
Hai, jumpa lagi dengan Ay. Maaf kalau up nya terlambat karena kalau akhir pekan kesibukan Ay di dunia nyata sumgguh padat sehingga tidak punya waktu buat ngetik.
Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya ya. Yang mau kasih tip boleh juga karena memang Takdir Cinta 2 belum kontrak jadi cuma dapat penghasilan dari kemurahan hati kalian.
Happy reading all
*****
Waktumu terbatas, jadi jangan sia-siakan untuk menjalani kehidupan orang lain.
~Ay Alvi~
"Apa yang terjadi dengan Aunty?" tanya Zeline lembut pada sosok hantu wanita yang berwajah mengerikan itu.
Si hantu wanita tidak menjawab, tangannya yang hangus terbakar menyentuh wajah mungil Zeline. Setelah menyentuh wajah bocah itu, tiba-tiba saja hantu wanita itu mengeluarkan suara tangisan yang memilukan.
Ziga dan yang lainnya juga mendengar suara tangisan tersebut. Bulu kuduk mereka merinding merasakan ke'ngerian yang teramat sangat.
Bayangan masa silam berkelebat saat tangan mungil Zeline menyentuh lengan hantu wanita itu. Terlihat di hadapannya kejadian puluhan tahun silam saat sang hantu wanita itu masih menjadi seorang wanita cantik yang di puji banyak orang.
Dua puluh tahun sebelumnya,
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday to Joshua happy birthday to you."
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Joyce mengecup lembut pipi putranya Joshua.
"Terimakasih Mami," jawab Joshua kecil yang saat itu genap berusia sepuluh tahun.
"Selamat ulang tahun cucuku," ucap Albert, mereka merayakan ulang tahun Joshua di Puri yang terletak di pulau yang merupakan hadiah ulang tahun untuk Joshua dari Albert kakeknya.
__ADS_1
Seluruh keluarga berkumpul di Puri dan merayakan dengan bahagia ulang tahun cucu satu-satunya Albert itu. Sebagai cucu laki-laki dan satu-satunya Joshua sangat berlimpah kasih sayang. Banyak yang iri dengan keberuntungan bocah kecil itu.
Albert selalu memanjakan Joshua, apapun yang di inginkan oleh bocah itu selalu di turutinya. Hal itulah yang membuat Howard yang merupakan cucu tiri dari Albert merasa iri kepada bocah itu. Joshua selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, berbeda dengan Howard yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Albert karena ia hanya cucu tiri dari istri kakek tua itu.
Pagi itu Joyce, ibu Joshua tengah memetik jeruk di kebun belakang Puri yang mereka tempati saat Howard memanggilnya untuk meminta bantuan kepada wanita cantik yang telah di tinggal oleh suaminya akibat kecelakaan pesawat dua tahun silam.
"Aunty, bisa bantu aku?" tanya Howard memanggil Joyce sembari meringis kesakitan. Bocah yang berumur sama dengan Joshua itu terjatuh dari pohon yang ia naikki.
Joyce pun segera bergegas untuk membantu bocah kecil yang nampak kesakitan itu. Namun, ternyata Howard menipunya. Bocah lelaki itu tidak benar-benar jatuh, ia sengaja memancing Joyce agar datang mendekatinya.
"Agrhh ...." teriak Joyce karena terjerembab masuk ke dalam lubang yang memang sengaja di siapkan oleh Howard. Joyce masuk ke dalam sebuah sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi.
"Howard, tolong Aunty!" pekik Joyce dari dalam sumur yang telah mengering tersebut. Wanita itu ketakutan karena keadaan di dalam sangat gelap.
Namun, Howard tidak menghiraukan teriakan Joyce. Bocah berumur sepuluh tahun itu memasukkan daun-daun kering untuk menutupi lubang sumur tersebut. Howard pun mengambil matches (korek api) kemudian membakar daun kering tersebut sehingga menyebabkan kobaran api yang sangat besar.
"Aunty!" panggil Zeline menggenggam tangan Joyce yang penuh dengan luka bakar yang menghitam.
