Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 25


__ADS_3

Cara terbaik menghukum orang yang telah melakukan kesalahan terhadap kita ialah dengan berbuat baik kepadanya.


~Ay Alvi~


"Uncle awas!" Zeline memberi peringatan ketika Joshua akan memukul Howard untuk kedua kalinya. Bocah kecil itu merasakan bahaya yang mengancam saat Joshua bergerak untuk memukul Howard.


Namun, peringatan dari Zeline datang terlambat, Joshua tetap melayangkan tinjunya ke arah Howard dan seketika pria itu berteriak kesakitan. Joshua merasakan sensasi terbakar di sekitar tubuhnya saat ia mendekati sepupunya yang jahat tersebut.


Joshua terguling sembari memegangi dadanya yang terasa sangat sakit seolah-olah jantungnya akan meledak dan terbakar. Zeline segera turun dari gendongan sang ayah lalu menghampiri pria itu dan menggenggam tangannya. Tak lama kemudian barulah Joshua tampak tenang, tidak lagi merasakan kesakitan.


Howard menoleh begitu mendengar teriakan Zeline, pria itu tampak kebingungan melihat apa yang dilakukan oleh bocah kecil itu. Howard menautkan kedua alisnya, merasakan ada yang janggal dengan apa yang di lakukan oleh putri kecil keluarga Pratama itu.


"Apa yang terjadi?" tanya Howard kepada Ziga, pria itu penasaran apa yang membuat Zeline berteriak.


"Tidak ada, putriku terlalu antusias melihat kelinci berkeliaran," jawab Ziga berbohong, terlintas ide di benak pria tersebut setelah melihat beberapa ekor kelinci saling berkejaran. Karena Howard mengajak mereka makan siang di kebun yang terdapat di belakang bangunan rumah sehingga memang banyak kelinci yang berkeliaran.


Howard tersenyum, pria itu percaya pada apa yang di katakan oleh Ziga. Ia pun mengambil seekor kelinci berwarna putih kemudian memberikannya kepada Zeline yang saat ini tengah berjongkok menggenggam tangan Joshua.


"Kau menyukainya gadis manis?" tanya Howard menyodorkan kelinci putih tersebut kepada Zeline.


Bocah kecil itu mengerjapkan matanya menatap Howard dengan tajam. Lalu entah mengapa pria itu kemudian merasakan sesak di dalam dadanya. Howard terhuyung ke belakang, entah kekuatan apa yang di miliki oleh bocah berusia lima tahun tersebut. Ia merasa keberadaan Zeline membuat dirinya merasa terancam.


"A-Apa yang dia lakukan?" tanya Howard kepada Ziga sembari menunjuk ke arah Zeline. Pria itu merasakan sesak di dadanya.


"Apa maksudmu?" tanya Ziga yang memang tidak mengerti karena ia melihat putri kecilnya itu tidak melakukan apa-apa. Jordan sendiri tak kalah bingung, pria itu hanya melihat Zeline menatap tajam ke arah Howard tanpa melakukan apa-apa.


"Putrimu ... putrimu," ucap Howard yang tiba-tiba saja langsung tak sadarkan diri.


Mereka semua panik melihat Howard yang terkapar tak sadarkan diri. Jordan pun memanggil asisten pria tersebut untuk membantu membawa Howard masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Daniel segera memanggil Peter yang tengah berada di bagian Utara pulau untuk memeriksa keadaan Howard. Para pelayan pun membawa tubuh Howard ke dalam kamar utama yang terdapat di dalam bangunan besar itu.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan sayang?" tanya Ziga kepada putri kecilnya tersebut. Ia juga tidak paham apa yang sebenarnya terjadi.


Zeline terdiam, bocah itu tidak menjawab malah mengerjapkan matanya menatap sang ayah dengan wajah polosnya.


"Zeline memiliki suatu kekuatan lewat tatapan matanya," bisik Jordan kepada Ziga. Pria itu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Howard.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Albert yang datang bersama dengan Peter, kakek tua itu langsung datang begitu mendengar dari Daniel bahwa cucu tirinya itu tak sadarkan diri.


