Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 49


__ADS_3

Cinta sejati tak memandang materi dan perbedaan, tapi perjuangan untuk mempertahankan.


~Ay Alvi


"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Bibi seperti Via," ucap Weny yang tidak nyaman dengan panggilan Sera.


"Atau, kau juga bisa memanggil dengan sebutan Mama sama seperti Jordan," tukas Weny membuat Sera tersipu malu mendengar ucapan wanita asal Indonesia tersebut


"Tapi itu rasanya tidak pantas Nyonya, Tuan Jordan adalah atasan saya dan Anda adalah ibu dari atasan saya," ucap Sera menolak secara halus untuk memanggil Weny dengan sebutan lain.


"Kau sudah aku anggap seperti anakku sendiri," ucap Weny membuat Sera terharu dan hampir saja menitikkan air mata.


"Terimakasih Nyo, eh Mama." Sera akhirnya memutuskan untuk memanggil Weny dengan sebutan mama, ia merasa terharu dengan kebaikan dan kasih sayang yang di berikan oleh Jordan dan juga ibunya sehingga gadis itu tidak dapat lagi menahan air mata yang akhirnya mengalir deras membasahi pipinya.


Weny pun segera memberi pelukan kepada gadis yang tengah terisak tersebut, ia merasa iba kepada Sera yang kini hidup sebatang kara itu.


"Sebaiknya kau istirahat sayang," saran Weny mengecup kening Sera layaknya putri kandungnya sendiri.


Jordan hanya menyaksikan keduanya, ia merasa bahagia jika sang ibu memang menyukai Sera. Itu artinya hanya tinggal menunggu keputusan gadis itu apakah ia akan menerima cintanya atau tidak.


"Baik Mah, selamat malam dan selamat istirahat," ucap Sera mencium pipi Weny menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri.


"Selamat malam sayang," ucap Weny yang kemudian pergi ke apartemen sebelah yang merupakan apartemen putranya.


"Istirahatlah, besok kita akan menemui klien pukul sembilan," ujar Jordan memberitahukan jadwal yang akan mereka jalani besok.


"Baik Tuan," jawab Sera, gadis itu menautkan jemarinya merasa gugup di hadapan Jordan.


Jordan menghela nafas melihat sikap yang ditunjukkan oleh Sera, mungkin ia memang harus memberi waktu lebih kepada gadis itu untuk memikirkan tentang perasaannya. Bagaimanapun juga mereka belum saling mengenal terlalu lama, biarlah untuk saat ini mungkin dengan pekerjaan dapat lebih mendekatkan mereka.

__ADS_1


"Selamat malam," ucap Jordan berpamitan kepada gadis yang masih menundukkan kepalanya tersebut.


"Selamat malam Tuan," jawab Sera, gadis itu pun segera masuk ke dalam apartemennya.


Sera menyandarkan tubuhnya di pintu setelah menutupnya. Ia memegangi dadanya yang saat ini bergemuruh dengan kencang. Entah mengapa setiap kali berhadapan dengan Jordan membuat ia merasa gugup. Walaupun Jordan tidak pernah mengungkit kembali tentang pernyataan cintanya, tapi terasa ada yang berbeda dari hubungan mereka sejak saat itu.


Pagi hari di kediaman keluarga Pratama, Mia baru saja terbangun dari tidurnya saat ada panggilan telepon dari Praha. Seorang tetangga apartementnya memberitahu Mia bahwa nenek gadis itu jatuh pingsan dan sekarang tengah di bawa ke rumah sakit.


"Apa yang terjadi Aunty?" tanya Mia panik, saat ini ia berada di New York yang cukup jauh dan memerlukan waktu sepuluh jam untuk mencapai tempat tersebut.


"Baiklah Aunty, terimakasih," ucap Mia dengan mata berlinang.


"Aku akan pulang sekarang," tambah gadis itu kemudian segera menutup teleponnya.


Mia pun segera membereskan barang-barangnya dan bersiap-siap untuk kembali ke Praha sekarang juga. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan sang nenek yang saat ini kabarnya terkena serangan jantung mendadak.