Joyce meminta pada Zeline untuk menemukan tulang belulang tubuhnya yang hingga saat ini masih berada di dalam sumur tua tersebut. Tidak ada yang mengetahui bahwa Joyce menjadi korban dalam kebakaran tersebut. Lima belas tahun lalu wanita itu dinyatakan menghilang dalam badai yang memang menerpa pulau Phoenix.
Zeline menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Bocah kecil itu merasa sedih atas apa yang menimpa Joyce.
"Zel akan bantu Aunty," ucap Zeline kepada Joyce.
Joyce menatap bocah kecil itu dengan perasaan haru, lalu wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah Joshua. Putra satu-satunya yang kini telah tumbuh dewasa tanpa bisa ia dampingi. Namun, sayangnya Joshua tidak dapat melihat kehadiran Joyce. Ia hanya merasakan hawa dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Nyonya, bisakah kau menunjukkan di mana tubuhmu berada?" tanya Jordan kepada Joyce karena ia mendengar wanita itu meminta tolong kepada Zeline untuk menemukan jasadnya.
Joyce menganggukkan kepalanya yang sedikit rusak, wanita itu kemudian terbang melayang menunjukkan jalan untuk menuju sumur tua di mana kerangka dari tubuhnya berada. Lorong bawah tanah itu memang mengarah ke perkebunan jeruk yang berada cukup jauh dari bangunan Puri yang telah meledak.
__ADS_1
Jordan dan yang lainnya pun mengikuti arah kemana Joyce pergi. Mereka segera melanjutkan perjalanan untuk secepatnya keluar dari lorong tersebut. Ziga kembali meraih putrinya
Sementara itu di dalam gua, Nadhya mulai merasa tubuhya menggigil kedinginan. Hawa di dalam tempat tersebut juga begitu menyeramkan. Ada banyak kelelawar yang terdapat di dalam tempat itu.
"Tuan, sampai kapan kita akan berada di sini?" tanya Daniel yang sudah bergidik ngeri karena suasana di dalam gua tampak horor dan mistis.
Pria itu telah mendengar banyak kisah seram yang di ceritakan oleh para warga penghuni pulau tentang betapa angkernya gua tersebut.
Howard mengeluarkan sebatang rokok kemudian menyulut dan menghisapnya santai. Ia tengah menikmati kemenangannya, pria itu berpikir ledakan bom telah menewaskan Ziga dan yang lainnya yang telah ia sekap di dalam kamar. Kini, ia hanya tinggal menghindari anak buah Ziga yang sedang mengejar mereka.
"Kita tunggu keadaan aman, mereka masih melakukan pengejaran," jawab Howard setelah menghisap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskan asap yang cukup tebal.
Howard melirik ke arah Nadhya, mengetahui gadis itu tengah menggigil kedinginan ia pun segera melepas jaket yang di kenakannya lalu memakaikannya kepada gadis cantik itu.
"Pakailah Nona, setidaknya tubuhmu akan lebih hangat," ujar Howard karena Nadhya menolak jaket yang ia berikan.
Awalnya gadis itu memang tidak ingin mengenakan jaket milik pria yang kini telah menawan dirinya. Namun, karena hawa di dalam gua benar-benar dingin akhirnya dengan terpaksa ia pun menerima dan mengenakan jaket milik Howard untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang menyiksa.
Di tengah hutan, Marco terus melakukan pencariannya. Walau hari telah gelap karena malam telah tiba tidak menyurutkan niat pria itu untuk menemukan Howard dan juga Daniel.
"Tuan!" panggil salah seorang anak buah Marco ketika menemukan secarik pakaian wanita yang tersangkut di ranting pohon.
Marco pun mengambil apa yang di laporkan oleh anak buahnya. Pria itu meneliti sebentar kira-kira milik siapakah pakaian itu, karena itu adalah jenis kain untuk pakaian wanita.
"Hati-hati jangan menembak sembarangan karena seperti mereka juga membawa Nona Nadhya!" pesan Marco kepada anak buahnya, ia tidak mau bertindak gegabah yang dapat menyebabkan nyawa Nadhya terancam.
"Tuan, kami menemukan sebuah gua!" seru anak buah yang lainnya.
Marco bergegas menghampiri dan memimpin mereka untuk memasuki gua dan memeriksa keadaan di dalam sana.
__ADS_1