Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 52


__ADS_3

Hal terbaik akan diberikan kepada mereka yang bersabar dan terus bertindak, tidak hanya dalam usaha namun juga dalam doa.


~Ay Alvi~


"Aku ingin di terima karena aku memang pantas untuk berada di perusahaanmu, bukan karena aku mengenalmu," jawab Mia membuat Aldrich semakin kagum kepada gadis belia itu.


"Dokter! Dokter!" panggil Via keluar dari ruangan ICU tempat nenek Mila di rawat, wanita itu panik karena tiba-tiba monitor Ommabaca menunjukkan garis lurus.


Dokter dan perawat segera berlarian menuju ruang ICU tempat nenek Mila di rawat membuat Mia panik setelah melihat hal tersebut. Gadis itu pun berlari menuju ruang ICU tempat di mana neneknya berada.


"Aunty apa yang terjadi?" tanya Mia panik menggenggam tangan Via yang kini juga tengah gemetar.


"Aunty tidak tahu sayang tiba-tiba saja ...." Via tidak dapat melanjutkan kata-katanya, tangisnya pecah mengingat kejadian saat ia berada di dalam ruang ICU untuk menjenguk nenek Mila.


"Kenapa Aunty? Apa yang terjadi pada nenek?" Mia kembali bertanya memeluk Via yang kini tengah menangis terisak.


Via menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Mia. Wanita itu memang benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sebaiknya kita berdoa semoga tidak ada yang buruk terjadi," ucap Aldrich berusaha menenangkan dua wanita yang tengah panik tersebut.


Mereka berdua hanya bisa mengangguk dan berdoa semoga dokter dan juga perawat dapat menyelamatkan nyawa nenek Mila. Sebenarnya keadaan nenek Mila memang cukup lemah. Namun, hal tersebut tidak di beritahukan Erik kepada Mia karena ia tidak ingin membuat kekasihnya tersebut bertambah cemas.


Di dalam ruangan, beberapa dokter dan perawat tengah berupaya untuk memacu detak jantung nenek Mila yang sempat terhenti. Wanita itu itu shock sehingga membuat jantungnya berhenti berdetak padahal fungsi organ yang lainnya dalam keadaan normal.


"Defibrillator!" pinta seorang dokter kepada perawat untuk memacu detak jantung nenek Mila.


Mereka melakukan segala upaya untuk menyelamatkan nyawa wanita tua itu. Di luar ruangan keadaan juga tak kalah tegang. Semua berdoa untuk kesembuhan nenek Mila yang saat ini sedang sekarat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Nyonya Slavic?" tanya Ziga kepada Via istrinya begitu tiba di rumah sakit.


Via menggeleng lemah, wanita itu segera memeluk sang suami untuk mencari ketenangan. Ziga memang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihat sikap istrinya seperti itu membuat ia berpikir bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa nenek Mila. Pria itu membelai lembut punggung istrinya berusaha menenangkan wanita itu.


"Sabar sayang, dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Nyonya Slavic," ucap Ziga menghibur Via agar istrinya itu tidak bersedih lagi.


Hal yang sama juga di lakukan oleh Erik, pria itu memberikan dadanya untuk tempat bersandar sang kekasih yang saat ini tengah bersedih. Ia membimbing Mia untuk duduk agar gadis itu merasa lebih tenang. Erik yang memang telah mengetahui kondisi sebenarnya nenek Mila tidak terlalu terkejut, hanya saja ia tidak menyangka akan secepat ini kejadiannya.


Setelah sekitar hampir satu jam akhirnya salah seorang dokter keluar dari ruang ICU dengan raut wajah sedih.


"Dokter bagaimana keadaan nenek?" tanya Mia begitu melihat ada dokter yang keluar dari ruang ICU tempat neneknya saat ini di rawat.


"Maaf Nona, kami telah berusaha semampunya. Namun, ternyata Tuhan berkehendak lain," jawab sang dokter menundukkan kepalanya karena merasa telah gagal menyelamatkan nyawa seorang pasiennya.


"Tidak ... ini tidak mungkin," pekik Mia histeris, gadis itu terhuyung ke belakang setelah mendengar kabar buruk tentang neneknya.


"Apa tidak ada lagi yang dapat kalian lakukan?" tanya Ziga kepada sang dokter. Ia masih berharap nenek Mila masih dapat di selamatkan.


"Maafkan kami Tuan, hanya ini yang bisa kami lakukan," jawab sang dokter lemah, ia tahu ini adalah kabar buruk bagi seluruh anggota keluarga yang di tinggalkan.


