
Seperti halnya kaca spion, kita gunakan untuk melihat kebelakang hanya agar berhati-hati dalam melanjutkan perjalanan kedepan.
~Ay Alvi~
"Tuan, ikatkan tubuh kalian dengan tali ini erat-erat, kami akan menarik ke atas secara perlahan!" ujar Erik dari atas melemparkan tali tersebut ke dalam sumur yang cukup dalam tersebut.
Lemparan tali itu langsung di sambut oleh Ziga yang kemudian segera mengikatkannya di pinggang mungil Zeline, ia juga melepas kemeja yang di kenakannya untuk melindungi pinggang putri kecilnya tersebut agar tidak terluka karena lilitan tali tambang yang besar.
"Pegang yang erat sayang, nanti Uncle Erik akan membantumu dari atas," pesan Ziga kepada putri kecilnya sembari mengecup lembut puncak kepala Zeline.
Sejujurnya pria itu tidak sampai hati melihat putranya naik ke atas sendiri. Ziga khawatir Zeline merasa takut karena bocah itu harus bergantung di tali untuk mencapai mulut sumur yang begitu tinggi. Namun, ia juga tidak dapat ikut naik berbarengan dengan Zeline. Pria itu takut mereka yang di atas akan mengalami kesusahan ketika harus mengangkat dua orang secara bersamaan dan hal itu tentunya akan membahayakan bagi ia dan putrinya.
Erik menarik tambang secara perlahan, pria itu juga di bantu oleh beberapa orang yang di belakangnya untuk membantu menarik dan menjaga keseimbangan. Setelah hampir sepuluh menit akhirnya kepala mungil Zeline muncul di permukaan sumur tua tersebut. Erik menyerahkan tambang kepada salah satu anak buahnya lalu ia sendiri segera meraih tubuh Zeline ke dalam gendongannya.
"Nona kecil tidak apa-apa?" tanya Erik sembari membuka ikatan tali pada pinggang kecil Zeline. Pria itu juga membuka kemeja sang tuan muda dari tubuh bocah itu.
"Zel baik-baik saja Uncle," jawab Zeline melepaskan pelukan Erik.
"Cepat bantu Daddy Uncle, kasihan Daddy," ucap Zeline dengan suara yang sedikit bergetar karena hawa malam itu sangat dingin mengingat angin laut berhembus sangat kencang.
Erik mengangguk kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk segera melempar kembali tali ke bawah dengan di sertai kemeja Ziga yang ikut ia turunkan. Pria itu juga membuka jaketnya kemudian memakaikannya di tubuh Zeline yang membuat bocah itu terlihat lucu karena mengenakan jaket yang kebesaran di ukuran tubuhnya.
Tali tambang pun telah di lemparkan ke dalam sumur berikut dengan kemeja Ziga yang terikat di sana. Pria itu mengambil kemejanya kemudian mengenakannya kembali. Untuk penyelamatan yang kedua, Jordan mengikatkan tubuh Albert dengan tali tersebut. Ia pun segera meminta anak buah Erik untuk mengangkatnya dengan hati-hati karena tubuh Albert telah renta.
__ADS_1
Di dalam gua, Howard terus berlari menghindari hantu wanita yang terus mengejarnya. Saking ketakutannya, secara tidak sadar pria itu berlari kembali ke arah jalan masuk gua di mana ada Marco dan anak buahnya yang tengah mencari mereka.
Daniel pun dengan terpaksa mengikuti jejak Howard, pria itu tidak berani untuk terus melangkah masuk lebih jauh ke dalam gua setelah apa ia melihat apa yang terjadi pada Howard.
"Cepat!" bentak Daniel kepada Nadhya yang saat ini masih menjadi tawanannya. Gadis itu berjalan sedikit lambat karena lelah dan juga keadaan gua yang memang sangat gelap.
Daniel menarik paksa tubuh Nadhya agar dapat mengikuti langkah besarnya. Ia sudah kehilangan jejak Howard yang terus berlari tanpa menghiraukan lagi keadaan di sekitarnya.
