
Bagaikan batu yang teguh tiada tergoyahkan, demikian pula orang bijaksana tidak akan goyah di tengah-tengah celaan ataupun pujian
~Ay Alvi~
"Kita mau kemana?" tanya Mia pada Erik saat mobil yang di kendarai oleh pria itu mulai meninggalkan kediaman Pratama.
"Kencan," jawab Erik sembari mengedipkan sebelah matanya membuat wajah Mia merona.
Ini memang bukan kencan pertama mereka, namun tetap saja membuat jantung Mia berdebar-debar tak karuan. Gadis itu tidak dapat menebak apa yang akan terjadi malam ini, karena setiap kali mereka pergi kencan, Erik kekasihnya tersebut selalu memberi kejutan-kejutan tak terduga yang membuat Mia semakin menyayangi pria berusia 30 tahun itu.
Erik mengendarai mobilnya dengan lambat seolah ingin menikmati waktu kebersamaan mereka. Sebelah tangan pria itu menggenggam erat jemari Mia kadang sesekali mencium punggung tangan gadis tersebut.
"Uncle!" panggil Mia membuat Erik jengah, panggilan itu seolah mengingatkan Erik akan perbedaan usia di antara mereka yang cukup jauh.
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan Uncle," gerutu Erik tak senang, pria itu merajuk pada sang kekasih yang selalu salah memanggilnya.
Sebenarnya Mia bukan sengaja memanggil kekasihnya dengan sebutan Uncle, hanya saja terkadang ia tak enak hati. Mungkin karena perbedaan umur mereka lah yang membuat gadis itu merasa tak sopan jika memanggil Erik hanya dengan namanya saja.
"Maaf," ucap Mia lirih, gadis itu menundukkan wajahnya merasa takut dan bersalah.
Erik menghela nafas melihat sikap Mia. Gadis itu memang tidak pernah berubah, sedari dulu awal mereka berkenalan kemudian berpacaran hingga kini mereka telah bertunangan Mia selalu saja takut kepadanya. Seolah-olah ia adalah pria yang menakutkan.
"Maafkan aku sayang," ucap Erik mengusak rambut tunangannya tersebut.
"Aku tidak bermaksud untuk memarahimu, aku hanya ingin kau memanggilku dengan sebutan lain yang lebih mesra," jelas Erik mencium kembali punggung tangan kekasih hatinya membuat wajah Mia kembali merona.
__ADS_1
Mungkin karena selama ini mereka lebih banyak berhubungan lewat telepon jadi saat berdekatan langsung seperti sekarang ini membuat jantung Mia berpacu lebih cepat. Apalagi jika Erik bersikap romantis atau berlaku mesra kepadanya seolah jantung itu ingin lompat ke luar dari tempatnya.
"I-Iya Un eh honey," jawab Mia gugup, gadis itu harus lebih membiasakan diri lagi memanggil Erik dengan sebutan sayang.
Erik bahagia mendengar sebutan baru dari Mia untuknya, pria itu pun menghentikan laju mobilnya di sisi jalan untuk kemudian mengecup sang kekasih dengan lembut.
Kecupan ringan Erik berubah menjadi ciuman panas tatkala Mia juga membalas perlakuan pria itu kepadanya. Erik menahan tengkuk Mia memperdalam ciuman mereka. Keduanya saling membalas dengan gairah seolah melupakan bahwa mereka kini berada di pinggir jalan. Erik baru melepasnya setelah mereka berdua hampir kehabisan nafas.
"Terimakasih sayang," ucap Erik tulus, pria itu masih menyatukan kening mereka seolah tak rela membiarkan bibir mereka terpisah.
Disentuhnya bibir Mia dengan telunjuknya kemudian kembali di tanamkan kecupan ringan di bibir gadis itu sebelum akhirnya Erik kembali melajukan mobil untuk meneruskan perjalanan mereka.
Sementara itu di kediaman Pratama, Ziga tengah menjelaskan kepada Via dan Aiden perihal Zeline yang dapat melihat Joshua. Pria itu juga bercerita kepada mereka apa yang di sampaikan oleh Joshua melalui Zeline.
