
Pikirkan apapun yang akan kamu ucapkan. Karena setiap ucapan yang keluar dari mulutmu, tak akan bisa kamu tarik kembali.
~ Ay Alvi~
Ziga bertanya pada Nadhya siapa yang akan di temui oleh sepupunya tersebut di Colorado, karena seingat pria itu Nadhya bahkan tidak ingin lagi menyebutkan nama kota yang telah merenggut nyawa calon suaminya.
Nadhya menghela nafas, ia memang ingin melupakan tentang kecelakaan yang menimpa Joshua. Namun, ia juga terlalu penasaran dengan apa yang disampaikan oleh detektif suruhannya tersebut.
Gadis itu pun menceritakan tentang photo-photo yang telah di temukan secara tidak sengaja oleh orang lain yang ia perintahkan untuk menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpa Joshua. Saat Nadhya menceritakan hal tersebut, tiba-tiba gelas yang berada di sisinya jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Semua yang berada di sana terkejut dan kebingungan karena letak gelas memang cukup jauh dari sisi meja dan tidak ada yang menyentuhnya. Hanya Zeline yang tidak terkejut karena bocah kecil itu melihat Joshua dengan sengaja menjatuhkan gelas tersebut dengan wajah yang penuh dengan amarah.
Nadhya pun bangkit dari duduknya, gadis itu nampak ketakutan dengan kejadian yang terbilang horor tersebut.
"Uncle kenapa marah?" tanya Zeline pada Joshua, bocah itu penasaran sehingga tidak sadar mereka yang berada di ruang makan tengah memperhatikan dirinya.
Mereka semua menatap Zeline keheranan kecuali Ziga yang memang telah mengetahui tentang Joshua, pria itu hanya terkejut karena Zeline menanyakan mengapa pria tersebut marah.
"Zel, bicara dengan siapa?" tanya Via menyelidik, ibu tiga orang anak itu sedikit takut karena putrinya berbicara sendiri.
"Uncle!" panggil Zeline lagi karena Joshua belum juga menjawab pertanyaannya.
"Bilang pada Aunty Nadhya jangan pergi ke Colorado," pinta Joshua pada Zeline agar bocah kecil itu menyampaikan perkataannya.
"Zeline!" pekik Via, wanita itu mulai cemas karena anak perempuannya tersebut seperti tidak mendengarkannya.
Ziga meraih tangan Via dan menggenggamnya untuk menenangkan istrinya tersebut.
"Uncle Josh bilang, Aunty jangan pergi ke Colorado," ucap Zeline tepat seperti apa yang di katakan oleh Joshua.
__ADS_1
"Uncle Josh?" tanya Nadhya tak yakin,
"Apa Uncle Josh yang Zel maksud adalah Joshua?" Nadhya kembali bertanya pada keponakan perempuannya tersebut untuk meyakinkan bahwa yang Zeline maksud Josh adalah Joshua, pria yang hampir saja menjadi suaminya tersebut.
Nadhya memegang tengkuknya sendiri, entah mengapa gadis itu kembali merasakan kehadiran Joshua, pria yang hingga kini masih di cintainya.
Zeline mengangguk menjawab pertanyaan Nadhya membuat wanita itu terkejut kemudian dengan lemah segera kembali duduk di kursinya. Sedangkan Via dan Aiden hanya menatap dengan bingung, mereka berdua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Zeline dan Nadhya.
"Zel jangan bercanda!" ujar Via masih belum dapat memahami yang terjadi.
"Zeline tidak bercanda Mom." Ziga yang berbicara kali ini, pria itu tahu mungkin ini saatnya yang tepat memberitahu kepada mereka bahwa Zeline memiliki kelebihan khusus yaitu bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahkluk yang tak kasat mata.
"Maksud Daddy?" tanya Aiden, bocah laki-laki itu juga penasaran apa yang terjadi dengan adik kembarnya tersebut.
"Zeline bisa melihat dan berbicara dengan seseorang yang tak bisa kita lihat dengan mata biasa," terang Ziga menjawab pertanyaan putra sulungnya tersebut dan yang lainnya pun terperangah mendengar penjelasan Ziga.
"Zel, bisakah kau ceritakan seperti apa Uncle Josh itu?" tanya Nadhya setelah gadis itu dapat menenangkan diri dari rasa terkejutnya.
