Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 55


__ADS_3

Setelah kepergian keluarga Pratama dari Praha, Erik pun segera mengantarkan Mia kembali menuju apartemen sesuai dengan permintaan gadis itu. Ia sendiri memang telah meminta izin kepada atasannya untuk sementara waktu akan tinggal di Praha guna menemani Mia yang saat ini tengah dalam keadaan berkabung.


"Sebaiknya kau kembali ke hotel untuk istirahat," ucap Mia yang tahu jika Erik sang kekasih pasti merasa lelah setelah mengurus semuanya.


Erik ingin membantah, sejujurnya pria itu ingin menemani sang kekasih. Namun, melihat sikap Mia yang sepertinya memerlukan waktu untuk sendiri akhirnya Erik pun menurut.


"Jika kau butuh sesuatu cepat hubungi aku," ucap pria tersebut mengecup puncak kepala Mia dengan lembut kemudian mengusak rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.


Mia mengangguk kemudian gadis itu memeluk erat tubuh sang kekasih sebelum akhirnya melepas untuk membiarkan Erik pergi. Sebenarnya Mia ingin sendiri untuk mencari tahu kebenaran yang selama ini di sembunyikan oleh sang nenek yang tadi sempat di bisikan oleh Zeline sebelum bocah itu naik ke atas pesawat yang akan membawa satu keluarga itu kembali menuju New York.


Mia memasuki kamar nenek Mila dan membuka lemari pakaian seperti apa yang di bisikkan oleh Zeline di bandara. Ia ingin segera mengetahui rahasia apa yang telah di sembunyikan oleh neneknya tersebut.


Akhirnya Mia pun menemukan sebuah kotak yang terlihat amat kuno. Gadis itu pun segera mengambil kotak dan menutup kembali lemari milik nenek yang paling di sayanginya tersebut.


Mia duduk di atas ranjang dan mulai membuka kotak yang berukuran tidak terlalu besar itu untuk mengetahui apa isi di dalamnya.


Di dalam kotak tersebut ada sebuah photo sepasang suami istri dan juga seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun saat itu. Dan juga ada selembar surat juga sebuah kalung dengan bandul bunga mawar ada di dalam kotak itu.


Gadis berusia sembilan belas tahun itupun mengambil sepucuk surat kemudian membuka lalu membaca isi surat tersebut.


*Mia cucuku, seandainya engkau membaca surat ini sudah dapat di pastikan bahwa nenek telah pergi dari dunia ini karena nenek tidak sanggup jika harus menceritakan semua ini secara langsung kepadamu.


Mia sayang, maafkan nenek yang selama ini tidak pernah jujur kepadamu. Namun, semua ini nenek lakukan karena nenek sangat menyayangimu dan nenek tidak ingin kamu terluka akibat perselisihan yang terjadi di keluarga kedua orang tuamu.

__ADS_1


Mia, jika kau membaca surat ini, pasti kau juga menemukan selembar photo dan juga kalung yang ada bersama dengan photo ini.


Photo itu adalah photo kedua orang tuamu dan juga kakak laki-lakimu yang terpisah sejak kau masih berusia tiga tahun.


Maafkan nenek yang selama ini berbohong dan selalu mengatakan kepadamu bahwa kedua orang tuamu bercerai dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mau mengurusmu*.


*Mia sebelum kau mendengar kenyataan yang sebenarnya nenek harap kau dapat memaafkan wanita tua ini dan juga tegar menghadapi kenyataan tentang hidupmu yang sebenarnya.


Keluarga dari ibumu tidak pernah menyetujui pernikahan ibu dan ayahmu. Ketika kau berusia tujuh tahun, kau dan kedua orang tuamu mengalami kecelakaan sehingga kau mengalami amnesia dan kedua orang tuamu meninggal.


Sebelum meninggal ibumu menitipkanmu kepada nenek dan meminta nenek untuk merawat serta merahasiakan tentang asal-usulmu hingga nanti kau cukup dewasa dan dapat mencari keberadaan kakak kandungmu.


