Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 7


__ADS_3

Datang kematian tidak menunggu kita untuk berubah menjadi baik. Karena itu persiapkanlah dirimu agar ketika kematian datang menjemput kau sudah menjadi baik.


~Ay Alvi~


"Di mana Mommy?" Nadhya bertanya setelah menurunkan Zeline dari gendongannya.


"Ada di kamar," jawab Zeline dengan tidak melihat Nadhya, bocah kecil itu menatap sosok pria yang berdiri tidak jauh di belakang Aunty-nya tersebut.


"Uncle, kemarilah!" ucap Zeline melambaikan tangannya ke arah pria tersebut.


Nadhya dan Mia saling berpandangan, pasalnya mereka tidak melihat siapa yang di sebut Uncle oleh Zeline, yang tampak oleh mereka hanyalah ruang kosong tanpa ada seorangpun di sana.


"Zel, panggil siapa?" tanya Mia kebingungan, pasalnya dari yang gadis itu lihat tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka bertiga.


"Panggil Uncle itu," jawab Zeline polos sembari menunjuk sosok yang kini tengah mengawasi mereka.


Nadhya dan Mia pun merasakan bulu kuduk mereka berdiri, baru kali ini kedua gadis itu mendengar hal-hal yang berbau mistis.


"Zel!" panggil Nadhya tetapi bocah kecil itu tidak menghiraukannya, Zeline malah melangkah mendekati sosok yang tidak dapat di lihat oleh Mia dan Nadhya.


"Uncle!" panggil Zeline mendekati sosok tersebut.


Sosok yang di panggil oleh Zeline pun merasa bingung, bagaimana bocah kecil itu dapat melihat dirinya yang jelas-jelas tak kasat mata.


"Ka-kau dapat melihatku?" tanya sosok itu sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Zeline pun mengangguk, bocah kecil itu mencoba meraih tangan sosok tersebut, namun ternyata tak dapat di sentuhnya.


Bocah kecil itu kembali mencoba menyentuhnya, akan tetapi tetap tak dapat ia raih seolah tangan itu tidak ada di sana.


"Zeline ayo!" pekik Nadhya membawa bocah perempuan itu pergi dari sana.


"Tapi Aunty ...." Zeline mencoba membantah namun Nadhya menarik tangan bocah itu agar mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.


Hua ... Hua ... Hua ....


Zeline menangis keras karena Nadhya menarik paksa tubuh bocah itu.


"Ada apa ini?" tanya Ziga, pria itu baru saja turun dari kamarnya ketika mendengar tangisan Zeline.


'Aunty Nadhya jahat!" pekik Zeline berlari ke arah sang ayah dan meminta Ziga untuk memeluk dan menggendongnya.

__ADS_1


"Ma-maafkan Aunty sayang," ucap Nadhya terbata-bata, ia merasa bersalah karena sejujurnya gadis itu tidak bermaksud untuk membuat keponakannya tersebut menangis.


"Apa yang terjadi Nadh?" tanya Ziga mengelus kepala Zeline untuk menenangkan putri kecilnya tersebut.


"Zeline berbicara sendiri," jawab Nahdya, gadis itu bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada sepupunya tersebut.


"Maksudmu?" tanya Ziga lagi, pria tidak mengerti dengan jawaban yang di berikan oleh Nadhya.


"No Aunty, Zel talked to uncle!" ( Tidak Aunty, Zel bicara dengan Uncle) bantah Zeline keras, bocah kecil itu pun merosot turun dari gendongan sang ayah untuk mencari kembali sosok Uncle yang ia maksud.


Nadhya menghela nafas, sementara Ziga memandang bingung ke arah sepupunya tersebut dan juga Mia.


"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi Mia!" pinta Ziga karena ia ingin tahu apa yang di maksud oleh Nadhya dan juga putri kecilnya tersebut.


Di ruang lain, Zeline tampak tengah berbicara kepada sosok tersebut.


"Uncle, ayo ikut Zel!" ajak Zeline kepada sosok tersebut.


"Kemana?" tanya sosok tersebut, sejujurnya sosok tak kasat mata tersebut juga masih heran, mengapa Zeline dapat berkomunikasi dengannya di saat semua orang bahkan tidak dapat melihatnya.


