Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 14


__ADS_3

Jangan memberi tahu orang-orang tentang rencanamu. Tunjukkan pada mereka hasil yang telah kau raih dan buktikan pada mereka bahwa rencanamu berhasil.


~Ay Alvi~


"Uncle Josh kesakitan setiap kali menyentuh Aunty," ucap Zeline membuat hati Nadhya mencelos mendengar hal itu. Gadis itu tidak menyangka bahwa pengorbanan yang Joshua lakukan sebesar itu.


Pria itu bahkan rela menahan kesakitannya demi membuat dirinya percaya bahwa Joshua masih selalu berada dekat di sisinya.


Rasa bersalah pun menghinggapi gadis berusia 27 tahun tersebut.


"Maaf ... Maafkan Aku," sesal Nadhya lirih, gadis itu menyesal sempat meragukan keberadaan Joshua.


"Maafkan Aku Josh," ucap Nadhya sekali lagi, saat ini ia telah mempercayai bahwa Joshua akan selalu ada untuknya walau dengan raga yang tak terlihat.


"Josh, bisakah kau jelaskan kepada kami siapa orang ini?" tanya Ziga langsung pada Joshua walau pria itu tidak melihatnya.


"Apakah kau mengenal orang ini?" tanya Ziga lagi padahal pertanyaannya yang pertama belum mendapatkan jawaban dari pria itu.


Joshua menghela nafas, matanya memejam, tangannya masih memegangi dadanya yang kesakitan. Ia memang mengenal pria yang ada di dalam photo tersebut, bahkan sangat mengenalnya.


Akan tetapi apakah ia sanggup untuk menceritakan siapa orang tersebut. Sedangkan ia sendiri tidak dapat mempercayai bahwa orang itu sanggup untuk melakukan hal keji kepadanya.


"Dia orang yang Uncle Josh kenal," ucap Zeline menyampaikan perkataan pria itu.


Ziga membuang nafas kasar, sepertinya apa yang terjadi pada Joshua tidak dapat ia remehkan. Pria itu juga harus mencari orang dewasa yang memiliki kelebihan seperti Zeline agar ia tidak harus melibatkan putri kecilnya tersebut.


"Baiklah, aku akan mencoba untuk memeriksa tentang orang tersebut, tapi apakah ada cara lain agar kita bisa berkomunikasi tanpa melibatkan Zeline?" Ziga bertanya pada pria yang tidak dapat di lihat olehnya itu.

__ADS_1


Zeline menggeleng seperti apa yang di lakukan oleh Joshua. Bocah kecil itu seperti penterjemah di antara mereka. Walau bocah itu sendiri sebenarnya tidak terlalu paham permasalahan orang dewasa, tetapi demi untuk membantu Aunty-nya Nadhya dan juga Uncle Joshua ia harus bisa menyampaikan pesan itu dengan tepat.


Ziga tampak berpikir, pria itu tidak mau melibatkan Zeline yang masih terlalu kecil. Namun, ia juga belum dapat orang yang memiliki kelebihan seperti putrinya tersebut.


Joshua sendiri merasa tidak enak karena ia tahu melibatkan Zeline dalam hal ini, akan tetapi ini sangat mendesak dengan terpaksa Joshua harus melibatkan bocah kecil itu.


Phoenix Island, Kiribati.


"Damn it!" teriak seorang pria sembari meninju dinding sebuah ruangan putih yang tampak hampa itu.


Di dalam sana terbaring lemah tak berdaya tubuh laki-laki yang seumuran dengannya.


Bahkan wajah mereka berdua pun boleh di bilang mirip walau memang tak persis sama.


"Apa tidak ada cara untuk membangunkan bedebah itu!" makinya pada seseorang yang menggunakan jas putih, jika di lihat dari penampilannya pria berjas putih itu adalah seorang dokter.


"Sial!" umpat pria itu kembali, jika bukan karena warisan dari sang kakek, ia sama sekali tidak sudi untuk membuat pria itu terbangun.