"Pergi! pergi! Jangan ganggu aku!" Howard terus saja berteriak ketakutan karena Joyce terus saja mengejarnya. Keringat dingin telah membasahi sekujur tubuh pria itu. Ia benar-benar ketakutan melihat sosok Joyce yang kini telah berubah menjadi menyeramkan.
Dorr ....
Suara letusan senjata terdengar membuat Daniel menarik tubuh Nadhya untuk merapat ke dinding gua. Pria itu berusaha untuk sembunyi di celah bebatuan yang terdapat di dinding tersebut.
Daniel mengeluarkan pistol miliknya dan mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari musuh yang mengeluarkan letusan senjata itu.
Nadhya ingin memberontak, akan tetapi kedua tangan gadis itu di ikat. Mulut Nadhya juga di sumpal dengan dasi sehingga gadis itu tidak dapat berteriak untuk meminta pertolongan.
Daniel berjalan sedikit melambat, memastikan bahwa tidak ada anak buah Marco di hadapannya. Pria itu merasa was-was setelah tadi terdengar suara letusan senjata. Apalagi saat ini ia tidak tahu bagaimana keadaan Howard. Mungkin saja atasannya itu telah tertembak.
Di atas sumur tua, Erik masih berusaha untuk mengeluarkan Ziga juga yang lainnya. Baru Zeline dan Albert yang dapat ia tarik ke atas. Tinggal tiga orang lagi yang berada di bawah sana. Erik kembali menurunkan tali tambang tersebut untuk menarik mereka.
Sementara itu Albert di dudukan di atas rumput yang telah di alasi palstik agar pria tua itu tidak kedinginan. Zeline mendekati Albert yang masih tampak bersedih setelah melihat tulang belulang Joyce putri satu-satunya. Awalnya ia kira wanita itu hanyut tersapu ke dalam lautan saat ada badai besar yang melanda pulau itu.
__ADS_1
Kakek tua itu sama sekali tidak menyangka kalau Joyce telah menjadi korban kejahatan dari orang lain yang ia sendiri belum tahu itu siapa. Zeline dan Jordan belum menceritakan segalanya tentang pembakaran yang menyebabkan kematian Joyce, sehingga pria tua itu tidak tahu jika yang menghabisi nyawa putrinya adalah Howard yang merupakan cucu tirinya.
"Kakek jangan sedih," ucap Zeline menghapus air mata yang mengalir di pipi Albert. Pria itu benar-benar merasa terharu atas apa yang di lakukan putri keluarga Pratama tersebut. Albert pun memeluk Zeline dengan penuh kasih sayang. Ia bangga dengan bocah kecil yang baru berusia lima tahun itu karena bocah perempuan tersebut benar-benar pintar dan juga peduli pada keadaan sekitarnya.
"Kakek!" panggil Joshua yang saat ini sudah berada di atas setelah berhasil di tarik oleh Erik dan anak buahnya. Tidak lupa pria itu membawa tulang belulang sang ibu yang ia bungkus dengan jas milik Ziga.
Joshua menghampiri Albert kemudian memeluk tubuh pria itu. Mereka berdua sama-sama merasakan kepedihan atas apa yang menimpa Joyce ibu kandung Joshua. Walau kejadian itu telah bertahun-tahun lamanya, tetapi mengetahui orang yang kita sayangi meninggal dengan tidak wajar tentu akan mengukir luka yang sangat dalam.
"Sebaiknya kau naik duluan!" perintah Ziga kepada Jordan, membiarkan pria itu lebih dulu di tarik oleh Erik karena hanya mereka berdua yang masih berada di dalam sumur tua tersebut.
"Tapi ...."
"Tidak usah membantah!" tegas Ziga tidak ingin lagi ada penolakan dari Jordan. Ia kemudian segera mengikatkan tambang tersebut ke pinggang sepupu istrinya itu.
Jordan awalnya ingin menolak karena ia tahu keadaan di bawah sini juga berbahaya. Apalagi di dalam sumur tersebut tidak hanya ada hantu Joyce tetapi ada makhluk lain yang tidak dapat di lihat oleh mata Ziga.
*****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.
Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.
Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.
__ADS_1
Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