Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 28


__ADS_3

Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit akan selalu biru, bunga akan selalu mekar, dan mentari sepanjang hari akan selalu bersinar. Tetapi yang perlu kamu tahu bahwa Tuhan akan selalu memberikan pelangi setalah badai berlalu, tawa dari setiap air mata, berkah dalam setiap cobaan dan jawaban dari setiap doa yang telah kamu panjatkan.


~Ay Alvi~


"Bagaimana, sudah kau dapatkan sinyal dari Tuan Muda?" tanya Marco kepada Erik, mereka tengah menunggu perintah dari Ziga untuk menyerang kediaman Howard.


Marco dan anak buahnya telah siap dengan senjatanya masing-masing. Mereka hanya tinggal menunggu aba-aba dari Ziga di mana mereka harus menyerang untuk melumpuhkan Howard.


"Tuan muda telah memberikan lokasi di mana ia berada, tapi menurut perintah Tuan Muda kemarin, kita harus menunggu satu jam sebelum mulai menyerang," jawab Erik menjelaskan rencana Ziga. Atasannya itu memang meminta waktu satu jam setelah sinyal darurat terkirim agar Zeline dan Jordan memiliki waktu untuk menyelamatkan Joshua.


"Ck," Marco berdecak kesal, pria itu sudah tidak sabar untuk menyerbu tempat itu dan menghabisi nyawa Howard.


Erik menepuk bahu Marco, ia tahu pria yang hingga saat ini masih setia melajang itu adalah orang yang tidak sabar. Pria itu ingin cepat-cepat menggunakan senjatanya untuk menghabisi para musuh yang sudah di depan matanya.


Sementara itu di ruangan tempat Joshua di rawat, Zeline masih berkonsentrasi dengan apa yang di lakukannya. Kedua tangan bocah kecil itu menggenggam tangan dari raga Joshua dan sebelahnya menggenggam tangan dari roh pria itu.


Sedangkan Jordan mencoba menghapus tanda yang menghalangi roh Joshua masuk ke dalam raganya dengan alkohol yang tersedia di kamar tersebut. Alkohol kesehatan yang biasa di gunakan untuk membersihkan luka.


Albert yang tak tahu apa yang sedang di lakukan oleh bocah kecil tersebut hanya menatap dengan kebingungan. Ia tidak mengerti mengapa kedua orang itu terus mengamati tubuh Joshua yang hingga saat ini belum dapat bergerak.


Ziga sendiri menatap tak percaya ke arah Zeline. Pria itu tidak menyangka bahwa putrinya memiliki kekuatan yang luar biasa. Aura yang terpancar dari tubuh gadis itu begitu bercahaya. Seolah Zeline di kelilingi sinar di seluruh tubuhnya.


Di kediaman Pratama, Via tampak tengah memasak di dapur di bantu oleh Mia dan Sera sedangkan Weny mengasuh Juan yang baru kali ini bertemu dengannya. Via sengaja meliburkan para pelayannya karena Nyonya Muda Pratama itu ingin membuat makanan-makanan asal Indonesia yang sudah lama tak di dapatinya di New York.


Wanita tiga orang anak itu juga mengundang Ayu sang ibu mertua untuk bergabung bersama mereka. Karena kesemuanya adalah perempuan membuat mereka bebas berekspresi menjajal kemampuan masak mereka.

__ADS_1


Namun, entah apa yang terjadi saat Via baru saja membuka lemari untuk mengambil piring tiba-tiba piring itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai hingga pecah berkeping-keping.


"Apa yang terjadi Aunty?" tanya Mia terkejut mendengar suara pecahan piring di lantai.


Via menggelengkan kepalanya, ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi hanya saja tiba-tiba wanita itu teringat akan Zeline sehingga dengan tidak sengaja piring yang tengah ia pegang terlepas dari genggamannya dan jatuh hingga pecah ke lantai dapur.


"Sebaiknya kau istirahat Via, biar kami yang menyelesaikan semuanya," ujar Sera membereskan pecahan piring yang berserakan di lantai.


Via mengangguk setuju, wanita itu bukannya ingin beristirahat, tapi Via ingin menghubungi Ziga untuk mengetahui keadaan suami dan juga putrinya yang tengah berjuang untuk menyelamatkan Joshua.


Berkali-kali Via menghubungi nomor suaminya, tapi tak ada jawaban dari seberang sana. Hati wanita itu pun bertambah cemas, ia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada suami dan juga anak perempuannya.


Lagi dan lagi, Via menghubungi Ziga tetap sama hasilnya bahkan kini nomor ayah dari ketiga anaknya itu tidak dapat di hubungi sama sekali. Via pun segera beralih untuk menghubungi nomor Jordan sepupunya tak ada jawaban juga dari pria itu. Ibu tiga orang anak itu tidak menyerah, kali ini ia mencoba menghubungi Nadhya. Namun kembali Via harus menelan kekecewaan karena nomor sahabatnya itu tidak dapat menerima panggilan.


Sementara itu di pulau keadaan cukup tegang, semua yang berada dalam satu ruangan dengan Zeline tampak memperhatikan kegiatan bocah itu. Zeline masih tetap memejamkan matanya sembari menggerakkan kedua tangannya di atas tubuh Joshua.


Ziga langsung membopong tubuh putri kecilnya dan merebahkannya ke atas sofa yang terdapat di dalam kamar. Albert yang ikut panik segera menghampiri tubuh bocah kecil yang kini tergolek lemah tak berdaya.


"Apa yang terjadi dengan putrimu?" tanya Albert khawatirkan melihat wajah Zeline yang tampak pucat.


"Entahlah," jawab Ziga yang tak kalah cemas, pria itu tidak menyangka Zeline akan mengalami hal seperti ini.


"Zel ... Zeline!" panggil Ziga menepuk-nepuk pelan pipi sang putri yang masih tidak sadarkan diri.


Zeline masih tidak bergerak, gadis itu tetap terpejam dengan tubuh yang menegang. Ziga benar-benar panik kemudian pria itu menekan tombol kecil di cincinnya memberi tanda kepada Erik agar pria itu dapat segera menolongnya.

__ADS_1


Jordan juga tak kalah khawatir, ia baru saja akan menghampiri keponakannya saat sebuah tangan meraih lengannya dengan lemah.


"Puji Tuhan, Josh!" panggil Jordan kepada lelaki yang baru saja membuka matanya tersebut.


Panggilan Jordan membuat Albert dan Ziga menoleh. Keduanya menatap tak percaya ke arah Joshua yang kini telah sadar bahkan bisa menggerakkan tangannya walau masih sangat-sangat lemah.


"Josh!" seru Albert bergegas memutar kursi rodanya menghampiri Joshua yang kini telah membuka matanya.


"Syukurlah, puji Tuhan akhirnya ada keajaiban yang bisa membuatmu tersadar," ucap Albert menitikkan air mata karena tidak menyangka setelah tiga tahun lamanya Joshua akhirnya Joshua tersadar dari koma.


"Zel-Zeline?" tanya Joshua dengan lemah, pria itu melihat dengan kurang jelas bocah kecil yang berhasil menolongnya kini tengah tidak sadarkan diri terbaring di atas sofa.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Zeline, tapi kita harus secepatnya keluar dari sini," ucap Ziga panik memandangi wajah Zeline yang semakin pucat dengan nafas sedikit tersengal.


Ziga kembali mengirimkan sinyal kepada Erik agar pria itu dapat segera menolongnya.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2