
Joshua tidak menjawab, pria itu duduk di lantai dengan masih memegangi dadanya yang terasa sakit. Pria itu tahu, ia terlalu memaksakan seluruh kekuatan yang ada dalam dirinya saat mencoba untuk menyentuh Nadhya tadi.
Ziga yang melihat Zeline begitu cemas pun segera menghampiri bocah tersebut. Pria itu juga sedikit khawatir mendengar ucapan Zeline tentang Joshua.
"Zel apa yang terjadi?" tanya Ziga kepada putri kecilnya tersebut. Ia penasaran karena ia pribadi tidak dapat melihat Joshua dengan mata kepalanya sendiri.
"Sepertinya Uncle Josh sakit Dad," jawab Zeline yang kini telah menggenggam tangan Joshua.
"Zel, bisakah menolong Uncle?" pinta Joshua, pria itu tahu harus secepatnya meminta bantuan untuk bisa kembali ke dalam jasadnya.
"Apa yang bisa Zel bantu?" tanya Zeline polos, bocah itu sebenarnya belum terlalu mengerti mengapa hanya ia seorang yang dapat melihat Joshua.
__ADS_1
Joshua menghirup nafas dalam-dalam, pria itu tahu waktunya tidak banyak lagi. Tiga tahun rohnya berkelana untuk mencari seseorang yang dapat membantunya dan kini akhirnya Joshua dapat menemukan Zeline bocah yang bisa berkomunikasi dengannya.
"Bisakah Zel minta pada Daddy untuk menemukan tubuh Uncle?" pinta Joshua memelas, pria itu tahu rasanya tidak pantas meminta pada anak kecil. Namun, hanya Zeline lah yang dapat melihat dan mendengarnya. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi Joshua selain meminta bantuan pada bocah yang baru berusia lima tahun tersebut.
Zeline pun mengangguk kemudian ia segera menyampaikan pesan pada ayahnya sesuai dengan apa yang di katakan oleh Joshua.
Sedangkan Via dan Aiden hanya mendengar dan menyimak interaksi yang terjadi antara Zeline, Ziga dan juga Joshua.
Mereka kini berkumpul di ruang keluarga untuk membahas bagaimana caranya agar dapat membantu Joshua. Ziga pun meminta Jane untuk memanggil Nadhya agar gadis itu ikut mendengarkan dan juga memberikan pendapatnya tentang masalah ini.
Nadhya datang dengan matanya yang sembab, sebenarnya gadis itu tidak ingin keluar kamar jika bukan karena Ziga mengancam akan menghentikan semua aktifitas modeling gadis itu. Pria tersebut terpaksa melakukan hal itu karena ia ingin Nadhya ikut mendengarkan masalah yang kini menimpa Joshua calon suaminya yang telah di sangka meninggal tersebut.
"Ada apa?" tanya Nadhya malas, gadis itu masih sedikit sedih dengan kenyataan yang harus ia terima.
"Bisa kau tunjukkan photo-photo yang tadi kau bicarakan?" pinta Ziga, pria itu ingin menyelidiki dengan jelas penyebab dan juga siapa dalang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Joshua.
"Orang yang akan di temui oleh Nadhya adalah orang yang telah mencelakakan ku," ucap Zeline menirukan persis apa yang di katakan pria tak kasat mata Joshua.
Ziga terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh Zeline, masalah ini sedari awal pasti sudah ada yang merencanakan, tebak Ziga. Pria itu pun bertekad untuk mengungkap apa yang terjadi pada Joshua dan membantu roh pria tersebut agar dapat kembali ke dalam jasadnya.
Namun, yang menjadi kekhawatiran Ziga adalah tentang Zeline. Bocah itu masih terlalu kecil untuk dapat ikut dalam proses pengungkapan masalah Joshua. Namun, yang menjadi masalahnya adalah tidak ada yang dapat berkomunikasi dengan sosok Joshua selain bocah perempuan yang berusia lima tahun itu.
"Daddy, apa tidak bisa meminta bantuan orang lain untuk berkomunikasi dengan Joshua?" tanya Via mengkhawatirkan keadaan Zeline jika bocah itu ikut terlibat dengan masalah yang menimpa pria yang hampir menjadi suami sepupunya tersebut.
"Mommy takut, itu sangat bahaya bagi Zeline yang masih terlalu kecil," ucap Via menyuarakan kekhawatirannya pada sang suami.
__ADS_1
Ziga terdiam, pria itu nampak berpikir sebentar. Benar memang apa yang di katakan oleh istrinya tersebut. Akan tetapi pria itu juga bingung karena untuk saat ini hanya Zeline yang dapat berkomunikasi dengan Joshua. Jadi setidaknya sekarang ia hanya bisa meminta bantuan pada putrinya tersebut sebelum dapat menemukan orang lain yang juga mempunyai kelebihan yang sama dengan Zeline.
"Daddy juga mengkhawatirkan itu Mom, tapi untuk saat ini hanya Zeline yang dapat kita mintai tolong untuk berkomunikasi dengan Joshua," jelas Ziga mengerti akan kekhawatiran Via istrinya.
"Daddy janji nanti akan mencari orang yang bisa seperti Zel untuk membantu memecahkan masalah ini," ucap Ziga mencoba menenangkan hati sang istri.
Sebenarnya bukan hanya sang istri yang khawatir dengan kelebihan Zeline, pria itu pun merasakan hal yang sama. Hanya saja, ia juga tidak mungkin mengubah takdir Tuhan yang telah memberikan kelebihan spesial kepada putrinya tersebut.
Via mengangguk, ia menyetujui apa yang di katakan oleh suaminya. Walau masih khawatir, tapi wanita itu sedikit tenang mendengar apa yang di ucapkan oleh Ziga. Ia tahu tidak ada orang tua yang ingin anaknya berada di dalam bahaya. Apalagi Zeline yang masih terlalu kecil untuk mengerti itu semua.
"Ini." Nadhya datang dengan membawa setumpukan photo yang tadi siang di serahkan oleh detektif suruhannya. Gadis itu memberikan pada Ziga sesuai dengan apa yang di minta oleh sepupunya tersebut.
Ziga pun mengambil photo-photo itu, ia mencoba memperhatikan dan melihat dengan seksama apa yang ada di dalam photo tersebut. Karena tidak menemukan sesuatu yang bisa ia pahami akhirnya Ziga memberikan photo-photo tersebut pada Zeline untuk di tunjukkan pada Joshua. Ia berharap Joshua dapat menjelaskan rahasia apa yang tersimpan di balik photo tersebut.
Zeline menerima photo dari sang ayah kemudian bocah kecil itu pun bergegas menunjukkannya pada Joshua yang kini berada di sampingnya.
Joshua melihat photo tersebut, kemudian air mata pun mengalir dengan deras di wajah pria tampan itu.
*********
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 dan terimakasih juga untuk yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.
Oh iya Ay mau kasih tahu bahwa cerita tentang si kembar Aiden dan Zeline yang telah dewasa sudah up loh.
Cerita mereka ada di Extra Chapter TAKDIR CINTA season 1, jadi buat kalian yang ingin tahu tentang kehidupan si kembar silakan baca di sana. Semoga kalian suka 😂😂😂
__ADS_1
Ay cuma minta kalian jangan lupa untuk like jika selesai membaca karena satu like kalian sangat berharga bagi kami para penulis.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