Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 37


__ADS_3

Ketika kita bertemu tragedi nyata dalam hidup, kita dapat bereaksi dengan dua cara, entah dengan kehilangan harapan dan jatuh ke dalam kebiasaan merusak diri sendiri, atau dengan menggunakan tantangan untuk menemukan kekuatan batin kita.


~Ay Alvi~


Setelah cukup lama akhirnya dengan susah payah Erik, Jordan dan kelima anak buahnya berhasil mengangkat tubuh Ziga ke atas.


"Uncle siapa? Di mana Daddy Zel?" tanya Zeline membuat yang semuanya saling berpandangan kebingungan karena tidak mengerti apa yang di maksud oleh bocah kecil itu.


Ziga yang di tanya tidak menjawab laki-laki itu terdiam dan menatap tajam ke arah Zeline. Jordan pun baru menyadari hal tersebut, awalnya ia tidak terlalu memperhatikan apa yang merasuki tubuh suami sepupunya itu.


Jordan segera meraih tangan Ziga dan menekannya kuat-kuat, tetapi pria itu tidak bergeming seolah tidak ada yang di rasa.


"Apa maumu?!" tanya Jordan kepada sosok yang ada di dalam tubuh Ziga.


Yang lain tampak kebingungan melihat interaksi kedua orang tuannya tersebut, termasuk Erik yang tidak memahami mengapa Jordan bertanya seperti itu kepada Ziga.


Ziga menghempaskan tangan Jordan bahkan pria itu mendorong keras tubuh sepupu istrinya hingga Jordan terpelanting jauh ke belakang.


"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya Erik khawatir melihat Jordan di dorong begitu keras oleh sang tuan muda.


Jordan menggelengkan kepalanya, pria itu kembali bangkit dan mencoba mendekati Ziga yang berdiri mematung di hadapannya.


"Semuanya jangan mendekat!" perintah Jordan kepada Erik dan yang lainnya karena ia tidak mau mereka semua berada dalam bahaya.


Di dalam gua, Marco melesakkan pelurunya ke kepala Daniel saat pria itu tengah lengah hingga akhirnya Daniel terkapar tak lagi bernyawa.


"Tangkap pria itu!" perintah Marco kepada anak buahnya untuk menangkap Howard yang saat ini lebih mirip orang gila. Setelahnya pria itu pun segera menghampiri Nadhya untuk menyelamatkan gadis itu.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Marco kepada Nadhya membantu melepaskan dasi yang menyumpal mulut gadis itu dan tali yang mengikat tangannya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Nadhya lemah, gadis itu telah kehabisan tenaganya saat di bawa dalam pelarian oleh Daniel dan Howard.


"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Nadhya mengkhawatirkan keadaan sepupunya Ziga dan juga yang lainnya.


Marco menghela nafas, ia sendiri belum mengetahui bagaimana keadaan sang tuan muda dan yang lainnya karena setelah terdengar suara ledakan ia belum menerima kabar selanjutnya. Erik hanya mengatakan bahwa masih ada sinyal dari Ziga yang menyatakan bahwa pria itu masih hidup. Namun, untuk keadaannya sendiri Marco tidak berani untuk mrmastikannya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita cepat tinggalkan tempat ini Nona," saran Marco tidak menjawab pertanyaan Nadhya. Pria itu tidak ingin menebak-nebak tentang apa yang terjadi.


Nadhya menurut, mereka pun segera pergi meninggalkan gua menuju tempat Erik berada dengan membawa Howard yang terpaksa harus di papah oleh anak buah Marco karena kedua kakinya terluka terkena tembakan.


"Bagaimana keadaan Tuan Muda?" tanya Marco melalui sambungan telepon, selama dalam perjalanan pria itu mencoba untuk menghubungi Erik.


"Kami sudah menemukan Tuan Muda, tapi ...." Erik tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Ziga menyerang pria itu sehingga ponselnya terlempar ke tanah.


"Arghhhh ...." Erik berteriak kesakitan karena ternyata sang tuan muda menggunakan seluruh kekuatan untuk menyerangnya.


"Kenapa Uncle mengganggu Daddy Zel!" teriak Zeline marah, bocah itu membelalakkan matanya menatap Ziga yang kini tengah di rasuki oleh sosok jahat.


