Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 43


__ADS_3

Hidup adalah seperti sebuah kamera, fokus dalam hal yang penting, mengabadikan sesuatu pada waktu yang tepat, dan bila gagal cari kesempatan yang lain.


~Ay Alvi~


Setelah kondisinya di nyatakan sehat, Nadhya pun di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Ia meminta Joshua mengantarkannya ke kediaman Pratama karena gadis itu ingin berterimakasih kepada Ziga sepupunya.


Berkat pertolongan pria itulah akhirnya Joshua dapat hidup normal seperti sediakala. Nadhya tidak tahu apa yang terjadi jika waktu itu ia lebih memilih mencari orang yang mengambil photo kecelakaan, belum tentu ia bisa menyelamatkan Joshua seperti apa yang telah di lakukan oleh Ziga dan juga Zeline keponakannya.


"Selamat sore, selamat datang Nona," sapa Jane begitu Nadhya tiba di kediaman Pratama.


"Sore Jane," jawab Nadhya, "Apa sepupuku ada di rumah?" tanya gadis itu seraya menarik tangan Joshua untuk memasuki kediaman keluarga Pratama.


"Ada Nona, Tuan dan Nyonya sedang berada di taman belakang," jawab Jane yang kemudian mengantar kedua tamu itu untuk menemui Ziga dan Via yang tengah bermain dengan ketiga anaknya di taman belakang rumah.


"Aunty, Uncle!" panggil Zeline ketika melihat kedua orang itu tiba, bocah perempuan itu berlari untuk menghampiri Nadhya dan Joshua.


"Hai Zel," sapa Joshua yang kemudian mengangkat bocah berumur lima tahun itu ke dalam gendongannya.


"Kalian baru tiba?" tanya Ziga yang baru melihat kedatangan sepupunya tersebut.


Nadhya mengangguk menjawab pertanyaan Ziga ia kemudian mendekati dan menyapa Via sahabatnya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Via memeluk Nadhya, ia merindukan sahabat sekaligus sepupu suaminya tersebut.


"Aku baik, kau sendiri bagaimana?" Nadhya menjawab sekaligus bertanya kepada ibu tiga orang anak itu.


"Seperti yang kau lihat," jawab Via, "Masih sibuk dengan tiga anak kecil dan juga satu bayi besar," tambah ibu muda itu seraya menunjuk ke arah sang suami yang saat ini tengah berbincang dengan Joshua.


Nadhya tergelak mendengar jawaban sahabatnya, ia tidak dapat membayangkan bagaimana repotnya Via harus mengurus si kembar dan juga baby J serta bayi besar yang manja yaitu sepupunya sendiri Ziga.


Sejak mereka bersatu kembali memang Ziga tampak lebih manja kepada istrinya. Mungkin efek dari lima tahun hidup terpisah membuat pria itu benar-benar merindukan kasih sayang dari sang istri. Apalagi selama kehidupan yang di jalani sendiri ada begitu banyak masalah dan cobaan yang di hadapi pria berusia tiga puluh tahun lebih itu.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan pada Howard?" tanya Ziga kepada Joshua yang saat ini tengah membawa Zeline dalam gendongannya.


"Aku akan serahkan kepada yang berwajib. Sekarang aku ingin mencari siapa pembunuh kedua orangtuaku," jawab Joshua yang belum mengetahui bahwa Howard adalah dalang di balik kematian sang ibu.


"Howard lah yang membunuh ibumu," sela Jordan yang baru saja tiba bersama dengan Sera dan juga ibunya.


Pria itu segera bergabung dengan Ziga dan juga Joshua. Sudah waktunya untuk memberitahu pria itu tentang kenyataan yang sebenarnya bahwa sedari awal Howard telah merencanakan semuanya.


"Maksudmu?" tanya Joshua tidak mengerti, yang ia tahu dari Zeline bahwa seorang anak berusia sepuluh tahun lah yang menghabisi nyawa ibunya.


"Itu Uncle Howard," ucap Zeline yang saat ini telah paham bahwa anak kecil yang ia lihat dengan mata batinnya adalah Howard yang kini telah tumbuh dewasa.


