
Tak perlu mengkhawatirkan mereka yang membicarakanmu di belakang. Mereka ada di belakangmu karena suatu alasan.
~Ay Alvi~
Pagi hari sesuai dengan janjinya pada Mia, Erik datang menemui gadis itu untuk mengajaknya berkeliling kota New York sebelum Mia kembali ke Praha beberapa hari lagi.
"Selamat pagi sayang," sapa Erik mencium pipi Mia sekilas mengejutkan gadis yang tengah menunggunya di taman depan kediaman Pratama.
"Pagi, kau mengejutkanku saja," jawab Mia tersipu malu karena di taman tersebut ada Via yang tengah menggendong putra bungsunya Juan.
"Jangan kau kira hanya kau saja yang bisa," ucap Ziga merangkul tubuh sang istri dari belakang kemudian mencium lembut pipi ibu tiga anak itu.
"Daddy!" tegur Via membelalakkan matanya karena sikap Ziga yang tidak mau kalah saing oleh asisten pribadinya tersebut. Tak lupa wanita asal Indonesia itu mencubit gemas pinggang sang suami yang baru saja mencium pipinya di hadapan Erik dan Mia.
"Aww, sakit Mom," keluh Ziga mengusap pinggang yang baru saja di cubit oleh sang istri sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa Daddy jahil, jangan ganggu mereka," gerutu Via sembari menunjuk Mia dan Erik yang saat ini tengah menahan tawa melihat tuan muda di marahi oleh sang nyonya.
"Kita sudah memiliki tiga putra jadi jangan iri dengan mereka yang belum menikah," tambah ibu muda itu seraya mencium Juan yang saat ini ikut tertawa seolah mengerti sang ayah tengah mendapat peringatan dari ibunya.
Ziga hanya dapat menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pria itu tidak berani menentang perkataan Via. Semenjak bertemu kembali setelah lima tahun berpisah, Ziga telah berjanji bahwa ia tidak akan sekalipun menyakiti dan menentang perkataan Via. Maka dari itu semua yang di katakan oleh istrinya adalah perintah yang benar yang tidak dapat ia bantah.
"Aunty, bolehkah aku pergi dengan Erik?" tanya Mia meminta izin kepada Via karena selama di New York ibu tiga orang anak itulah yang menampung dirinya.
"Pergilah sayang, nikmati harimu," jawab Via memberikan Mia kesempatan untuk bisa bersama dengan Erik.
__ADS_1
"Tapi, Aku belum mengizinkanmu Erik. Bahkan kau belum meminta izin padaku," ucap Ziga meraih Juan sang putra bungsu ke dalam gendongannya. Hari ini memang ia sengaja tidak berangkat ke kantor karena ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarganya setelah kemarin ia harus meninggalkan mereka untuk mengurus masalah Joshua.
Erik tercengang mendengar apa yang di katakan oleh Ziga. Memang benar perkataan sang tuan muda bahwa ia belum meminta izin dari Ziga untuk dapat pergi bersama kekasihnya. Namun, itu bukan ia lakukan dengan sengaja, Erik berpikir ini adalah hari liburnya jadi tidak perlu izin lagi kepada kepala keluarga Pratama tersebut.
"Maaf Tuan, saya pikir ...."
"Sudah jangan dengarkan! Kau ajak saja Mia pergi, aku telah mengizinkanmu Erik," potong Via sebelum Erik menyelesaikan ucapannya. Wanita itu tahu jika sang suami hanya mengerjai Erik, maka dari itu dengan cepat Via menyela sebelum Ziga mengganggu kedua pasangan yang tengah di mabuk cinta itu.
"Terimakasih Nyonya, kalau begitu kami permisi Tuan, Nyonya," pamit Erik kepada pasangan tersebut yang di jawab oleh anggukan Via, sedangkan Ziga sendiri masih sedikit tak senang karena kali ini sang istri lebih membela Erik ketimbang dirinya.
"Mengapa Mommy mengizinkannya pergi begitu saja," keluh Ziga duduk di bangku taman sembari menimang Juan dalam pangkuannya.