Pria itu membalas tatapan Zeline dengan galak, matanya bahkan bertambah merah.


Sepertinya ia tidak suka ada yang menggangunya untuk menguasai tubuh Ziga.


"Zel, mundurlah!" perintah Jordan tak ingin keponakan kecilnya itu terluka. Namun, Zeline tetap keras kepala. Bocah perempuan itu tetap saja berdiri menantang di hadapan Ziga yang kini bukan lagi menjadi dirinya.


"Zeline, biar Uncle yang urus ini!" paksa Jordan karena bocah mungil itu tidak mendengarkan larangannya.


Di tempat lain, Marco terkejut karena tiba-tiba sambungan teleponnya dengan Erik terputus setelah sebelumnya ia mendengar teriakan pria itu.


"Ayo kita harus cepat!" ajak Marco kepada Nadhya dan juga anak buahnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Nadhya kebingungan, namun gadis itu tetap mengikuti ucapan Marco untuk berjalan lebih cepat.


"Sepertinya terjadi sesuatu pada Erik," jawab Marco dengan nafas tersengal karena pria itu sedikit berlari untuk mempercepat langkahnya.


"Kalau begitu ayo cepat!" ujar Nadhya yang kali ini sudah merasa lebih baik. Gadis itu ingin segera mencapai tempat di mana Eri berada agar dapat mengetahui keadaan Ziga dan juga yang lainnya.


Mereka semua pun bergegas untuk menuju ke tempat Erik, bahkan kedua anak buah Marco yang bertugas membawa Howard sedikit menyeret pria itu karena mereka juga tidak ingin tertinggal.


"Uncle, jangan ganggu Daddy Zel! Uncle bukan orang jahat," ucap Zeline mencoba berkomunikasi dengan sosok yang merasuki raga ayahnya.


Sosok itu terus menatap Zeline tanpa berkedip dan tak lama kemudian ia pun menjatuhkan badannya berlutut hingga menangis tersedu-sedu di hadapan bocah kecil itu.

__ADS_1


"Tolong ... tolong," pinta sosok tersebut dengan suara parau. Ia meminta kepada Zeline untuk menolongnya.


"Katakan apa yang harus kami lakukan untuk menolongmu, tapi kau harus tinggalkan tubuh ini," ucap Jordan memberikan syarat kepada sosok yang kini tengah menangis dan meminta tolong kepada keponakannya.


"Tolong ...." ucap sosok itu lagi, tangannya melambai ke arah Zeline agar bocah perempuan itu mendekatinya.


Zeline pun berjalan menghampiri sosok yang kini ada di dalam tubuh sang ayah. Tanpa rasa takut bocah perempuan itu menyentuh tangan sang ayah yang membuat tubuh Zeline bergetar hebat.


"Itu mereka!" tunjuk Nadhya ke arah di mana ia melihat Zeline dan juga Ziga yang tengah menempelkan telapak tangan mereka.


Gadis itu berlari menghampiri sepupunya, ia tidak mengetahui jika Ziga telah di rasuki oleh sosok lain.


"Nadhya, menjauhlah!" larang Jordan, namun ternyata ucapan pria itu terlambat tubuh Nadhya kini terpelanting karena di dorong oleh sebelah tangan Ziga yang tidak menempel dengan tangan putrinya.


"Nadhya!" teriak Joshua, pria itu segera menghampiri tubuh gadis yang kini mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


Joshua menyandarkan kepala gadis itu di atas dadanya. Ia menggenggam erat jemari sang kekasih tercintanya.


"Maafkan aku," sesal Joshua, ia menyesal dan merasa semua yang terjadi hari ini adalah karena mereka berusaha untuk menolongnya. Andai mereka tidak datang ke pulau ini untuk menolongnya tentu kejadian seperti ini tidak akan terjadi.


Nadhya menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak menerima permintaan maaf Joshua. Ia sama sekali tidak menyesali apa yang terjadi. Semua sudah di takdirkan oleh Tuhan. Gadis itu menggenggam tangan Joshua dan tak lama matanya pun terpejam.


"Tidak ....!!!!" teriak Joshua.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2