
Masalah adalah anugerah Tuhan dengan bentuknya yang lain. Hadapi semua dengan percaya, doa dan usaha.
~Ay Alvi~
"Hemnmm ...." Ziga menutup hidungnya begitu tercium bau yang tidak sedap dari Pampers Juan.
"Mommy, Juan pup!" teriak Ziga begitu membuka popok milik putranya tersebut.
Via bangun dari tidurnya ketika mendengar teriakan keras sang suami yang memekakkan telinga. Mengucek mata yang masih mengantuk akibat rasa lelah yang menyerangnya setelah pertempuran panas dengan sang suami.
"Daddy kan bisa ganti popok Juan, semua keperluan dan petunjuknya ada di sana!" ucap Via menunjuk lemari kecil tempat barang-barang bocah mungil itu berada.
"Tapi, Daddy tidak bisa Mom," keluh Ziga mengusap tengkuknya. Pria itu bingung apa yang harus di lakukannya, ia tidak pernah berurusan dengan hal seperti ini. Walau telah memiliki putra dan putri kembar sebelumnya tapi pria itu tak berada di sisi Via hingga keduanya beranjak balita.
Via duduk di sisi ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada, wanita itu kali ini ingin mengerjai suaminya.
"Daddy harus belajar jadi suami dan ayah yang siaga!" ucap Via penuh penekanan walau dalam hati wanita itu tersenyum geli melihat suaminya yang tengah kebingungan.
Akhirnya dengan terpaksa Ziga pun segera mengganti popok Juan sesuai dengan petunjuk yang di berikan oleh Via. Pria itu mencoba belajar untuk menjadi ayah yang siaga seperti keinginan istrinya.
Baby J sendiri terkikik seolah menertawakan sang ayah yang dengan canggung mengganti popok milik bayi tampan tersebut. Belum selesai Ziga memakaikan Pampers milik Juan, tiba-tiba si mungil kembali pipis dan kali ini tepat mengenai wajah sang ayah yang tengah menunduk ke arahnya.
"Hahahaha." Via tergelak melihat hal tersebut, wanita itu tidak menyangka bahwa bayi mungilnya akan mengerjai Ziga seperti ini.
"Juan ...!!" pekik Ziga keras, "Mommy lihat kelakuan anakmu ini!" keluh Ziga, pria itu membersihkan wajahnya yang basah terkena pipis putra bungsunya.
Via kembali tergelak mendengar keluhan suaminya, ia memegangi perutnya yang sakit karena terus tertawa keras akibat Juan yang mengerjai sang ayah.
__ADS_1
"Maafkan Juan anakmu Daddy, namanya juga masih bayi," ucap Via memberikan handuk kepada suaminya kemudian mengambil alih tugas Ziga memakaikan popok milik Juan.
"Iya, bayi yang senang melihat ayahnya menderita, Mommy lihat sendiri bagaimana senangnya dia!" ucap Ziga menunjuk sang putra yang tengah menertawakannya.
Via menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum, wanita itu kemudian meletakkan Juan di atas boxnya dan menggoyang-goyangkan agar bayi itu kembali terlelap. Sementara itu Ziga beralih ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari perbuatan Juan.
Beberapa jam sebelumnya di kamar lain, Nadhya belum tertidur karena menunggu kedatangan Via sahabat sekaligus istri dari sepupunya tersebut.
"Kemana Via, sudah larut malam belum datang juga," gumam Nadhya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ia masih menunggu kehadiran sahabatnya itu yang berjanji akan bertukar cerita tentang masalah pribadi mereka.
Nadhya ingin menceritakan kisah cintanya dengan Joshua yang di mulai sejak tiga tahun lalu. Selain itu ia juga ingin mendengar kisah sahabatnya yang selama lima tahun belakangan pergi meninggalkan sepupunya dan membuat Ziga berada di dalam keadaan terpuruk.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dan kembali melirik jam yang terpasang di dinding. Sudah hampir tengah malam, tapi Via yang di tunggu-tunggu belum juga datang. Nadhya mengantuk, ia mulai memejamkan matanya. Untuk malam ini ia akan beristirahat setelah Via tudah datang ke kamarnya untuk bertukar cerita.