Via terperangah mendengar penjelasan Ziga, wanita itu tidak menyangka putri kecilnya memiliki kelebihan yang tidak biasa. Namun, Via juga sedikit khawatir dengan kenyataan itu. Ia takut itu akan berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan Zeline.
"Tidak, asal kita bisa memberi pengarahan dan juga selalu mendampingi Zeline, karena ini adalah anugerah Tuhan, kita hanya harus mensyukurinya," ucap Ziga bijak, ia memang tidak mungkin menghilangkan kelebihan putri kecilnya tersebut yang dapat ia lakukan adalah membimbing Zeline agar bocah itu dapat menerima dan juga menggunakan kelebihannya dengan baik.
Aiden mengangguk-angguk mendengar penjelasan sang ayah. Kini nilai Zeline bertambah di mata bocah lelaki itu. Biasanya Aiden menganggap adik perempuannya itu merepotkan selain memang Zeline tidak terlalu pandai seperti dirinya bocah perempuan itu juga teramat cerewet menurut Aiden.
Namun, dengan terungkapnya kelebihan Zeline membuat Aiden akhirnya berpikir bahwa Tuhan memang sungguh adil. Dia menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Seperti halnya dirinya dengan Zeline, walaupun mereka kembar, keduanya memiliki sifat yang berbeda begitu pula dengan kelebihan dan kekurangan mereka yang tidak sama.
Di sisi lain kediaman Pratama, lebih tepatnya di kamar tamu, Nadhya tengah menangis terisak-isak. Gadis itu kembali teringat akan Joshua pria yang hingga saat ini masih sangat di cintainya. Setelah sempat berharap pria itu masih hidup dari photo-photo yang di lihatnya tadi siang, wanita itu tidak sanggup ketika menghadapi kenyataan bahwa roh Joshua ada di dekatnya seperti yang di ucapkan Zeline keponakannya.
Joshua mencoba menyentuh Nadhya, ia berusaha menenangkan gadis itu. Pria tersebut menggunakan segala kekuatan yang ada dalam dirinya agar dapat membelai wanita yang di cintainya itu. Berkali-kali Joshua melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Namun, ia tetap gagal hingga pada akhirnya Joshua berhasil menyentuh kepala gadis yang di cintainya, hanya sekejap dan itu membuat Nadya menoleh karena merasakan sebuah sentuhan lembut di kepalanya.
Gadis itu melihat sekeliling tak ada siapapun di dalam kamar. Tiba-tiba bulu kuduk wanita itu berdiri, ia kembali merasakan kehadiran Joshua di sisinya.
"Josh, kau kah itu?" tanya Nadhya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang tampak kosong.
Joshua memegang dadanya, pria itu nampak kesakitan ketika harus mengeluarkan segenap kekuatannya untuk menyentuh Nadhya. Ia kembali mencoba untuk menyentuh wanita itu saat Nadhya memanggil namanya, namun hal itu tidak dapat di lakukannya lagi.
"Josh! Jika itu memang engkau buktikan padaku!" ucap Nadhya dengan suara bergetar, wanita itu hampir saja tidak dapat menahan air matanya.
Joshua menatap sendu ke arah Nadhya, bukannya ia tidak ingin membuktikan pada wanita itu bahwa dirinya memang ada di sisi Nadhya, tapi pria itu tidak bisa berbicara dengan kekasihnya bahkan untuk menyentuhnya kembali pun Joshua tidak lagi punya kekuatan.
"Kau memang jahat Josh!" maki Nadhya kali ini air mata pun lolos dari pelupuk matanya.
"Aku membencimu!" pekik Nadhya melemparkan bantal ke sembarang arah berharap dapat mengenai pria yang ia panggil Joshua tersebut.
Melihat sikap Nadhya membuat Joshua semakin sedih, ingin sekali rasanya ia memeluk wanita tercintanya itu. Namun, apalah daya ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan kini untuk berdiri pun Joshua sedikit kesusahan akibat menahan rasa sakit yang menyerang dadanya.
"Aku benci padamu, sangat membencimu!" Nadhya berteriak kemudian menangis dengan keras, wanita itu kecewa karena harapannya untuk dapat menemukan Joshua hidup-hidup telah sirna.
*****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 dan terimakasih juga yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.
Buat yang belum like Ay tunggu ya, biar Ay tambah semangat buat berkarya.
__ADS_1
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