Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 23


__ADS_3

Salah satu tragedi terbesar dalam hidup adalah kehilangan rasa dirimu sendiri dan menerima versi dirimu yang diharapkan oleh orang lain.


~Ay Alvi~


"Jangan Uncle, jangan!" teriak Zeline masih dengan mata terpejam dan keringat dingin mulai membasahi tubuh bocah kecil itu.


'Zel, apa yang terjadi?" tanya Nadhya panik melihat sang keponakan yang saat ini tampak ketakutan.


"Zeline kenapa?" tanya Nadhya lagi kali ini sembari mengguncangkan tubuh bocah yang tengah terpejam itu.


Jordan pun segera menghampiri Zeline dan menyentuh lembut bahu bocah itu sehingga membuatnya matanya yang terpejam kembali terbuka. Nafas Zeline masih tersengal-sengal seolah bocah itu telah melihat sesuatu yang menakutkan.


"Apa yang terjadi Zel?" tanya Nadhya memberikan bocah itu segelas air agar Zeline dapat lebih tenang.


"Aunty!" panggil Zeline lemah dan tiba-tiba saja bocah itu menangis sesenggukan membuat Nadhya dan Jordan kembali berpandangan karena tidak tahu apa yang menyebabkan bocah itu menangis.


Saat mereka tengah di landa kebingungan karena tangisan Zeline, terdengar suara ketukan di pintu kamar yang mereka tempati.


Nadhya segera beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


"Apa yang terjadi dengan Zeline?" tanya Ziga khawatir setelah ia masuk ke dalam kamar dan melihat putrinya tengah menangis tersedu-sedu.


"Daddy!" panggil Zeline segera menghampiri Ziga dan memeluk erat tubuh sang ayah.


"Ada apa sayang?" tanya Ziga lembut membelai kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ce-cepat tolong Uncle Josh!" pinta Zeline di sela-sela tangisnya, bocah kecil itu sangat mengkhawatirkan keadaan Joshua.


"Iya sayang, kita pasti akan segera menolong Uncle Joshua," ucap Ziga berusaha menghibur putrinya agar tidak menangis lagi.


"Katakan yang sebenarnya sayang!" pinta Ziga agar ia mengerti apa yang membuat putri kecilnya itu menangis.


"A-ada Uncle yang mau membakar tubuh Uncle Josh," jawab Zeline menceritakan apa yang tadi di lihatnya.

__ADS_1


"Maksud Zel?" tanya Ziga kebingungan, pria itu pun melonggarkan pelukannya pada sang putri dan menatap Zeline dalam-dalam.


Zeline tampak menyeka air matanya yang tengah mengalir membasahi pipi bocah itu, dengan sedikit serak ia pun menceritakan semua yang di lihat melalui mata batinnya.


Mereka semua yang berada di sana tercengang mendengar apa yang di ceritakan oleh bocah kecil itu. Tidak ada yang menyangka bahwa akan menjadi semakin berbahaya untuk menyelamatkan Joshua.


Apalagi hanya tersisa sedikit waktu saja bagi mereka.


"Apa tindakan kita sekarang?" tanya Ziga kepada Jordan karena pria itu lah yang lebih mengetahui di antara semuanya.


Jordan terdiam, pria itu tampak berpikir sebentar memikirkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


"Bagaimana dengan Antony? Apa kau mendapat keterangan dari pria itu?" Jordan balik bertanya sebelum menjawab pertanyaan Ziga.


"Ia mengatakan tubuh Joshua berada di pulau yang terjaga ketat oleh anak buah Howard," jawab Ziga menjelaskan apa yang ia ketahui dari Antony.


"Apa tidak ada cara bagi kita untuk kesana?" tanya Nadhya yang sudah tidak sabar lagi untuk melihat raga dari calon suaminya tersebut.


"Aku sudah menghubungi Howard dengan alasan untuk membeli pulau itu karena menurut yang aku dengar pria itu tengah membutuhkan banyak uang untuk melunasi hutang-hutangnya." Ziga menjawab pertanyaan Nadhya dengan apa yang telah menjadi rencananya.


Pria itu memang harus melibatkan beberapa anak buahnya untuk menjamin keselamatan mereka. Apalagi Zeline juga akan ikut dalam usaha penyelamatan Joshua.


