Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 45


__ADS_3

Jangan biarkan hal kecil merusak kebahagiaanmu sepanjang hari. Tinggalkan yang membuatmu sedih karena kamu pantas mendapatkan bahagia.


~Ay Alvi~


"Lalu kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Via yang sudah tidak sabar melihat sahabatnya mengenakan gaun pengantin dan berjanji di atas altar di hadapan Tuhan.


"Minggu depan," jawab Nadhya dengan mata berbinar, gadis itu benar-benar merasa bahagia karena akhirnya penantian dan kesetiaannya kepada Joshua selama ini tidak sia-sia.


"Selamat Nadh," ucap Via memeluk tubuh sahabat sekaligus sepupunya tersebut. Ia ikut bahagia mendengar kabar gembira ini.


Jordan yang mendengar hal itu pun langsung melirik ke arah Sera membuat gadis itu menundukkan kepalanya. Ia telah menyatakan perasaannya kepada Sera, namun hingga saat ini belum ada jawaban pasti dari gadis asal Yogyakarta itu.


"Selamat Nadh, Josh," ucap Jordan tulus, namun nampak terlihat di mata pria itu ia merasakan sedikit kesedihan karena hingga saat ini hanya Jordan lah yang masih berstatus Jomblo.


Pernyataan cintanya pada Sera belum mendapat tanggapan dari gadis asal Yogyakarta itu. Akan tetapi, i tidak akan menyerah begitu saja. Apalagi saat ini Sera bertugas sebagai asisten pribadinya, maka ia akan memanfaatkan hal tersebut untuk lebih dekat dengan gadis yang saat ini hidup sebatang kara itu.


"Sepertinya hanya aku yang belum beruntung," keluh Jordan kembali melirik Sera yang berada tepat di sampingnya.


Sera semakin menundukkan kepalanya, wajahnya memerah mendengar keluhan Jordan. Bukannya ia tidak ingin membuka hatinya untuk pria itu, hanya saja mereka belum lama kenal, jadi Sera tak ingin terlalu terburu-buru. Di tambah saat ini ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hal tersebut membuat banyak pertimbangan yang harus di pikirkan oleh Sera. Ia tidak ingin kecewa apalagi gagal dalam pernikahan. Oleh karena itu ia berharap Jordan dapat bersabar menunggunya membuka hati untuk pria itu.


"Sudah sebaiknya kita makan malam sekarang, semua sudah siap," ujar Ayu yang di sertai anggukan setuju Weny.


"Ayo semua makan karena untuk bisa bahagia kita perlu makan bahkan walau bahagia itu hanya pura-pura," kelakar Weny di sambut gelak tawa semuanya. Akhirnya seluruh bagian keluarga itu makan malam bersama dan menghabiskan waktu mereka untuk membahas pernikahan Nadhya dan Joshua setelahnya.


Sementara itu di pantai, Mia duduk di pasir karena lelah. Menikmati matahari terbenam di pinggir pantai dengan kekasihnya adalah keinginan gadis itu yang terdalam dan kini bisa terwujud oleh Erik yang sengaja memberi kejutan dengan membawa gadis itu ke tempat ini.

__ADS_1


"Kapan kita bisa menikah?" tanya Erik memeluk tubuh Mia dari belakang. Pria itu duduk di hamparan pasir putih melingkarkan lengannya di pinggang kekasih kecilnya.


Mia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih, ia memejamkan mata menikmati keindahan suasana romantis ini.


"Tunggu aku lulus kuliah," jawab Mia masih dengan mata terpejam, masih butuh waktu tiga tahun lebih lagi sebelum gadis itu mencapai gelar sarjananya, apakah Erik bersedia untuk menunggunya?


Erik menghela nafas panjang, saat ini umurnya sudah hampir kepala tiga. Ia ingin segera melepas masa lajangnya, namun apa daya karena sang kekasih saat masih berada di bangku kuliah. Walau sebenarnya bisa saja Erik memaksa Mia untuk menikah saat ini juga, akan tetapi ia menghormati keputusan kekasihnya jadi Erik akan bersabar hingga waktunya tiba.


"Apa tidak terlalu lama?" tanya Erik meletakkan kepalanya di ceruk leher Mia.


Mia membalikkan tubuhnya, meraih wajah Erik dengan kedua tangannya kemudian menatap pria itu lekat-lekat.


"Sabar ya sayang, semua akan indah pada waktunya," ucap Mia bijak.


Erik meraup wajah sang kekasih kemudian mencium lembut bibir gadis muda itu. Melepaskan semua hasrat yang ada di dalam dirinya. Mia pun membalas ciuman Erik, gadis itu juga merasakan hal yang sama. Hanya saja untuk saat ini Mia ingin berkonsentrasi terlebih dahulu dengan kuliahnya.


Mereka pun segera meninggalkan pantai dan kembali menuju kediaman keluarga Pratama. Sepanjang perjalanan Erik tidak pernah melepaskan genggamannya kepada Mia, pria itu seolah tidak ingin kehilangan kesempatan untuk terus memanjakan Mia dengan sikap romantisnya.


Di kediaman Pratama sendiri masih di sibukkan oleh perbincangan tentang rencana pernikahan Joshua dan Nadhya. Kali ini mereka memilih salah satu gereja di New York untuk menjadi saksi janji suci mereka, begitu juga resepsi pernikahan yang akan di gelar di salah satu hotel milik Ziga sepupunya.


Nadhya tidak ingin mengadakan rencana pernikahan di luar kota karena gadis itu takut kejadian tiga tahun yang lalu akan terulang kembali. Di tambah lagi usia kakek Joshua telah menua sehingga tidak dapat bepergian jauh karena dapat mengganggu kesehatannya.


Sama halnya dengan Joshua, pria itu juga sangat menantikan hari bahagia itu tiba. Tiga tahun terpisah dari raganya membuat pria itu begitu merindukan Nadhya dan semakin mencintai gadis itu.


"Bagaimana kalau kita bulan madu ke Bali?" tanya Joshua karena pria itu memang belum pernah mengunjungi pulau Dewata tersebut.

__ADS_1


"Ide yang bagus, aku juga ingin pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan kak Reza," ujar Via menyetujui saran calon suami sahabatnya itu.


"Benar, Bali pulau yang indah dan Indonesia juga di penuhi warga yang ramah," ucap Jordan mempromosikan negara asalnya kepada Joshua.


Nadhya pun mengangguk setuju dengan apa yang menjadi saran Joshua. Walau ia sendiri sudah seringkali ke Bali, namun tentu rasanya akan sangat berbeda jika berada di sana dengan pria yang sangat di cintainya yang kelak akan menjadi suaminya tersebut.


"Selain Bali, kita juga masih bisa mengunjungi tempat lain di Indonesia," ujar Nadhya yang menginginkan bulan madu mereka hanya sebatas wilayah Bali saja. Nadhya ingin memperkenalkan berbagai daerah di Indonesia yang sangat indah dan tentu saja tidak kalah dengan Bali yang namanya telah tersebar mancanegara.


Mereka semua yang berada di sana mengangguk setuju pada apa yang di katakan oleh Nadhya karena sebagian dari mereka memang berasal dari negara yang kaya akan keindahan alam dan budayanya itu.


Namun, di tengah-tengah perbicangan mereka tiba-tiba ponsel Ziga berdering, telepon dari Marco memanggil pria itu.


"Halo, ada apa?" tanya Ziga.


"Apa kau bilang?!" Ziga kembali bertanya, pria itu membelalakkan matanya tak percaya akan apa yang di dengar dari Marco anak buahnya.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2