"Uncle Josh memiliki mata berwarna coklat yang serupa dengan warna rambutnya, badannya tinggi hampir sama seperti Daddy," ucap Zeline sembari memperhatikan Joshua yang kini duduk di hadapannya.
"Hidungnya mancung dan wajahnya juga tampan seperti Daddy," jelas bocah tersebut dengan polosnya Zeline membandingkan Joshua dengan ayahnya.
Nadhya kembali terhenyak mendengar penjabaran dari keponakan perempuannya tersebut, semua yang di katakan oleh Zeline benar memang ciri-ciri Joshua calon suaminya.
"Ya, itu memang Joshua," ucap Nadhya menyetujui penjabaran yang di sampaikan oleh keponakannya itu.
Via terkejut mendengar ucapan Nadhya yang menyetujui apa yang di katakan oleh anak perempuannya. Ia sendiri bahkan belum pernah melihat apalagi bertemu dengan Joshua, lalu bagaimana mungkin putrinya itu dapat menjelaskan dengan tepat ciri-ciri pria calon suami Nadhya tersebut.
Akhirnya wanita itu pun mempercayai ucapan suaminya yang mengatakan bahwa Zeline putri mereka dapat melihat dan berkomunikasi dengan sosok yang tidak dapat di lihat oleh mata manusia normal.
__ADS_1
"Apakah Joshua ada di sini?" Nadhya bertanya dengan lirih, gadis itu kembali teringat kenangan bersama sang kekasih.
Lagi-lagi Zeline mengangguk menjawab pertanyaan dari sepupu ayahnya tersebut.
"Josh, di manakah engkau?" tanya Nadhya dengan suara sedikit bergetar. Membayangkan pria yang di cintainya ada di dekatnya membuat gadis itu tidak dapat lagi menahan air matanya.
"Uncle Josh ada di sebelah Aunty," jawab Zeline memberitahu di mana posisi pria yang di tanyakan oleh Aunty-nya itu.
Nadhya menjulurkan tangannya meraih ruang kosong yang berada tepat di sebelahnya, gadis itu ingin menyentuh Joshua di tempat yang di tunjukkan oleh keponakan perempuannya.
Namun, Nadhya tidak dapat merasakan apa-apa, hanya sebuah bangku kosong yang ada di sebelahnya. Gadis itu pun langsung tersadar, jika ia tidak dapat melihat dan menyentuh Joshua itu artinya pria itu tidak ada lagi di dunia ini. Yang berarti calon suami yang di cintainya tersebut benar-benar telah mati, pikir Nadhya.
Gadis itu pun kembali bangkit dari duduknya kemudian segera berlari meninggalkan ruang makan dalam keadaan menangis. Melihat wanitanya pergi sambil menangis membuat Joshua panik, pria itu pun menyusul Nadhya yang kini telah masuk ke dalam kamar tamu.
Sementara itu Ziga hanya bisa menghela nafas menatap kepergian Nadhya, ia tahu tidak akan mudah bagi gadis itu untuk dapat menerima kenyataan. Apalagi Nadhya baru saja berharap Joshua masih hidup, kini ia di hadapi oleh kenyataan bahwa roh pria tersebut ada di sini pasti gadis itu kecewa bahwa harapannya tidak akan terwujud menjadi kenyataan.
Nadhya berlari menuju kamar tamu yang memang tersedia untuknya, gadis itu tak kuasa menahan tangisnya ketika mendapati kenyataan bahwa pria yang di cintainya tidak dapat lagi ia lihat dan ia sentuh. Nadhya membenamkan kepalanya di atas bantal, ia menumpahkan segala kesedihannya dalam tangisan.
Joshua yang ikut menyusul Nadhya hanya dapat melihat gadis itu menangis tersedu-sedu, ia tidak dapat menghibur sang wanita walaupun pria itu sangat menginginkannya.
Joshua mencoba menyentuh Nadhya, menggunakan segala kekuatan yang ada dalam dirinya agar dapat membelai wanita yang di cintainya tersebut. Berkali-kali Joshua melakukan itu, namun ia tetap gagal hingga akhirnya.
Nadhya menoleh ketika merasakan sebuah tangan membelai lembut kepalanya.
*****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 dan terimakasih juga yang telah memberikan like, coment dan juga votenya.
Buat yang belum like Ay tunggu ya, biar Ay tambah semangat buat berkarya.
__ADS_1
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