Jordan dan yang lainnya mengangguk setuju mendengar rencana yang di utarakan oleh Ziga. Setidaknya untuk saat ini itulah rencana terbaik yang mereka miliki.


"Kapan kita berangkat ke sana?" tanya Nadhya yang sudah tidak sabar untuk segera menolong Joshua pria yang hingga saat ini masih bertengger kokoh di dalam hatinya. Nadhya berharap usaha mereka kali ini dapat berhasil karena sudah tiga tahun lamanya ia menanti dan berharap dalam ketidakpastian.


"Besok pagi kita berangkat," jawab Ziga.


"Saat ini sebaiknya kita istirahat untuk mempersiapkan tenaga karena besok pasti akan menjadi hari yang melelahkan untuk kita," tambah Ziga yang kemudian segera membawa Zeline keluar menuju kamarnya sendiri.


Joshua hanya dapat melihat dan mendengar apa yang mereka rencanakan. Pria itu tidak dapat membantu apa-apa. Joshua menatap sedih ke arah Nadhya, akankah ia dapat bersatu dengan wanita yang paling di cintainya tersebut.


Phoenix Island, Kiribati.

__ADS_1


Howard kembali menatap Joshua yang tengah terbaring damai dalam tidurnya dengan kebencian yang mendalam. Pria itu ingin sekali menghabisi nyawa sepupunya tersebut sekarang juga. Namun, selama masih ada Albert di sana ia tidak akan bisa melakukan hal tersebut.


"Tuan, rombongan keluarga Pratama akan tiba esok siang!" lapor salah Daniel asisten Howard.


Howard menghisap kembali rokok yang terselip di bibirnya. Pria itu menghembuskan asap yang membumbung tinggi ke atas.


Ia tidak menanggapi laporan sang asisten. Howard hanya membayangkan besok ia akan mendapat keuntungan dari penjualan sebagian pulau tersebut.


"Bawa mereka ke bangunan selatan! Aku akan menemui mereka di sana," ucap Howard kepada asistennya tersebut. Pria itu memang bermaksud menjual sebagian pulau kepada Ziga tanpa sepengetahuan Albert.


Oleh karena itu, Howard akan membawa mereka ke selatan pulau agar Albert tidak mengetahui rencana busuknya tersebut. Penawaran harga yang menggiurkan membuat Howard akhirnya menyerah pada Ziga. Awalnya ia tidak berniat untuk menjual pulau itu, namun karena para penagih hutang terus mendesaknya akhirnya pria itu terpaksa menjual sebagian pulau kepada Ziga untuk menutupi semua hutang-hutangnya tersebut.


Howard mengambil pisau lipat dari dalam sakunya, kemudian menggores lengan pemuda itu hingga berdarah.


"Sebentar lagi kau akan binasa!" seru Howard di iringi tawanya yang menggelegar memenuhi ruangan itu membuat merinding siapapun yang mendengarnya.


Sang asisten itu pun ikut tertawa, ia memang anak buah kesayangan Howard. Apapun yang di lakukan oleh pria licik itu. Mereka berdua sama-sama tergila-gila akan harta.


Los Angeles, USA


Pagi harinya mereka bersiap untuk berangkat ke Phoenix Island. Ziga dan rombongannya menggunakan helikopter untuk mencapai pulau tersebut. Sedangkan beberapa orang anak buah lainnya seperti yang di rencanakan sebelumnya mereka akan menumpang di perahu yang membawa barang-barang keperluan kapal.


Jordan sudah mempersiapkan dirinya, pria itu juga memberikan Zeline arahan apa yang harus di lakukan bocah kecil tersebut. Nadhya sendiri di sini berperan sebagai wanita yang akan membeli pulau. Semua itu agar mereka bisa meminta Howard untuk mengajak semua menjelajah pulau agar dapat menemukan keberadaan tubuh Joshua.


****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga vote jika kalian punya poin lebih ya.


Untuk yang punya koin berlimpah bisa juga berikan tips untuk Ay ... wkwkwk.


Karena program THR udah ga berlaku lagi jadi TAKDIR CINTA 2 ga ada pemasukan, hahaha.


Jadi biar Ay semangat up beri dukungan kalian ya!

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk membaca karya terbaru Ay GIRL ON THE GANGSTER.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2