
Mengejar mimpi di mulai dari yang terkecil, tentukan langkah awal untuk memulai sebuah proses penuh dengan perjuangan.
~Ay Alvi~
"Nona, kami menemukan kabar terbaru tentang kecelakaan Tuan Joshua," lapor sang penelpon yang membuat tubuh Nadhya menegang mendengar ucapan dari orang yang berada di seberang sana.
Nadhya terkesiap, setelah tiga tahun berlalu kini ada kabar terbaru mengenai calon suaminya tersebut. Hingga saat ini gadis itu masih berharap Joshua belum meninggal walau pihak kepolisian telah menyatakan mayat yang di temukan saat itu adalah pria yang di cintainya, namun nalurinya dengan tegas menolak bahwa itu adalah Joshua.
Gadis itu segera beranjak menemui detektif yang selama ini ia perintahkan untuk mencari informasi tentang kecelakaan yang menyebabkan kematian Joshua. Mereka membuat janji temu di sebuah restauran yang terletak tidak begitu jauh dari apartemen Nadhya.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Nadhya begitu tiba di restauran, gadis itu sudah terlalu penasaran dengan berita terbaru tentang Joshua.
Sang detektif pun mengeluarkan beberapa photo yang berhasil ia dapatkan dan menyodorkannya ke hadapan Nadhya.
Mata gadis itu membelalak lebar ketika melihat apa yang terdapat di dalam photo tersebut. Benar dugaannya selama ini bahwa mayat yang di temukan oleh polisi bukanlah mayat Joshua kekasihnya. Namun, ia juga tidak mengerti bagaimana bisa dua orang berbeda bisa memiliki DNA yang sama.
Bahkan pihak kepolisian pun menyatakan bahwa itu adalah mayat milik calon suaminya.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan photo ini?" tanya Nadhya heran, pasalnya photo itu di ambil tiga tahun lalu saat mobil yang di kendarai Joshua mengalami kecelakaan di sebuah jalan di Telluride, Colorado, USA.
"Ada seorang mahasiswa yang secara tidak sengaja mengambil photo-photo tersebut," jawab detektif itu jujur. Pria itu memang menemukan secara tidak sengaja photo tersebut di sebuah kontes photography di kota itu.
"Apa aku bisa menemuinya?" tanya Nadhya kepada pria bertopi hitam tersebut.
"Orang yang mengambil photo ini." Tambah gadis itu memperjelas maksudnya.
"Jika Anda mau, saya dapat mengantarkan Anda untuk menemuinya," tawar detektif tersebut.
Nadhya pun mengangguk, gadis itu bahkan sudah tidak sabar untuk mencari kejelasan tentang photo yang baru saja di lihatnya. Sebenarnya ia ingin pergi hari ini juga, namun karena ia telah memiliki janji pada Ziga untuk menjenguk Via, maka gadis itu memutuskan untuk pergi ke Colorado ke esokkan harinya.
__ADS_1
Setelah selesai memberikan informasi kepada Nadhya sang detektif pun pamit meninggalkan Nadhya yang masih memikirkan tentang Joshua. Gadis itu masih sangat berharap bahwa yang ia lihat dalam photo tersebut adalah benar.
Nadhya menghela nafas panjang memejamkan matanya, ia teringat kembali kenangan bersama sang kekasih. Pria yang selama ini selalu mengisi ruang hatinya dan tanpa ia sadari bulir-bulir bening menetes di pipinya yang mulus.
Sementara itu dari kejauhan tampak sosok yang tengah mengamati gadis itu. Ia menatap ke arah Nadhya dengan penuh rasa bersalah dan juga kerinduan yang mendalam. Ingin rasanya ia menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus gadis tersebut. Namun, apalah daya, tidak ada yang dapat ia lakukan. Kini, dirinya hanyalah sosok tak kasat mata yang tidak akan dapat untuk menyentuh wajah gadisnya itu.
Nadhya pun beranjak pergi dari restauran untuk menuju kediaman keluarga Pratama. Ia ingin menepati janjinya untuk menjenguk Via dan bayinya sebelum besok gadis itu akan pergi ke Colorado untuk mencari kebenaran tentang Joshua.
