
Kesuksesan bersumber dari perbuatan. Orang yang sukses terus melakukan usaha. Orang sukses bahkan membuat kesalahan, namun mereka tidak berhenti usaha.
~Ay Alvi~
"Tuan, tolong jangan menggerakkan pintu!" pinta Erik karena dari dalam Jordan berusaha untuk mendobrak pintu tersebut.
"Mereka memasangkan bom pada pintu ini, kami akan berusaha untuk menjinakkannya," ujar Erik menjelaskan keadaan di luar kepada Ziga dan semua yang berada di luar ruangan.
Ziga terkejut mendengar ucapan Erik, saat ini ia harus segera membawa keluar putrinya yang sedang tidak sadarkan diri. Pria itu pun memerintahkan Erik untuk segera berusaha membebaskan mereka.
Pria itu berusaha untuk tidak panik, ia masih terus membelai dan menepuk-nepuk pipi Zeline dengan lembut berusaha untuk membuat bocah kecil itu tersadar.
Jordan sendiri berusaha untuk membantu Joshua yang masih dalam keadaan lemah. Tiga tahun dalam keadaan koma telah membuat tubuh pria itu kaku agak sulit untuk di gerakkan. Jordan membantu Joshua duduk perlahan agar mereka bisa dapat bergerak lebih cepat seandainya nanti pintu telah terbuka.
Sementara itu di balik pintu, Erik mencoba untuk menjinakkan bom yang terpasang di sana. Waktu yang mereka miliki tidak terlalu banyak, hanya lima menit waktu yang tersisa. Pria itu dan beberapa anak buahnya sudah bersiap untuk kemungkinan yang terburuk.
Kekuatan bom itu cukup besar, setidaknya dapat meluluhlantakkan bangunan mewah tersebut.
"Tuan, apa tidak ada jalan keluar lainnya?" tanya Erik dari luar, ia berharap ada jalan keluar selain pintu yang kini terpasang bom.
Ziga meletakkan tubuh Zeline di atas sofa, pria itu mencoba mencari cara agar mereka bisa terbebas dari sana tanpa harus melewati pintu. Begitu pula Jordan, ia mencoba memecahkan kaca jendela dengan kursi. Namun, rupanya ketebalan kaca itu masih dapat menahan kerasnya benturan dari kursi yang di lemparkan oleh Jordan.
Di tempat lainnya lebih tepatnya di dalam hutan rimba, Howard dan Daniel terus berlari dari kejaran Marco dan anak buahnya. Pria itu menggeret tubuh Nadhya yang sudah tampak lelah. Mereka kemudian memasuki sebuah gua dan bersembunyi di sana karena waktu telah mendekati malam.
Daniel mengikat tangan dan kaki Nadhya agar gadis itu tidak dapat melarikan diri. Howard sendiri segera merebahkan tubuhnya di atas bebatuan karena pria itu terlalu lelah.
__ADS_1
"Tuan, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Daniel karena saat ini mereka dalam keadaan terjepit.
"Tenanglah, kita tunggu pagi dan menumpang perahu nelayan untuk keluar dari pulau ini," jawab Howard mengatur nafasnya yang masih sedikit tersengal.
"Itu artinya kita harus bermalam di sini?" tanya Daniel dengan perasaan khawatir. Gua yang mereka singgahi saat ini terkenal angker, banyak penghuni pulau yang telah membuktikan kabar itu. Seketika Daniel pun bergidik ngeri membayangkan ia harus menghabiskan malam ini di dalam gua yang terkenal angker itu.
Howard menyulut rokok dan menghembuskan asap yang sedikit tebal. Ia mencoba menghangatkan diri dari udara dingin yang meliputi seluruh gua. Nadhya sendiri menggigil kedinginan, hawa di dalam gua benar-benar lembab dan basah. Gadis itu menggertakan giginya menahan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Cepat cari mereka! Kita harus menemukannya sebelum mereka melarikan diri keluar dari pulau!" perintah Marco kepada beberapa anak buahnya, pria itu mencari Howard dan Daniel karena tidak menemukan keberadaan keduanya di dalam bangunan yang tadi mereka serang.