"Jadi, maksud kalian Howard lah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi kepada ibuku?" terkejut Joshua bertanya. Ia sama sekali tidak menyangka jika sepupunya tersebut dapat berbuat sekeji itu.


Mereka semua mengangguk berbarengan menjawab pertanyaan Joshua, membuat pria itu duduk lemas di atas kursi karena kenyataan yang begitu mengejutkan.


"Kau harus menemui sendiri Howard," ujar Ziga menepuk bahu Joshua. Mendengar nama sepupunya tersebut membuat Joshua geram, pria itu mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar merasa marah atas apa yang di lakukan oleh Howard.


"Aku tidak akan melepaskannya!" geram Joshua menggertakan giginya.


"Uncle!" panggil Zeline kepada Joshua, gadis itu menarik ujung kemeja Joshua agar pria itu mau mendengarkannya.


"Ada apa sayang?" tanya Joshua berjongkok menyamai tinggi badan Zeline.


"Yang kemarin ... " Zeline tidak meneruskan kalimatnya, bocah kecil itu nampak ragu untuk berbicara.


"Ada apa Zel?" tanya Jordan, pria itu tahu ada yang di sembunyikan oleh Zeline. Bocah itu sepertinya mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui.


Zeline mulai menunjuk sang ayah yang saat ini tiba-tiba terdiam. Pria itu duduk di atas rumput dengan kepala tertunduk menghadap ke tanah.


Jordan terperanjat saat mengetahui tingkah Ziga. Begitu pula dengan Via sang istri yang langsung mengambil Juan dari stroller dan menggendongnya. Wanita itu ketakutan melihat keadaan suaminya saat ini.

__ADS_1


Yang lain pun tak kalah terkejutnya, mereka semua terdiam mengelilingi Ziga dan memperhatikan pria itu yang saat ini masih tidak berbicara hanya menundukkan kepalanya.


"Kakak, apa yang terjadi pada suamiku?" tanya Ziga khawatir, ia belum pernah melihat Ziga seperti ini.


"Kau tenang saja, sebaiknya bawa anak-anak ke dalam kecuali Zeline," jawab Jordan mencoba menenangkan hati Via yang cemas.


Via mengangguk, ia mengikuti apa yang di katakan oleh Jordan karena wanita itu memang tidak mengerti apa-apa.


"Aiden ayo masuk sayang!" ajak Via kepada putra pertamanya tersebut.


"No, Mom!" tolak Aiden, bocah lelaki itu penasaran dengan apa yang terjadi pada sang ayah. Aiden malah mendekat mencari tahu apa yang menyebabkan ayahnya seperti itu.


Jordan melambaikan tangan kepada Via, ia meminta wanita itu membiarkan Aiden ikut melihat dan juga memerintahkan Via agar segera membawa Juan karena putra bungsunya itu masih terlalu kecil.


Via pun segera bergegas membawa Juan masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka yang saat ini tengah memandangi Ziga yang masih pada posisi semula.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Jordan kepada sosok yang saat ini tengah mengisi raga Ziga.


Tak ada jawaban dari Ziga atau sosok yang berada di dalam tubuh pria itu. Ia tetap menundukkan kepala dengan tangan terkepal erat di kedua sisi. Semua yang berada di sana menatap tegang, terutama Nadhya. Gadis itu tidak berani mendekat setelah apa yang pernah menimpanya sewaktu di pulau.


"Katakan apa maumu?!" tanya Jordan sedikit tidak sabar karena sosok itu belum juga mau menjawab. Pria itu khawatir jika terlalu lama tubuh Ziga di rasuki sosok tersebut akan dapat membahayakan nyawa ayah tiga orang anak itu.


Ziga mengangkat kepalanya, pria itu menatap sekeliling dengan mata yang memerah. Pandangannya terhenti tepat di Joshua. Ia menatap tajam kekasih Nadhya tersebut sembari menunjuk ke arah Joshua membuat pria itu kebingungan.


*****


**Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.

__ADS_1


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘**


__ADS_2