
Tidak ada orang yang sempurna, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, setiap kesalahan tentu harus disadari dan diperbaiki. Jangan pernah merasa diri Anda selalu benar dan merasa orang lain yang selalu salah. Jadilah pribadi yang lebih baik dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.
~Ay Alvi~
"Jagalah Nadhya, aku akan membawa Zeline pulang terlebih dahulu," ucap Ziga berpamitan kepada Joshua, matanya menatap iba ke arah putrinya yang kini tertidur di sofa karena lelah.
Joshua menggenggam erat jemari gadis yang saat ini masih terpejam. Pria itu mengecup lembut punggung tangan Nadhya. Ia merasa sangat bersyukur gadisnya dapat selamat.
Nadhya adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada Joshua. Tiga tahun dirinya koma tidak membuat cinta gadis itu berpaling darinya. Nadhya masih tetap setia walau di luar tersebar kabar bahwa Joshua telah meninggal. Gadis itu menutup rapat pintu hatinya hanya untuk Joshua.
Tak terasa air mata Joshua mengalir membasahi tangan gadis yang masih setia di genggamnya. Joshua membenamkan kepalanya di punggung tangan gadis itu. Ia merasa sangat bersalah kepada Nadhya.
"Josh!" panggil Nadhya pelan, gadis itu terbuka matanya saat merasakan tetesan air di punggung tangannya.
Joshua mendongakkan kepalanya begitu mendengar suara lirih sang gadis yang memanggilnya.
"Nadhya, syukurlah kau sudah sadar sayang," ucap Joshua terharu, pria itu menciumi punggung tangan sang kekasih dengan penuh rasa syukur.
Nadhya mencoba bangun dari tidurnya, ia juga benar-benar merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan sang kekasih. Tiga tahun mereka terpisah akibat kecelakaan yang bahkan menyebabkan tersiar kabar bahwa pria itu telah meninggal membuat kerinduan di hati Nadhya begitu besar.
Joshua membantu gadisnya untuk duduk kemudian menarik Nadhya ke dalam pelukannya. Anugerah dari Tuhan mereka bisa di persatuan kembali setelah sekian lama terpisah dalam dua dunia yang berbeda.
"Terimakasih sayang," ucap Joshua kembali mengeratkan pelukannya terhadap gadis yang kini meneteskan air mata. Bukan tangisan kesedihan yang membasahi pipi Nadhya melainkan tangis bahagia ketika ia dapat melihat bahkan memeluk kembali calon suaminya tersebut.
"Hei, jangan menangis!" ucap Joshua menyapu air mata yang membasahi pipi sang gadis. Ia sama sekali tidak ingin melihat Nadhya bersedih. Sudah cukup waktu tiga tahun wanita itu bersedih karena dirinya membuat Joshua merasa semakin bersalah jika saat ini gadisnya itu masih mengeluarkan air mata.
"Aku ... aku bahagia bisa melihatmu lagi," tutur Nadhya membelai lembut wajah Joshua yang telah lama tidak dapat di sentuhnya.
__ADS_1
"Aku juga sangat bahagia sayang," balas Joshua kembali menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia benar-benar merasa bersyukur telah di berikan kesempatan hidup yang kedua oleh Tuhan. Bersyukur karena bisa lagi melihat dan menyentuh wajah cantik kekasihnya.
Di kediaman Pratama, Ziga telah kembali dengan membawa Zeline dalam gendongannya. Bocah itu masih saja terlelap walau telah melewati perjalanan yang cukup padat.
"Apa yang terjadi pada Zeline?" tanya Via begitu melihat sang putri kembali dalam gendongan sang ayah. Wanita itu khawatir jika ada hal buruk yang menimpa Zeline.
"Sttt ...!" Ziga menaruh telunjuk di atas bibirnya meminta sang istri tidak bertanya karena dapat mengganggu tidur Zeline putrinya.
Via pun mengangguk mengerti, ia tidak lagi merasa cemas karena suami dan juga putrinya telah kembali dalam keadaan baik-baik saja. Wanita itu sempat khawatir karena pria itu sempat tidak dapat di hubunginnya.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Via ketika mereka telah berada di dalam kamar pribadinya.