Carilah keberadaan kakakmu dengan menunjukkan kalung yang ada di dalam kotak ini. Ini adalah kalung milik almarhum ibumu yang merupakan identitas dari keluarga besarnya.


Salam sayang dari nenekmu*.


Mia melipat kembali surat dari nenek Mila sembari meneteskan air mata karena ia tidak menyangka bahwa kisah hidupnya akan serumit ini.


Gadis itu tampak memandangi photo yang menurut nenek Mila adalah kedua orang tua dan juga kakaknya. Selama hidupnya ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua dan saudara, ia hanya memiliki seorang nenek yang ternyata juga bukan nenek kandungnya.


Mia mengambil kalung dari dalam kotak, lalu mengenakannya. Ia akan menuruti sang nenek untuk mencari keberadaan sang kakak yang entah berada dimana. Gadis itu menghela nafas kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memejamkan merilekskan tubuh dan juga pikirannya. Mia berharap semiga saja Tuhan akan memberikan kemudahan untuk jalan hidup ke depannya nanti.


Di tempat lain. Aldrich tampak tengah merenung sembari memandang photo Mia yang menurut bawahannya adalah adik kandungnya yang telah lama hilang.

__ADS_1


Ia tidak menyangka jika gadis yang selama ini ia cintai dan juga ia kagumi adalah adiknya kandungnya sendiri. Pria itu membuang nafas kasar, mengapa takdir seoalah mempermainkannya. Aldrich yang selama ini tidak pernah jatuh cinta harus menelan kekecewaan ketika pemuda itu mengetahui kenyataan ini.


Aldrich menenggak habis wine yang tersisa di dalam gelasnya. Pria itu mengacak rambutnya frustasi karena belum dapat menerima kenyataan ini. Hingga sekarang aldrich masih menolak kenyataan kalau Mia adalah adik kandungnya yang selama ini ia cari.


"Argggghhh!!!" teriak Aldrich kesal, ia membanting gelas dari genggamannya hingga pecah berkeping-keping.


"Mengapa harus seperti ini? Mengapa?" pekik Aldrich kesal, pria itu meninju dinding yang ada di belakangnya hingga buku-buku tangannnya berdarah.


"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Diana kepala pelayan di mansion itu. Wanita itulah yang selama ini merawat Aldrich sejak kedua orang tua dari pria itu meninggal dalam kecelakaan.


Aldrich tidak menjawab, tubuh pria itu melorot ke bawah dan terduduk di lantai. Diana yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tuan mudanya segera menghampiri Aldrich untuk menenangkan pria berusia dua puluh lima tahun itu.


"Tuan tangan Anda?" Diana memekik histeris ketika melihat buku-buku tangan pria itu terluka dan berdarah. Diana segera bergegas mengambil kotak P3K untuk mengobati tangan Aldrich.


"Tuan, sebenarnya ada apa?" tanya Diana lembut, wanita itu membersihkan luka aldrich dengan alkohol kemudian mengoleskannya dengan obat yang harusnya sedikit perih, namun aldrich benar-benar tidak bereaksi apa-apa. Ia lebih mirip cangkang kosong atau juga manekin yang tidak bergerak.


Aldrich kembali tidak menjawab pertanyaan Diana, ia malah memeluk tubuh wanita yang sudah di anggap seperti ibunya sendiri.


"Mengapa hidupku seperti ini?" ratap Aldrich di dalam pelukan Diana, ia menangis tanpa malu di hadapan wanita paruh baya itu.


"Memgapa Bi? Mengapa Tuhan begitu kejam kepadaku?" Aldrich bertanya dengan putus asa kepada kepala pelayannya tersebut.


Pria itu menangis bukan karena masalah cintanya kepada Mia yang saat ini menjadi cinta terlarang untuknya. Ia menangis karena pria itu harus menuruti perintah sang kakek sang sejak awal tidak menyukai keberadaan adik perempuannya tersebut tanpa alasan yang ia ketahui.

__ADS_1


*Jangan lupa like, coment, vote dan juga tips ya, biar Ay makin semangat*


__ADS_2