"Aku mau melihat nenek," ujar Mia ingin melihat wajah wanita yang paling di sayanginya untuk terakhir kali.


Dokter pun mempersilakan mereka semua untuk melihat jenazah nenek Mila yang kini telah terbujur kaku di atas ranjang. Mia pun masuk dengan di bimbing oleh Erik, gadis itu segera berlari memeluk tubuh nenek Mila yang kini telah damai dalam tidurnya.


"Nenek, jangan tinggalkan Mia, kenapa Nenek tinggalin Mia sendiri," ratap Mia dengan air mata yang berderai membasahi pipinya. Gadis itu terisak menggoyangkan tubuh nenek Mila yang telah kaku tidak bernyawa.


"Tenang sayang, ini sudah takdir Tuhan. Mungkin ini jalan terbaik yang di pilih Tuhan untuk nenek," ucap Via bijak, wanita itu membelai lembut punggung Mia yang bergetar karena isak tangisnya.

__ADS_1


"Aunty," ucap Mia membalikkan tubuhnya memeluk Via, gadis itu benar-benar merasa terpukul dengan kepergian sang nenek karena kini ia tidak memiliki keluarga lagi.


Mia tidak tahu dimana keberadaan kedua orangtuanya yang telah meninggalkan gadis itu sejak Mia masih berumur lima tahun. Hanya nenek Mila yang Mia miliki di dunia ini dan kini nenek yang paling di sayanginya meninggalkan dirinya menghadap Yang Maha Kuasa.


Via memeluk dan membelai lembut punggung gadis itu, walau ia juga merasa sedih tetapi ia tetap harus menghibur Mia. Via tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Ia pun mengalami ketika harus kehilangan kedua orangtuanya yang meninggal dalam kecelakaan enam tahun lalu sebelum ia menjadi nyonya Pratama.


Erik dan Ziga pun tak kalah sedih dan juga iba melihat keadaan Mia. Namun, tidak ada yang dapat mereka berdua lakukan karena ini semua sudah takdir Tuhan.


Di luar ruangan, Aldrich segera menghubungi anak buahnya untuk mengurus pemakaman nenek Mila. Walau Mia belum mengatakan apa-apa, tapi pria itu berusaha untuk membantu gadis itu tulus.


"Terima keadaan ini, berdoa kepada Tuhan agar nenek di tempatkan di surga bersama dengan orang-orang baik lainnya," ucap Via bijak, ia tidak ingin Mia terus berlarut-larut dalam kesedihannya.


"Jangan bersedih lagi, kau masih memiliki kami sebagai keluargamu," ujar Via yang memang telah menganggap Mia seperti adik kandungnya sendiri.


"Terimakasih Aunty," jawab Mia haru, ia merasa beruntung bisa mengenal Via yang memiliki sifat seperti malaikat menurut gadis itu. Via selalu baik kepada semua orang membuat banyak orang menyukainya.


"Biar aku yang urus pemakaman nenek," ujar Erik kepada Mia, bagaimanapun juga ia tidak ingin kekasihnya tersebut memiliki banyak pikiran.


Mia menganggukkan kepalanya, gadis itu masih terpaku menatap tubuh nenek Mila yang membujur kaku di ranjang.


Sementara itu di kediaman Via yang terdapat di kota Praha, Ayu tengah menemani kedua cucunya yang sedang bermain di dalam kamar. Ini pertama kalinya Nyonya besar Pratama itu datang ke rumah Via yang terbilang sangat kecil jika di bandingkan dengan kediamannya di Meadow Lane atau tempat tinggal Via yang sekarang di Townhouse. Wanita itu menitikkan air mata membayangkan bagaimana kehidupan Via selama lima tahun berpisah dengan putranya dan harus mengurus kedua buah hatinya serta membuka toko bunga untuk menghidupi kesehariannya.


"Grandma kenapa menangis?" tanya Zeline yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah bocah itu kembali dari toilet.


"Grandma tidak apa-apa sayang," jawab Ayu menyeka air mata yang mengalir di pipinya tak ingin sang cucu melihatnya sedang menangis.


"Mengapa Grandma sama seperti nenek, tadi nenek menangis di toilet," tutur Zeline membuat bulu kuduk Ayu merinding pasalnya di rumah itu hanya ada mereka bertiga, Ayu, Zeline dan Aiden tidak ada yang lainnya.

__ADS_1


*Jangan lupa like n vote donk, jangan pelit-pelit, biar Ay semangat buat lanjut cerita ini.*


__ADS_2