Gadis itu dalam hatinya semoga tidak terjadi hal yang buruk pada neneknya karena hanya nenek Mila yang ia miliki di dunia ini. Sejak kedua orang tuanya bercerai dan pergi meninggalkan gadis itu entah kemana. Hanya nenek Mila yang merawat Mia hingga gadis itu tumbuh menjadi dewasa.


"Aunty!" panggil Mia memeluk Via kemudian menangis di pelukan wanita itu sehingga membuat Via kebingungan.


"Apa yang terjadi?" Via kembali bertanya pada Mia yang saat ini menangis terisak di pelukannya.


Mia melepas pelukannya kemudian menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Nenek, Aunty. Nenek ...." Mia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, gadis itu kembali terisak dalam tangisnya.


"Ada apa dengan nenek Mila?" tanya Via yang ikut khawatir begitu melihat Mia menangis terisak. Wanita itu juga memang mengenal nenek Mila karena selama ia tinggal di Praha nenek itulah yang mengajari Via merangkai bunga sehingga ia dapat membuka toko bunga di kota seribu menara tersebut.


"Nenek pingsan dan sekarang tengah di bawa ke rumah sakit," jawab Mia di sela-sela tangisnya. Gadid itu sedih membayangkan apa yang terjadi pada sang nenek saat tak ada dirinya di sisi wanita tua itu.

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus segera ke sana," ujar Via yang juga ingin mengetahui keadaan Nenek Mila.


"Kamu tunggu sebentar, Aunty akan bicara pada Uncle Ziga sekarang," ucap Via, wanita itu segera kembali ke atas untuk menemui suaminya yang masih berada kamar.


"Daddy, ayo kita ke Praha!" ajak Via begitu tiba di kamar mengagetkan Ziga yang saat ini masih tertidur karena lelah setelah di kerjai oleh putra bungsunya Juan.


"Sebentar ya Mom, Daddy masih mengantuk," jawab Ziga menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Daddy, ini sudah penting!" seru Via menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya.


"Satu jam lagi Mom, Daddy lelah," ucap Ziga dengan mata terpejam, pria itu kembali menarik selimut dari tangan istrinya.


"Ya sudah kalau Daddy tidak mau mengantar Mommy ke Praha, Mommy bisa pergi sendiri," tukas Via kesal karena Ziga masih belum bergerak dari tidurnya.


"Iya Mommy bisa minta Erik untuk mengantar belanja," sahut Ziga yang tak mendengar ucapan sang istri dengan jelas.


"Baiklah, kalau begitu Mommy akan meminta Erik untuk menyiapkan pesawat jet sekarang!" seru Via menarik koper dan menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke Praha.


Ziga langsung terbangun dari tidurnya ketika mendengar Via menyebutkan kata pesawat, tadinya pria itu berpikir istrinya tersebut hanya meminta di antar belanja.


"Apa Mommy bilang?" tanya Ziga mengucek matanya yang masih terlihat merah karena mengantuk setelah semalam harus mengurus Juan.


Via tidak menjawab, ibu tiga orang anak itu masih tetap berfokus merapikan barang-barang keperluan Juan ke dalam koper.


"Mommy mau kemana?" tanya Ziga segera turun dari ranjang kemudian segera memeluk sang istri seolah takut kehilangan. Melihat sang istri merapikan baju ke dalam koper membuat Ziga ketakutan. Pria itu trauma setelah enam tahun lalu Via pergi meninggalkannya.


"Mommy jangan pergi, jangan tinggalkan Daddy," ucap Ziga yang mempererat pelukan kepada sang istri.


"Mommy harus pergi, tadi Daddy sendiri yang bilang kalau Mommy bisa pergi dengan Erik," sahut Via berusaha melepaskan diri dari pelukan erat suaminya tersebut.

__ADS_1


Namun, Ziga tidak membiarkan Via melepaskan dirinya. Ia semakin mempererat pelukan terhadap istrinya karena takut Via akan pergi meninggalkannya.


__ADS_2