"Kakek!" panggil Nadhya begitu melihat Albert datang dengan menggunakan kursi rodanya. Gadis itu memang pernah beberapa kali bertemu dengan kakek dari Joshua tersebut.


"Apa kakek masih ingat padaku?" tanya Nadhya begitu melihat kakek Albert tampak kebingungan.


"Oh Tuhan, kau gadis kecil Joshua," ucap Albert begitu mengingat siapa Nadhya. Pria tua itu memang selalu memanggil Nadhya dengan sebutan gadis kecil Joshua.


Albert merentangkan tangannya meminta Nadhya untuk memeluknya karena pria itu begitu merindukan gadis yang selama ini menjadi kekasih dari cucunya tersebut.


Nadhya menghampiri Albert kemudian memeluk kakek dari Joshua sembari menangis terisak. Ia tidak menyangka setelah sekian tahun lamanya akhirnya Nadhya dapat bertemu kembali dengan Albert walau keadaan pria itu tampak tidak begitu baik.


"Bagus sekali kau datang, kau bisa membantu agar Joshua bisa kembali terbangun," ucap Albert senang, pria tua itu berpikir mungkin kedatangan Nadhya dapat membuat keadaan cucunya membaik.


"Ma-maksud Kakek?" tanya Nadhya sedikit bingung, tetapi gadis itu juga senang mendengar ucapan Albert yang berarti kakek tua itu mengetahui di mana tubuh Joshua berada.


"Ikutlah denganku," ajak Albert kepada Nadhya , ia ingin menunjukkan keadaan cucunya kepada gadis itu.


"Maaf Tuan, Anda tidak bisa membawa sembarang orang untuk memasuki wilayah Utara," larang Daniel, pria itu khawatir Howard akan marah jika mengetahui Albert membawa orang asing masuk ke dalam wilayah Utara pulau yang memang di larang oleh Howard.


"Pulau ini adalah milikku, jadi aku berhak untuk membawa siapapun masuk ke dalam pulau ini tanpa persetujuan kau atau siapapun!" bentak Albert marah kepada Daniel karena pria itu tidak menghargai dirinya sebagai pemilik resmi dari pulau tersebut.

__ADS_1


"Tapi, Tuan Howard ...."


"Howard tidak memiliki hak untuk melarang siapa yang ingin aku bawa masuk ke dalam pulau!" tegas Albert sebelum Daniel dapat meneruskan ucapannya.


"Harusnya kau tahu untuk siapa kau bekerja," ucap Nadhya menyindir pria yang tampak jelas tengah membela Howard.


Daniel tidak dapat menjawab, ia mengetahui dengan jelas bahwa sebenarnya yang membayar upahnya selama ini adalah Albert karena jelas bahwa semua kekayaan ini adalah milik Albert bukanlah milik Howard pria yang selama ini memberi perintah kepadanya.


"Mari Tuan-tuan ikuti saya, dan kau bocah kecil siapa namamu?" tanya Albert kepada Zeline yang kini berada di dalam gendongan Ziga.


Zeline turun dari gendongan sang ayah kemudian menghampiri Albert untuk memberi salam kepada kakek tua itu.


"Zeline Grandpa," jawab Zeline membungkuk hormat di hadapan Albert membuat lelaki itu tertawa melihat sikap Zeline yang masih kecil namun tampak berpendidikan.


Albert pun segera membawa para tamunya untuk menuju bagian Utara pulau dengan di bantu oleh beberapa orang pelayan. Peter sendiri masih memeriksa keadaan Howard yang belum juga sadarkan diri. Pria itu sedikit bingung karena menurut hasil pemeriksaan yang telah di lakukannya, Howard tidak mengalami masalah kesehatan apapun. Pria itu jelas sehat-sehat saja.


"Apa yang terjadi pada Tuan Howard?" tanya Daniel penasaran dengan apa yang terjadi pada Tuannya tersebut. Ia berharap Howard cepat sadar karena pria itu khawatir kejahatan mereka akan terbongkar setelah Albert membawa Ziga dan rombongannya memasuki wilayah Utara pulau.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2