
Setiap orang lebih kuat dari yang mereka bayangkan hanya saja mereka tidak cukup memiliki keyakinan.
~Ay Alvi~
"Selamat siang Tuan Jordan, Sera, Nyonya Weny!" sapa Erik kepada ketiga orang tersebut.
"Siang Erik," jawab mereka berbarengan.
Erik pun segera membawa mereka menuju Townhouse milik keluarga Pratama sesuai dengan perintah tuan dan nyonya mudanya.
"Bagaimana kabar Via dan anak-anaknya?" tanya Weny yang sudah cukup lama tidak bertemu dengan keponakannya tersebut.
"Mereka baik Nyonya," jawab Erik sopan, pria itu masih berfokus dengan kemudinya.
Sementara itu Sera yang duduk di kursi penumpang belakang nampak agak gelisah. Gadis itu merasa tidak enak untuk bertemu dengan keluarga Pratama. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang pernah di lakukan oleh Rio kakaknya di pesta ulang tahun si kembar.
Jordan yang dapat merasakan kegelisahan Sera meraih jemari gadis itu kemudian menggenggamnya dengan lembut. Seolah memberikan dukungan agar Sera lebih tenang. Ia tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu, rasa bersalah masih menghantui Sera walau gadis itu juga telah berkorban untuk menyelamatkan nyawa Ziga.
Tak berapa lama mereka pun akhirnya tiba di kediaman Pratama. Via menyambut dengan hangat kedatangan Bibi dan juga sepupunya Jordan di tambah lagi dengan Sera.
"Bibi, Kakak, Aku merindukan kalian," sambut Via saat mereka baru saja tiba di kediamannya. Ia pun segera menghampiri Weny dan memeluk wanita yang telah di anggap sebagai pengganti sosok ibu kandungnya tersebut.
Setelah kecelakaan yang menyebabkan kematian orang tuanya, Weny lah yang menggantikan peran sang ibu untuknya. Wanita ibu kandung Jordan itu menyayangi Via seperti putrinya sendiri.
"Kami juga merindukanmu sayang," jawab Weny membalas pelukan Via dengan erat. Wanita itu memang merindukan ibu dari tiga anak itu yang sudah cukup lama tidak di temuinya.
"Hai Sera!" tak lupa Via menyapa Sera yang juga berada di sana setelah melepaskan pelukannya pada bibinya Weny.
Wanita cantik itu pun segera mengajak seluruh tamunya untuk masuk ke dalam dan bertemu dengan Ziga yang kini tampak sedang sibuk mengasuh Juan.
__ADS_1
Daddy muda itu tampak sedang menimang-nimang Juan dan juga bermain dengan si kembar. Ya, jika hari libur pria itu memang selalu menghabiskan waktu di rumah untuk bermain dengan ketiga anaknya.
Ziga tidak ingin lagi kehilangan momen-momen tumbuh kembang buah hatinya seperti yang pernah terjadi pada si kembar. Pria itu pun segera menyambut kedatangan bibi dan juga sepupu dari istrinya tersebut.
Setelah berbasa-basi untuk menanyakan kabar, Ziga pun mengajak Jordan dan juga Erik untuk berdiskusi dengan masalah yang lebih serius. Pria itu mengajak mereka berbicara di ruang kerjanya.
Sementara para wanita berkumpul di ruang keluarga untuk bertanya kabar dan juga bercerita. Mia sedikit canggung bertemu dengan Sera, gadis itu tahu bahwa Sera pernah menyukai kekasihnya Erik. Atau bahkan masih suka hingga sekarang, entahlah hanya wanita itu yang tahu apa yang ada di dalam hatinya.
Begitu juga dengan Sera, kegelisahannya semakin bertambah saat bertemu dengan Mia, namun gadis itu berusaha untuk bersikap wajar apalagi di sana ada Weny ibu Jordan yang telah menganggap wanita itu sebagai menantunya. Walau Sera belum meng-iyakan pernyataan cinta Jordan, tapi Weny sangat berharap agar Sera mau mendampingi putranya yang sudah tidak muda lagi usianya.
Begitu tiba di ruang kerja, Jordan nampak terkejut dengan kehadiran Joshua yang telah berada di sana. Lelaki itu tidak menyangka akan ada makhluk tak kasat mata yang ia temui di ruang kerja milik suami dari sepupunya tersebut.