Bahkan ia sangat mengharapkan pria itu meninggal pada kecelakaan yang sengaja ia buat tiga tahun lalu. Sayang sekali walau ia telah membuat seolah pria itu tewas dalam kecelakaan. Namun, ternyata anak buah sang kakek menyelamatkannya sehingga kini ia harus berpura-pura untuk mengobati pria tersebut untuk menjamin warisan sang kakek jatuh ke tangannya.


Untuk saat ini ia tidak dapat membunuh pria itu, karena sang kakek mengawasi ketat pengobatan terhadap pria yang telah terbaring selama tiga tahun lamanya.


Sang kakek mengatakan jika pria itu tidak dapat bangun lagi atau meninggal maka semua harta orang tua tersebut akan di sumbangkan ke panti asuhan dan orang-orang yang membutuhkan.


Namun, jika pria itu sadar, maka harta warisan akan di bagi menjadi dua antara dirinya dan juga pria yang kini masih terbaring tertidur lelap dalam damai.


Ia sendiri lebih mengharapkan jika kakek tua itu meninggal, karena dengan begitu ia juga akan menghabisi nyawa pria lemah yang sebenarnya adalah sepupunya sendiri itu.

__ADS_1


Karena jika tidak ada mereka berdua, seluruh harta warisan keluarga akan menjadi miliknya. Sang kakek sendiri tidak tahu bahwa bagi dunia luar cucu kesayangannya yang kini terbaring tak berdaya di ranjang itu telah mati.


Itu di karenakan Howard menutup semua jaringan informasi dunia dari dunia luar agar Kakek renta berusia 90 tahun itu tidak dapat melihat berita dari dunia yang berada jauh darinya. Sejak istrinya Josephine yang merupakan nenek dari Joshua meninggal, kakek renta itu memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah pulau yang terletak di luar wilayah kekuasaan Amerika.


Awalnya Howard ingin membunuh Joshua dalam kecelakaan yang sengaja ia ciptakan tiga tahun lalu itu, akan tetapi tanpa ia duga seorang anak buah setia sang kakek menyelamatkan pria itu dan yang menjadi korban di sana hanyalah sopir pribadi Joshua yang bernasib kurang beruntung. Sebelum akhirnya Howard membakar mobil tersebut untuk meminimalkan bukti, ia sempat memasangkan cincin pertunangan Joshua pada jari pria yang telah menjadi mayat tersebut.


Kakek Albert mengenakan kursi rodanya untuk menghampiri dan melihat keadaan Joshua cucunya. Setiap pagi dan malam hal itu yang di lakukan oleh pria renta tersebut sembari berharap saat ia ada di sana sang cucu akan terbangun dan sadar kembali.


Tetapi, tiga tahun sudah berlalu, hampir saja ia menyerah tidak ingin berharap sang cucu akan kembali ke dunia. Akan tetapi sudah seminggu ini ia terus bermimpi aneh. Joshua selalu datang dalam mimpinya sembari tersenyum dan menggenggam tangannya.


Dalam mimpinya pemuda itu mengatakan agar ia lebih kuat dan bersabar karena Joshua sedang mencari jalan pulang. Maka dari itu seolah di beri harapan besar, sudah seminggu belakangan ini pria renta itu menambah jam berkunjungnya melihat Joshua menjadi empat kali dalam sehari.


Karena ia sangat berharap pemuda itu akan menepati janjinya untuk kembali datang menemui pria itu itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Albert pada Howard yang merupakan cucu tiri pria iti.


"Masih sama seperti sebelumnya tak ada perubahan berarti," jawab Howard malas, jika bukan karena kakek tua itu banyak harta sudah tentu ia tidak ingin mengurus pria yang semakin menyusahkan itu.


Albert menghela nafas, matanya memandang tubuh Joshua yang terbaring lemah tak berdaya. Penyesalan menghinggapi relung dadanya karena ia tidak bisa melindungi cucu kandungnya tersebut.


*****


Hai-hai terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 dan terimakasih untuk semua yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.


Sebenarnya novel ini setiap bab selang-seling cerita Nadhya dan cerita Erik, namun karena banyak permintaan tentang cerita Nadhya terlebih dahulu jadi Ay buat kisah Nadhya dan Joshua dulu. Untuk para penggemar Erik dan Mia harap bersabar ya, nanti juga akan ada kisah mereka yang masih berbau misteri juga.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2