"Ayo Uncle, Zel ingin tunjukan pada Daddy dan Aunty Nadhya kalau Zel tidak bicara sendiri," jawab Zeline sedikit memaksa, bocah kecil itu kembali mencoba meraih tangan Uncle yang tetap tak dapat di sentuhnya tersebut.


"Walaupun Uncle menemui Daddy dan juga Aunty-mu, mereka tidak akan dapat melihat Uncle," jelas sosok itu kemudian, ia harus menjelaskan pada bocah kecil tersebut agar bocah itu paham bahwa hanya dirinya lah yang dapat melihat dia si sosok tak kasat mata.


Zeline mengerjapkan matanya menatap Uncle tersebut, bocah itu tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh Uncle tak kasat mata.


Sosok tersebut menghela nafas, ia tampak berpikir bagaimana menjelaskan hal tersebut pada bocah polos yang baru berusia lima tahun tersebut.


"Siapa namamu gadis kecil?" tanya sosok tersebut berjongkok di hadapan Zeline.


"Zeline Uncle," jawab Zeline menatap ke arah sosok tersebut yang menurut Zeline sama tampannya dengannya sang ayah Ziga.


"Nama Uncle siapa?" Zeline balik bertanya kepada sosok pria tersebut.


"Panggil saja Uncle Josh," jawab sosok tersebut yang ternyata bernama Joshua.


"Mengapa Daddy dan Aunty tidak dapat melihat Uncle?" tanya Zeline lagi, bocah kecil itu masih penasaran dengan apa yang tadi di jelaskan oleh Joshua.


"Karena memang Uncle tidak terlihat," jawab Joshua dengan mata yang menerawang memancarkan kesedihan.


"Tapi Zel bisa," kukuh Zeline, bocah masih belum mengerti mengapa di saat ia bisa melihat Joshua tetapi semua orang tidak.

__ADS_1


"Karena Zel anak pintar, makanya Zel bisa lihat Uncle," jawab Joshua asal, sesungguhnya ia sendiri masih bingung bagaimana Zeline dapat melihatnya dengan jelas.


"Berarti Daddy dan Aunty tidak pintar?" Zeline kembali mengeluarkan pernyataan yang membuat Joshua harus memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan bocah perempuan tersebut.


"Bukan begitu maksud Uncle," bantah Joshua.


"Daddy dan Aunty pintar hanya saja mereka tidak istimewa seperti Zel karena itu Daddy dan Aunty tidak dapat melihat Uncle," Joshua mencoba menjelaskan semampunya dan berharap kalau bocah tersebut mengerti dengan ucapannya.


"Istimewa itu apa Uncle?" tanya Zeline lagi, ia memang terlahir sebagai bocah yang cerewet berbeda dengan Aiden yang pendiam.


Lagi-lagi Joshua harus menghela nafas panjang, pria itu semakin di buat bingung oleh pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh Zeline.


"Istimewa itu ...."


"Zeline kemari sayang!" panggil Ziga sebelum Joshua dapat menjawab pertanyaan bocah kecil tersebut.


Ziga sendiri yang sudah mendengar cerita dari Mia pun segera memanggil putri kecilnya itu, dia ingin menanyakan siapa yang di lihat oleh Zeline.


Joshua menaruh telunjuk di bibirnya meminta agar Zeline merahasiakan keberadaannya pada ayah bocah kecil tersebut.


"Zeline!" panggil Ziga sekali lagi karena Putrinya itu belum juga menghampiri dirinya.


Zeline mengangguk ke arah Joshua sebelum beranjak pergi untuk menghampiri ayahnya.


"Ada apa Dad?" tanya Zeline kepada sang ayah yang telah berjongkok di hadapannya.


"Mana Uncle yang Zel ajak bicara?" tanya Ziga kepada putri kecilnya itu.


Zeline menggelengkan kepalanya, dia sudah berjanji pada Joshua untuk merahasiakan keberadaan sosok pria tersebut.


"Sudah pergi Dad," jawab Zeline, bocah perempuan itu menunduk tidak berani menatap mata sayang ayah karena ia tengah berbohong kepada pria tersebut.


Ziga yang mengetahui sifat putrinya langsung mengerti bahwa Zeline tidak bicara jujur kepadanya, kemudian pria itu pun berbisik kepada putrinya yang membuat mata bocah perempuan itu berbinar.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 dan terimakasih juga yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat yang belum like Ay tunggu ya, biar Ay tambah semangat buat berkarya.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2