Marco belum mengetahui kalau Nadhya juga ikut di bawa sebagai sandera oleh kedua orang tersebut. Ia mengira gadis itu di kurung di dalam ruangan yang sama dengan sang Tuan Muda Ziga. Mereka menyisir hutan dengan menggunakan senter karena hari mulai gelap.
Kelima orang anak buah Marco menyebar ke segala arah untuk mempermudah pencarian, mereka semuanya di perintahkan untuk menembak di tempat seandainya Howard dan Daniel terlihat. Tidak ada alasan lagi untuk membiarkan keduanya hidup.
Di dalam gua Howard mencoba menghubungi Antony, pria itu berharap sahabat Joshua yang selama ini mengelola perusahaan sepupunya itu bisa memberikan bantuan kepadanya.
Kediaman Pratama.
Via tengah berdoa dengan khusyuk. Wanita itu memohon kepada Tuhan untuk keselamatan suami dan juga putri kecilnya Zeline. Ia juga berdoa semoga penyelamatan Joshua berjalan dengan lancar. Entah mengapa sedari tadi wanita itu terus terpikirkan tentang Zeline. Naluri keibuannya mengatakan bahwa putri kecilnya tengah berada dalam bahaya.
Tuhan, lindungilah suami dan juga putriku. Jangan biarkan hal buruk menimpa mereka. Aku mohon padamu Tuhan, doa Via dalam hatinya.
Mia dan yang lainnya tidak mengetahui kegelisahan hati Via. Wanita itu menutupinya karena tidak ingin membuat yang lain ikut khawatir juga. Via berharap semoga apa yang ia takutkan tidak akan terjadi. Wanita itu berusaha bersikap normal di hadapan yang lainnya.
Phoenix Island, Kiribati.
__ADS_1
Di dalam ruangan tempat Ziga dan yang lainnya di sekap, Zeline nampak telah sadarkan diri. Bocah kecil itu membuka matanya perlahan dan beberapa kali mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya.
"Zel!" panggil Ziga penuh dengan rasa syukur karena sang putri kini telah tersadar. Pria itu memeluk tubuh putrinya yang masih terlihat lemah.
"Dad!" panggil Zeline dengan suara yang sedikit tercekat, wajah bocah itu masih terlihat pucat.
"Ya sayang," jawab Ziga masih memeluk putrinya karena terlalu bahagia tanpa menyadari bahwa waktu yang tersisa bagi mereka hanya tinggal hitungan menit saja.
"Tuan, maaf kami tidak bisa menjinakkan bom ini," ucap Erik penuh dengan penyesalan. Pria itu merasa bersalah karena tidak dapat menolong sang tuan muda yang saat ini sedang dalam kesulitan.
"Pergilah Erik, bawa juga yang lainnya!" perintah Ziga kepada asisten pribadinya tersebut.
"Tapi Tuan ..."
"Ini perintah Erik! Cepat pergi sekarang sebelum semuanya terlambat," tegas Ziga tak ingin di bantah oleh pria yang hingga saat ini masih berusaha untuk menjinakkan bom tersebut.
Albert tampak berpikir sebentar, pria itu mencoba mengingat-ingat cetak biru bangunan ini.
"Coba tekan tombol yang ada di belakang nakas!" perintah Albert yang baru saja ingat bahwa ada jalan rahasia yang terdapat di balik dinding kamar itu.
Rumah yang ia tempati ini merupakan bangunan tua yang telah di bangun berabad-abad silam. Bangunan itu di lengkapi dengan lorong yang akan membawa mereka ke jalan rahasia menuju bangunan lain yang letaknya tidak berjauhan.
Jordan pun menuruti apa yang di katakan oleh Albert, pria itu segera menekan tombol yang terdapat di belakang nakas setelah ia menggesernya.
Dan tanpa terduga, sebuah pintu muncul dari balik dinding dekat ranjang Joshua. Mereka pun segera berlari memasuki lorong karena bom yang dipasang oleh Howard sebentar lagi akan meledak.
__ADS_1
Kemudian tiba-tiba Duargghhh, suara letusan terdengar bahkan sangat dahsyat bahkan Howard dan Daniel juga Nadhya mendengar suara letusan itu. Senyum mengembang di bibir Howard membayangkan Ziga dan yang lainnya telah hancur berkeping-keping.