Akhirnya gadis itu mulai memejamkan mata dan tak lama Nadhya pun mulai terlelap dalam buaian mimpi.
"Kakek, kenapa masih diluar?" tanya Joshua,
"Udaranya sangat dingin, kakek harus jaga kesehatan!" tukas Joshua membawakan selimut untuk menutupi tubuh renta Albert.
"Terimakasih, tapi Kakek baik-baik saja," ucap Albert memegang tangan Joshua yang kini ada di bahunya.
"Bagaimana kabar keluarga Pratama?" tanya Albert masih dengan menatap langit malam yang terlihat cerah.
"Mereka semua baik-baik saja," jawab Albert berjalan ke hadapan Albert kemudian bersandar di balkon menghadap ke arah pria tua itu.
__ADS_1
"Kakek, apa hukuman yang pantas untuk Howard?" tanya Joshua, pria itu ingin tahu pendapat sang kakek yang juga mengalami kesakitan yang sama dengan dirinya atas perbuatan Howard.
Albert menghela nafas berat, mendengar nama Howard membuat kakek tua itu kembali merasakan sakit yang ada di dalam hatinya. Sakit atas kehilangan putri tercintanya di tangan Howard yang sedari kecil telah ia besarkan layaknya cucu kandung.
"Kakek ingin dia di hukum yang sama!" jawab Albert penuh dengan emosi di setiap ucapannya. Ia menginginkan keadilan untuk putrinya yang kini telah damai di surga.
Joshua mengangguk, ia setuju atas apa yang di katakan oleh sang kakek. Mata di bayae mata, kaki di bayar kaki dan nyawa di bayar dengan nyawa pula. Tuhan memang mengajarkan kita untuk memaafkan dan tidak menyimpan dendam. Hanya saja apa yang di perbuat Howard susah keterlaluan. Dalam umur yang masih belia, ia bahkan mampu membunuh seorang ibu yang juga telah merawatnya sejak kecil.
Lelaki itu benar-benar kejam, maka dari itu tidak ada alasan bagi Joshua untuk memaafkan pria yang saat ini tengah terbaring di ranjang rumah sakit tersebut.
"Baiklah Kakek, sudah larut malam. Ayo kita masuk ke dalam," ujar Joshua mendorong kursi roda Albert dan membantu pria itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Di apartemen lain, Jordan membawa pulang Sera dan juga Weny ibunya. Pria itu mengambil dua apartemen yang sama dan saling bersebelahan. Walau ada sang ibu, tapi Jordan tidak ingin membuat Sera tidak nyaman. Maka dari itu, pria tersebut memutuskan untuk membeli satu apartemen lagi untuk dirinya dan juga Weny.
"Sudah malam, sebaiknya kau segera istirahat!" titah Jordan kepada asisten pribadinya itu ketika mereka tiba di depan pintu apartemen milik Jordan yang kini di tempati oleh Sera.
"Tuan dan Nyonya tidak mau masuk sebentar?" tanya Sera kepada kedua orang di hadapannya itu.
Jordan menggelengkan kepalanya, walau ia sendiri belum mengantuk, tapi pria itu tidak mau mengganggu istirahat Sera. Lagipula ia merasa tidak enak kepada sang ibu, jika harus berada di dalam apartemen seorang gadis pada malam hari seperti ini.
"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Bibi seperti Via," ucap Weny yang tidak nyaman dengan panggilan Sera.
"Atau kau juga bisa memanggil dengan sebutan Mama sama seperti Jordan," tukas Weny membuat Sera tersipu malu mendengar ucapan wanita asal Indonesia tersebut.
****
Hai, Ay minta maaf kalau update agak telat, soalnya kesibukan Ay di dunia nyata semakin menyita waktu. Di tambah lagi kesehatan Ay akhir-akhir ini agak kurang baik.
__ADS_1
Ay mohon pengertian kalian semua.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