Via menghela nafas, sejujurnya ia merasa itu dengan Erik dan Mia. Kisah cinta yang ia alami dengan sang suami tak seperti mereka. Keduanya bahkan tidak sempat mengenal lebih jauh sebelum akhirnya memutuskan untuk menjalin sebuah pernikahan kontrak demi untuk membiayai pengobatan Reza kakak Via.
"Terkadang Mommy iri dengan mereka," jawab Via membuat Ziga mengernyitkan alisnya.
Via mengambil Juan yang kini telah tertidur dalam gendongan Ziga. Wanita itu membelai sang buah hati dengan penuh kasih sayang.
"Dulu kita tidak seperti mereka, semua terjadi begitu cepat bahkan bulan madu pun tidak," jawab Via, pandangan wanita itu menerawang mengingat masa lalu di antara mereka yang boleh di bilang tidak ada kata romantis di antara keduanya.
"Maafkan aku sayang," ucap Ziga penuh dengan penyesalan. Pria itu merasa bersalah atas semua yang terjadi dalam pernikahan mereka. Ziga menarik kepala Via agar bersandar di bahunya. Pria itu juga membelai mesra rambut panjang sang istri.
Via menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan permintaan maaf Ziga. Bagaimanapun ia juga bersalah karena memilih untuk pergi meninggalkan pria itu sehingga mereka terpisah lima tahun lamanya. Namun, mungkin memang karena sudah jodoh Tuhan mempertemukan kembali keduanya dan kini mereka hidup bahagia dengan ketiga putra dan putrinya.
"Mommy juga bersalah, tidak seharusnya Mommy pergi meninggalkan Daddy waktu itu," sesal Via.
__ADS_1
Ziga mengecup lembut puncak kepala istrinya, "Sudah tidak usah di bahas lagi, yang terpenting sekarang kita telah bahagia," ucap Ziga kali ini beralih mengecup pipi Juan yang masih tertidur lelap.
Via memejamkan matanya, wanita itu bersyukur kepada Tuhan atas semua anugerah yang di berikan oleh-NYA. Kini hidupnya telah bahagia dengan di dampingi seorang suami yang pengertian dan tiga orang putra dan putri yang lucu dan menggemaskan.
***
"Kita mau kemana?" tanya Mia kepada Erik yang tengah mengendarai mobilnya. Sedari awal perjalanan Erik tidak memberitahu kemana tujuan mereka.
Pria itu hanya mengatakan akan membawa Mia ke sebuah tempat yang pastinya akan gadis itu suka. Namun, sudah hampir dua jam berkendara mereka belum juga tiba di tempat yang di maksud oleh Erik.
"Nanti kau juga akan tahu," jawab Erik yang semakin membuat Mia bertambah penasaran.
"Apa masih jauh?" tanya Mia lagi, gadis itu mulai bosan karena sudah lebih dari dua jam perjalanan, mereka belum juga tiba di tempat tersebut.
Erik membelokkan mobilnya ke arah pantai, kali ini ia membawa Mia untuk mengunjungi Rockaway beach yang terletak di pinggir kota New York. Ia sengaja membawa gadis itu kesana karena Mia sangat menyukai laut menurut cerita sang nenek kepada Erik.
"Wahh indahnya!" ucap Mia takjub, ia langsung berlari keluar dari mobil menuju pantai dengan hamparan pasir putih yang menakjubkan.
Gadis itu seolah lupa dengan keberadaan Erik di belakang, ia terus berlari kemudian melepas sepatunya untuk masuk ke dalam air. Mia sangat bahagia karena gadis itu memang menyukai lautan. Dahulu ketika kedua orang tua gadis itu belum bercerai mereka selalu membawa Mia untuk pergi ke pantai yang merupakan tempat favorit keluarga mereka.
"Apa kau menyukainya?" tanya Erik kepada gadis yang saat ini tengah bermain pasir sembari membasahi kakinya yang terkena deburan ombak.
Mia menganggukkan kepalanya, gadis itu sangat bahagia karena dapat lagi mengunjungi pantai setelah sekian tahun lamanya.
"Terimakasih, aku sangat menyukainya," jawab Mia seraya mencium sekilas pipi Erik kemudian gadis itu berlari menjauh dengan wajah yang memerah karena malu.
__ADS_1
"Hei, kau mau kemana sayang!" teriak Erik, pria itu mengejar sang gadis yang terus meledek menghindarinya.