
Jangan pernah menyesali sehari dalam hidupmu. Hari-hari baik memberimu kebahagiaan dan hari-hari buruk memberimu pengalaman.
~Ay Alvi~
"Maafkan aku," sesal Joshua, ia menyesal dan merasa semua yang terjadi hari ini adalah karena mereka berusaha untuk menolongnya. Andai mereka tidak datang ke pulau ini untuk menolongnya tentu kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
Nadhya menggelengkan kepalanya, gadis itu tidak menerima permintaan maaf Joshua. Ia sama sekali tidak menyesali apa yang terjadi. Semua sudah di takdirkan oleh Tuhan. Gadis itu menggenggam tangan Joshua dan tak lama matanya pun terpejam.
"Tidak ....!!!!" teriak Joshua.
Semua yang berada di sana melihat ke arah Joshua setelah mendengar teriakan pria itu. Mereka menatap sedih ke arah pria yang kini tengah memeluk erat tubuh kekasihnya tersebut. Erik menghampiri Joshua dan mencoba memeriksa keadaan Nadhya.
"Sepertinya Nona hanya pingsan. Mungkin ia kelelahan," ucap Erik berusaha menenangkan hati Joshua walau ia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang di ucapkannya.
"Uncle!" panggil Zeline pada sosok yang mendiami raga ayahnya. Gadis itu menatap dalam-dalam dengan tubuh yang terus bergetar hebat.
Tidak lama kemudian tubuh Ziga pun jatuh lunglai ke tanah. Jordan segera membantu pria yang mulai pulai kesadarannya itu.
"Daddy tidak apa-apa?" tanya Zeline menghampiri sang ayah, tangannya menggenggam lembut jemari Ziga.
"Daddy baik sayang," jawab Ziga masih sedikit linglung. Pria itu menarik sang putri ke dalam pelukannya.
"Cepat panggil bantuan, kita harus segera menyelamatkan Nadhya!" ucap Jordan memberikan perintah kepada Erik agar pria itu dapat segera menghubungi paramedis.
Erik pun segera menuruti perintah Jordan, pria itu menghubungi helikopter untuk segera menjemput mereka semua. Ia merasa lega karena pada akhirnya semua bisa selamat, hanya tinggal Nadhya yang masih memerlukan pertolongan. Semoga saja tidak ada yang terjadi pada gadis itu. Semua ikut berdoa untuk keselamatan Nadhya.
"Maafkan aku," ucap Ziga penuh sesal setelah ia mendengar cerita dari Zeline dan Jordan tentang apa yang terjadi pada sepupunya tersebut.
"Ini bukan salahmu," bantah Joshua masih memeluk erat tubuh kekasihnya.
__ADS_1
"Seharusnya aku tidak melibatkan kalian dalam hal ini," tambah pria itu menyesal atas semua tragedi yang menimpa Ziga dan juga yang lainnya.
Ziga menepuk bahu Joshua, ia tidak menyesal telah membantu pria itu. Ada banyak pelajaran yang bisa ia ambil dari kejadian ini. Di antaranya adalah bahwa harta tidak selamanya bisa membuat hidup manusia bahagia. Terkadang harta dapat membuat manusia lebih menderita, seperti yang di alami oleh Joshua. Ia dan ibunya menjadi korban keserakahan Howard.
"Uncle!" panggil Zeline kepada Joshua, ada satu rahasia lagi yang harus ia ceritakan kepada laki-laki itu.
Rahasia yang Zeline lihat dengan mata batinnya saat berkomunikasi dengan sosok yang merasuki raga sang ayah. Ia ingin memberitahu Joshua pesan yang di sampaikan oleh sosok itu kepadanya.
"Ada apa Zel?" tanya Joshua menatap bocah berusia lima tahun itu.
Zeline mendekati Joshua kemudian bocah itu membisikkan sesuatu di telinga pria itu membuat Joshua mengerutkan kedua alisnya.
Joshua kemudian menatap Zeline lalu menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti apa yang di maksud oleh bocah kecil itu.