"Joshua sudah kembali sadar, tetapi saat ini Nadhya tengah di rawat di rumah sakit," jawab Ziga membuat sang istri terkejut mendengar sahabat sekaligus sepupu suaminya Nadhya berada di rumah sakit.
"A-Apa yang terjadi dengan Nadhya?" tanya Via membantu Ziga melepas baju yang di kenakan oleh suaminya tersebut.
"Aku yang menyebabkannya celaka," jawab Ziga jujur.
"Maksud Daddy?" tanya Via penasaran.
"Nanti saja bertanyanya, sekarang bantu Daddy mandi," ucap Ziga langsung membopong tubuh istrinya memasuki kamar mandi yang terdapat di dalam kamar tidur utama mereka.
"Aww ... Daddy nakal!" pekik Via mencubit lengan kokoh suaminya, akan tetapi ia tetap menuruti keinginan sang suami dengan membantu pria itu membersihkan diri, walau kegiatan di dalam bukan hanya sekedar mandi saja.
Di pinggiran kota New York tempat markas Marco berada. Pria itu membawa Howard menjadi tahanan mereka. Namun, sebelum itu Marco membawa Howard ke rumah sakit karena kedua kaki pria itu terluka akibat terkena tembakan darinya dan juga anak buahnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Erik kepada Marco saat pria itu telah membawa Howard ke markas pria itu.
__ADS_1
"Lukanya telah di obati, hanya saja ia masih terus berteriak-teriak seperti orang gila," jawab Marco memberitahu Erik bahwa tidak ada perubahan dari Howard sejak pria itu di bawa dari pulau.
"Kita tunggu saja bagaimana keputusan Tuan Muda," ucap Erik setelah menghela nafas panjang. Pria itu tidak berani mengambil tindakan apapun sebelum ada perintah dari Ziga. Mereka kini menahan Howard dalam penjara bawah tanah yang terdapat di markas pria itu.
Kembali ke rumah sakit, Jordan mengantarkan Albert untuk menemui Nadhya dan juga cucunya Joshua. Kakek tua itu ingin merasa lega karena Joshua akhirnya bisa kembali hidup dengan normal. Apalagi kini ada Nadhya di sisinya. Kehadiran wanita itu pasti menjadi motivasi sendiri bagi pria yang baru saja tersadar dari koma tiga tahun lamanya.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Albert ketika memasuki kamar rawat Nadhya dengan di bantu Jordan yang mendorong kursi roda miliknya.
"Kami baik kakek," jawab keduanya serempak. Mereka tersenyum bahagia melihat sang kakek yang masih tampak sehat walau di usia yang telah senja.
Jordan membantu mendorong Albert untuk mendekati cucunya Joshua. Pria itu sangat sabar bahkan menganggap Albert seperti kakeknya sendiri. Ia juga merasa iba pada Albert karena tingkah Howard, harusnya pria itu telah beristirahat di rumah dengan tenang tanpa memikirkan apa yang terjadi di dunia luar.
Albert dan Joshua sendiri belum mengetahui jika yang menyebabkan kematian Joyce ibu kandung Joshua adalah Howard. Jordan berencana memberitahukan kepada mereka setelah semuanya selesai dan tenang. Untuk saat ini kesehatan mereka semua lah yang menjadi prioritas utama pria itu.
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja," ucap Albert memegang tangan keduanya. Ia merasa bahagia atas bersatunya kembali cucunya dengan Nadhya.
"Kapan kalian akan meresmikan kembali hubungan kalian?" tanya Albert yang sudah tidak sabar melihat keduanya bersatu dalam ikatan perkawinan.
Joshua dan Nadhya saling berpandangan, bukan hanya Albert yang sudah tidak sabar. Mereka berdua pun sangat menantikan di mana hari itu akan tiba. Hari yang seharusnya terjadi tiga tahun lalu sebelum kecelakaan merenggut kebahagiaan keduanya.
*****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.
Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.
Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.
__ADS_1
Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