Kediaman Pratama,
Setelah dengan susah payah akhirnya Ziga dapat membujuk Aiden dan memberi pengertian kepada putra sulungnya tersebut bahwa sikap yang ia miliki adalah salah. Pria itu tidak ingin jika nantinya Aiden menjadi terlalu keras kepala dan juga over posesif seperti halnya ia sendiri.
"Huftt ...," Ziga membuang nafas kasar begitu keluar dari kamar tidur Aiden. Butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi putranya yang tengah merajuk tersebut. Kini ia menyadari bahwa tidak mudah untuk mengurus bocah, pria itu salut pada istrinya Via yang selama empat tahun ini mengurus kedua buah hatinya seorang diri.
Wanita tegar itu mampu mendidik kedua anaknya walau tanpa di dampingi oleh dirinya. Ia tak dapat membayangkan bagaimana repotnya Via saat harus mengurus kedua bocah itu secara bersamaan.
Ziga melingkarkan lengannya di pinggang sang istri yang tengah mengayun-ayunkan Juan di box tidurnya membuat wanita itu hampir saja melonjak karena terkejut.
"Ada apa?" tanya Via membalikkan tubuhnya ke arah sang suami dan menatap Ziga dengan tatapan penuh dengan keheranan.
Ziga menjawab pertanyaan istrinya dengan gelengan kepala, pria itu pun mengecup puncak kepala Via dengan lembut.
"Terimakasih sayang," bisik Ziga di telinga Via.
"Kau adalah malaikat terhebat di dalam hidupku," tambah pria itu kemudian menanamkan ciuman lembut di bibir sang istri, kecupan ringan pun berubah menjadi semakin panas ketika Via mulai membalas perlakuan suaminya.
Namun, Via langsung tersadar ketika mendengar suara tangisan Juan. Wanita itu mendorong pelan tubuh suaminya kemudian segera mengangkat tubuh bayi mungil tersebut.
Ziga tersenyum frustasi karena momen romantisnya terganggu oleh jeritan Juan yang menggelegar. Bocah kecil itu seolah tak membiarkan dirinya mengganggu sang bunda. Saat ini akan makin sulit bagi dirinya untuk mempunyai waktu berdua dengan sang istri. Dia harus berbagi waktu dengan ketiga buah hatinya dan tentu saja itu bukan hal yang mudah.
__ADS_1
"Daddy ingat kan pesan dari Dokter Theresa?" tanya Via sembari menyusui Juan karena putra bungsunya tersebut terlihat lapar.
"Tentu Mom," jawab Ziga, ia memang tahu bahwa untuk saat ini pria itu belum di izinkan untuk menyentuh sang istri dan ia juga sadar akan hal itu yang di lakukannya tadi bukanlah sengaja, entah mengapa setiap berdekatan dengan Via membuat hasrat di dalam tubuhnya bergejolak. Ziga pun segera menuju kamar mandi untuk mendinginkan tubuh dan pikirannya yang memanas.
Sedangkan Via hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya, wanita itu melanjutkan aktifitasnya memberi asupan gizi kepada sang buah hati.
"Hai Mia," sapa Nadhya yang baru saja tiba di kediaman Pratama.
"Halo Aunty," balas Mia yang saat ini tengah menemani Zeline bermain.
"Halo little bunny," sapa Nadhya kepada keponakan perempuan satu-satunya itu.
"Halo Aunty Nadhya," jawab Zeline yang di sambut dengan ciuman pipi dan gendongan dari Nadhya sepupunya ayahnya tersebut.
"Di mana Mommy?" Nadhya bertanya setelah menurunkan Zeline dari gendongannya.
"Ada di kamar," jawab Zeline dengan tidak melihat Nadhya, bocah kecil itu menatap sosok pria yang berdiri tidak jauh di belakang Aunty-nya tersebut.
"Uncle, kemarilah!" ucap Zeline melambaikan tangannya ke arah pria tersebut.
Nadhya dan Mia saling berpandangan, pasalnya mereka tidak melihat siapa yang di sebut Uncle oleh Zeline, yang tampak oleh mereka hanyalah ruang kosong tanpa ada seorangpun di sana.
****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.
Ay berharap kalian tidak lupa untuk memberikan like dan juga coment di kolom komentar, agar Ay dapat lebih bersemangat untuk up.
Untuk yang sudah like, coment dan vote Ay ucapkan terimakasih banyak ya. Semoga Allah membalas kemurahan hati kalian.
__ADS_1
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