"Si-siapa kau ?" tanya Jordan pelan, ia ragu-ragu karena takut yang lainnya kebingungan pria itu berbicara sendirian.
"Kau juga bisa melihatnya?" tanya Ziga pura-pura terkejut, ia tidak menceritakan bahwa pria itu telah mengetahui kelebihan Jordan dari Via istrinya.
Lain halnya dengan Erik, asisten pribadi Ziga itu nampak kebingungan karena ia memang belum mengetahui duduk permasalahannya.
Semalam pria itu menghabiskan Sabtu malamnya dengan Mia sang kekasih sehingga tidak tahu apa yang terjadi di kediaman Pratama tadi malam.
Ziga menghela nafas, akhirnya ia merasa lega karena dengan adanya Jordan pria itu tidak perlu melibatkan Zeline putri kecilnya tersebut.
"Itulah yang ingin aku bicarakan," ucap Ziga jujur.
"Aku ingin meminta bantuanmu untuk mengatasi masalah Joshua," tambah Ziga.
"Joshua?" Jordan bertanya karena tidak tahu siapa yang di maksud oleh Ziga.
"Aku Joshua," sahut Joshua mendekati Jordan membuat pria itu sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Kau belum meninggal, mengapa bisa ada di sini?" tanya Jordan yang bisa mengetahui keadaan Joshua membuat pria itu dan yang lainnya terkejut.
"Bagaimana kau bisa tahu? Aku sendiri belum menceritakannya padamu," tanya Ziga heran, pria itu bahkan belum berbicara banyak kepada pria yang juga berprofesi sebagai pengusaha itu.
Jordan menghirup nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Ziga, mungkin untuk sebagian orang terasa tidak masuk akal, tetapi pria itu memang dapat melihat dengan jelas perbedaan antara roh yang sudah meninggal dengan roh yang terjebak di dunia karena suatu hal yang menahannya.
"Dia masih koma dan ada sesuatu yang membuat pria itu belum bisa kembali ke dalam raganya," jawab Jordan sembari menunjuk ke arah Joshua membuat Ziga dan Erik ikut mengikuti arah telunjuk Jordan, namun sayang sekali mereka tidak dapat melihat sosok Joshua di sana.
"Apa yang kau katakan benar, tiga tahun aku berkelana mencari orang yang dapat membantuku untuk kembali ke dalam ragaku," jelas Joshua membenarkan pernyataan Jordan.
"Apa kau bisa membantuku?" tanya Joshua kepada Jordan, pria itu berharap orang yang baru di lihatnya ini bisa membantunya untuk kembali hidup dengan normal.
Ziga dan Erik hanya terpaku melihat Jordan berbicara sendirian, terutama Erik yang memang belum tahu apa-apa. Sepertinya kencannya semalam dengan Mia membuat pria itu telah ketinggalan banyak informasi yang kini membuatnya kebingungan.
Jordan memejamkan matanya mencoba untuk melihat dengan mata batinnya. Pria itu mencoba menelusuri masalah Joshua dengan kelebihannya. Ia tampak berkonsentrasi hingga wajahnya berubah menjadi tegang dan keringat mengucur dari dahinya walau ruangan itu di lengkapi dengan penyejuk udara.
Jordan hampir saja terjatuh andai Erik tak menggapai tangan pria itu. Nampaknya ada hal buruk yang terjadi di dalam penglihatannya sehingga membuat pria itu sedikit syok dan tegang.
"Apa yang terjadi?" tanya Ziga tak kalah panik melihat kondisi Jordan, ia tidak tahu mengapa sepupu istrinya nampak seperti ketakutan.
Begitu pula dengan Joshua, selain terkejut pemuda itu juga merasa sedih, karena sepertinya Jordan mungkin tidak akan sanggup melawan sesuatu yang selama ini menahan rohnya. Pria itu hanya bisa pasrah seandainya memang ia tidak dapat lagi kembali ke dalam raganya.
****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya. Ay juga minta tolong untuk rate bintang 5 novel ini, karena rate-nya menjadi semakin berkurang. Ay minta tolong untuk menaikkan kembali rate-nya dengan memberikan ulasan bintang 5.
Sekali lagi terimakasih sesudah dan sebelumnya, tolong rate bintang 5 ya.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘
__ADS_1