"Ada apa?" tanya Ziga penasaran, ia juga ingin tahu apa yang di bisikkan oleh putrinya kepada Joshua.
Setelah agak lama, akhirnya helikopter pun datang untuk menjemput mereka. Ziga, Zeline beserta Joshua yang membawa Nadhya berada di dalam helikopter pertama yang akan membawa mereka ke rumah sakit untuk menyelamatkan gadis itu.
Sementara yang lainnya berada di helikopter selanjutnya termasuk Howard yang akan di bawa ke markas Marko untuk di tanya lebih lanjut kejahatan apa saja yang telah di buat oleh pria itu terhadap keluarga Joshua.
Setelah tiba di rumah sakit, Nadhya langsung di bawa ke unit gawat darurat. Ziga juga menyarankan kepada Joshua agar pria itu ikut memeriksakan keadaannya karena ia baru saja terbangun dari koma.
"Bagaimana keadaan Nadhya Dok?" tanya Ziga pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan sepupunya tersebut.
"Ada sedikit luka di dalam tubuh Nona, namun secara keseluruhan dapat saya katakan keadaan Nona baik-baik saja," jelas sang dokter membuat Ziga bernafas dengan lega. Entah apa yang di lakukannya jika ada hal buruk yang menimpa Nadhya mengingat itu adalah kesalahan dirinya.
Ziga dan Zeline menatap tubuh gadis yang kini tengah terbaring di ranjang rumah sakit itu. Mereka berharap Nadhya cepat sadar sehingga ia dapat bersatu kembali dengan Joshua calon suaminya yang baru saja ia temukan kembali.
"Apa kata dokter?" tanya Ziga pada Joshua yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat gadis itu.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Hanya perlu banyak latihan gerak agar otot tubuh tidak kembali kaku," jawab Joshua seperti apa yang di jelaskan oleh dokter kepadanya.
Ziga mengangguk, ia tahu tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Terbaring di tempat tidur dalam kurun waktu selama itu tentunya membuat otot dan jaringan tubuh Joshua agak sulit bergerak karena kaku. Namun, ia bersyukur karena akhirnya pria itu dapat di selamatkan dari kekejaman Howard.
Menyebut nama Howard, Ziga langsung teringat akan pria serakah yang kejam itu. Entah apa yang sudah di lakukan oleh Marco dan Erik kepadanya. Ia membebaskan keduanya untuk bertindak kepada Howard. Namun, ia juga akan memberi kesempatan pada Joshua karena ia yang memiliki urusan terhadap sepupunya tersebut.
"Jagalah Nadhya, aku akan membawa Zeline pulang terlebih dahulu," ucap Ziga berpamitan kepada Joshua, matanya menatap iba ke arah putrinya yang kini tertidur di sofa karena lelah.
Joshua mengangguk kemudian pria itu menjabat tangan Ziga dan mengucapkan terimakasih kepada pria yang telah menolongnya itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika saja tidak ada Ziga yang menolongnya.
Ziga pun segera menggendong tubuh putri kecilnya yang tengah terlelap. Pria itu kembali ke kediamannya meninggalkan Nadhya dalam penjagaan Joshua. Ia yakin pria itu dapat di andalkan untuk menjaga sepupunya. Untuk saat ini orang tua gadis itu belum di kabarinnya. Ziga tidak ingin paman dan bibinya merasa cemas jika mengetahui putri mereka satu-satunya terkena musibah dan kini tengah di rawat di rumah sakit.
Di dalam kamar rawat Nadhya, Joshua menggenggam erat jemari gadis yang saat ini masih terpejam. Pria itu mengecup lembut punggung tangan Nadhya. Ia merasa sangat bersyukur gadisnya dapat selamat.
Nadhya adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada Joshua. Tiga tahun dirinya koma tidak membuat cinta gadis itu berpaling darinya. Nadhya masih tetap setia walau di luar tersebar kabar bahwa Joshua telah meninggal. Gadis itu menutup rapat pintu hatinya hanya untuk Joshua.
Tak terasa air mata Joshua mengalir membasahi tangan gadis yang masih setia di genggamnya.
*****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.
Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.
Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.
Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘
__ADS_1