Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 27


__ADS_3

Aku lupa kapan kita pertama bertemu, tapi kuharap kamu tetap bersamaku sampai akhir usia. Aku lupa apa saja yang kita lalui, tapi aku paham jika kamu adalah yang paling berharga.


~Ay Alvi~


"Maaf jika Anda harus terlibat Tuan Pratama, tapi aku tidak bisa membiarkan kau keluar dari pulau ini," ucap Howard mendorong masuk tubuh Ziga ke dalam ruangan tersebut.


"Dan kau lebih baik temani aku Nona." Howard menarik Nadhya ke dalam pelukannya dengan menodongkan senjata ke arah gadis itu.


Joshua membelalakan matanya, ingin sekali ia menghabisi nyawa Howard yang berani menyentuh Nadhya kekasih hatinya. Namun, ia juga harus menahan amarahnya karena tidak ingin kejadian seperti tadi terulang kembali.


Akhirnya, Howard berhasil menawan Ziga dan yang lainnya. Pria itu juga mengambil ponsel milik mereka semua agar tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menghubungi orang luar untuk meminta bantuan.


Zeline juga ikut di masukkan bersama dengan ayah dan juga pamannya Jordan serta kakek tua Albert. Hanya Nadhya yang d bawa terpisah oleh Howard. Gadis itu di tahan di ruangan yang berbeda dengan saudara sepupunya.


"Lebih baik kau menjadi istriku daripada mengharapkan pria yang tidak lagi berguna," ucap Howard mendorong tubuh Nadhya ke dalam kamar hingga gadis itu terhempas di ranjang.


"Cih!" Nadhya berdecih mendengar ucapan Howard, ia merasa jijik kepada pria yang tidak tahu malu itu.


Howard meraih dagu Nadhya kemudian menatap wanita itu dalam-dalam.


"Kau pasti akan menjadi milikku sayang," ucap Howard membuang wajah Nadhya kesal karena gadis itu meludahinya.


Pria itu menyeka wajahnya dengan sapu tangan lalu Howard pun berdiri meninggalkan Nadhya sendiri di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


"Ucapkanlah selamat tinggal kepada kekasihmu yang tidak berguna karena hari ini aku akan menghabisi nyawa Joshua untuk yang kedua kalinya," ujar Howard sebelum menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Dasar ********!" maki Nadhya melemparkan sepatu yang di pakainya ke arah pintu, sayangnya Howard telah menutup dan mengunci pintu sehingga lemparan sepatu Nadhya tidak mengenai Howard.


"Buka! Cepat buka pintunya Howard! Aku tidak akan membiarkanmu untuk mendekati Joshua!" teriak Nadhya sembari menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaganya.


Gadis itu terus memukul-mukul pintu hingga ia merasa lelah, air mata membasahi pipinya ketika membayangkan Howard kembali menyakiti Joshua. Nadhya bersumpah, jika ia bisa keluar dari tempat ini, ia sendiri yang akan membunuh Howard dan membuat pria tidak dapat lagi merasakan indahnya dunia.


"Jaga gadis itu! Jangan sampai ia keluar!" pesan Howard kepada kedua orang yang ia perintahkan untuk berjaga di depan pintu kamar tempat Nadhya di tahan.


Kedua anak buah pria itu pun mengangguk menuruti perintah Howard.


Sementara itu di dalam ruangan tempat Ziga dan yang lainnya di tahan yang juga adalah tempat terbaringnya tubuh Joshua. Albert memandangi ke arah tubuh Joshua dengan tatapan mata yang sedih. Pria tua itu tidak menyangka bahwa kini ia harus di khianati oleh Howard cucu tirinya yang selama ini selalu ia berikan kasih sayang.


Namun, sifat pemuda itu sendirilah yang membuat Albert harus berpikir ulang untuk mewariskan harta kekayaannya kepada pria yang kini malah berbalik menusuk dirinya.


"Maaf Tuan, Anda semua menjadi seperti ini karena keserakahan cucuku," ucap Albert menyesali apa yang terjadi kepada mereka tamu yang seharusnya di sambut dengan hormat bukan dengan cara seperti ini.


"Tidak apa Tuan, kami memang telah mempersiapkan diri untuk hal ini," jawab Ziga berjongkok di hadapan Albert yang masih duduk di kursi rodanya.


"Maksud Anda?" tanya Albert tak mengerti karena pria tidak mengetahui apa tujuan Ziga datang ke pulau tersebut.


"Kedatangan kami ke sini adalah untuk menolong Joshua cucu kakek," jawab Ziga membuat Albert semakin bingung dan keheranan.

__ADS_1


"Grandpa, Zel mau tolong Uncle Josh," ucap Zeline menggenggam tangan Albert dan menatap mata pria tua itu.


Albert hampir saja menitikkan air matanya saat ia melihat wajah polos Zeline. Ia tidak menyangka bahwa bocah sekecil itu memiliki niat terpuji untuk menolong Joshua. Bahkan mungkin cucunya yang akan di tolong tersebut tidak mengenal Zeline.


"Terimakasih sayang, tapi Uncle Josh tidak mudah di tolong. Ia sudah lama seperti ini," ucap Albert membelai lembut rambut Zeline.


"Kakek harus percaya bahwa Joshua pasti akan bisa kembali seperti semula," kata Jordan kali ini ikut bicara setelah sedari tadi pria itu hanya mengamati raga Joshua yang terbaring seperti tengah tertidur dalam damai.


Albert mengalihkan pandangannya kepada Jordan, ingin sekali ia mempercayai apa yang di katakan oleh pria muda itu. Hanya saja, ini sudah terlalu lama, tiga tahun telah berlalu dan keadaan sang cucu tidak pernah mengalami perubahan sedikitpun.


"Kakek tenang saja, bantu kami dengan doa agar Joshua bisa kembali seperti semula," ujar Jordan kembali memeriksa tubuh Joshua dan mencari benda yang selama ini membuat roh Joshua tidak dapat memasuki raganya.


Setelah memeriksa seluruh bagian tubuh Joshua akhirnya Jordan menemukan apa yang menjadi penghalang roh Joshua untuk memasuki raganya. Di tubuh pria itu terdapat tanda yang menurut aliran kepercayaan simbol tersebut adalah untuk mengunci jiwa seseorang.


Dan kini, untuk mengembalikan roh Joshua ke dalam tubuhnya mereka harus menghapus tanda tersebut dari tubuh pemuda itu. Jordan pun berpikir keras bagaimana caranya untuk menghilangkan simbol yang melekat di tubuh Joshua.


Zeline menatap roh Joshua yang kini berdiri di samping raganya. Pria itu menatap tubuhnya dengan perasaan yang sedih. Ia khawatir tidak akan bisa kembali lagi ke dalam raganya apalagi kini Nadhya kekasih hatinya tengah di tawan oleh Howard. Joshua ingin segera kembali ke dalam tubuhnya untuk menyelamatkan nyawa calon istrinya tersebut.


"Uncle Josh kemarilah!" ajak Zeline meminta pria itu untuk mendekat kepadanya. Sebelah tangan bocah itu menggenggam tangan Joshua yang terbaring di atas ranjang.


Pria itu mengikuti permintaan Zeline mendekati bocah kecil yang kini tengah memejamkan matanya. Zeline tampak berkonsentrasi dengan apa yang tengah di lakukannya.


"Bagaimana, sudah kau dapatkan sinyal dari Tuan Muda?" tanya Marco kepada Erik, mereka tengah menunggu perintah dari Ziga untuk menyerang kediaman Howard.

__ADS_1


Marco dan anak buahnya telah siap dengan senjatanya masing-masing. Mereka hanya tinggal menunggu aba-aba dari Ziga di mana mereka harus menyerang untuk melumpuhkan Howard.


__ADS_2