Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 20


__ADS_3

Hanya orang-orang yang tahu persis bagaimana cara dia kelak mati saja yang mengerti bagaimana seharusnya hidup.


~Ay Alvi~


"Bagaimana, apa kau tidak bisa menaikkan dosisnya?" tanya Howard kepada orang suruhannya yang selama ini ia perintahkan untuk meracuni Albert lewat obat-obatan yang di konsumsi oleh kakek dari Joshua itu.


"Maaf Tuan, jika saya menambahkan lagi dosisnya dan mempercepat kematian Tuan besar pasti akan ketahuan ketika nanti di lakukan pemeriksaan," jawab pria tersebut sembari menggelengkan kepalanya.


"Sial!!" umpat Howard dengan kekesalannya, pria itu sudah tidak sabar untuk menguasai harta Albert karena ia terus-terusan di kejar oleh para penagih hutang.


"Saya permisi Tuan," pamit pria itu, ia tidak berani berhadapan dengan Howard yang kini tengah dalam keadaan emosi. Tujuannya di sini hanya mencari uang untuk biaya istri dan anak-anaknya. Maka dari itu ia tidak akan mengambil resiko jika harus berkaitan dengan nyawa seseorang.


"Peter!" panggil Albert kepada pria yang baru saja keluar dari ruangan Howard, kakek tua dengan kursi roda itu mengisyaratkan pada Peter untuk segera mengikutinya ke kamar.


Pria itu menurut, ia membantu Albert dengan mendorongkan kursi roda masuk ke dalam kamar sang Tuan besar.


"Kunci pintunya!" perintah Albert yang langsung di turuti oleh Peter.


"Duduklah!" Albert kembali memerintahkan Peter untuk duduk di sofa yang ada di hadapannya.


"Apa dia percaya?" tanya Albert kepada Peter yang sebenarnya adalah orang kepercayaan pria tua itu.


Peter mengangguk menjawab pertanyaan Albert. Selama ini memang Howard percaya bahwa Peter berusaha meracuni Albert dengan obat yang pria itu berikan. Kenyataannya Peter telah menukar obat itu dengan vitamin dan terkadang pria itu meminta Albert untuk pura-pura kesakitan.


Ia memang dapat melakukan segalanya demi uang, apalagi Howard juga mengancam untuk membunuh keluarganya. Akan tetapi nurani pria itu sebagai seorang Dokter tidak dapat tenang jika harus menghilangkan nyawa seseorang.


Albert pun kemudian memberikan selembar amplop pada Peter, namun di tolak oleh pria itu.


"Tidak perlu Tuan," tolak Peter mendorong pelan tangan Albert yang menyodorkannya amplop berisi uang tunai.


"Terimalah!" ucap Albert sedikit memaksa, pria itu tahu Peter memiliki tanggungan yang besar apalagi anak dari pria itu butuh biaya untuk pengobatannya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Anda sudah banyak membantu saya," tolak Peter, Albert memang selalu membantu pria itu. Bahkan setiap bulan Albert rutin memberikan santunan kepadanya selain gaji pokok yang di dapat oleh pria tersebut.


"Tidak ada penolakan!" tegas Albert memaksa Peter untuk menerima amplop yang berisi uang itu.


"Tapi ...."


"Sudahlah, lebih baik kau lihat keadaan Joshua!" perintah Albert tidak ingin berdebat lagi dengan Peter.


"Te-terimakasih Tuan," ucap Peter penuh rasa syukur, pria itu merasa sangat beruntung karena Albert begitu baik padanya. Maka dari itu ia tidak mungkin mengkhianati kakek tua tersebut.


Sedangkan untuk Howard walaupun ia menerima uang pemberian dari pria itu, tapi Peter tidak pernah menggunakannya. Ia selalu menyimpan uang pemberian dari Howard karena tidak ingin mempunyai hutang budi pada pria jahat yang gila harta warisan itu.


Peter pun pamit kepada Albert untuk menuruti


perintah si kakek tua melihat keadaan Joshua yang hingga saat ini masih dalam keadaan koma setelah tiga tahun lamanya.


Albert memandang keluar jendela dari atas kursi rodanya. Pria itu merasakan sesak di dadanya, bukan karena penyakit yang ia derita tapi lebih pada kekecewaan hatinya karena sikap dan kelakuan Howard. Selama ini pria itu tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang antara Joshua dan Howard walau pria itu bukanlah cucu kandungnya.


Bukan semata-mata karena Joshua adalah cucu kandungnya, tetapi lelaki itu memang pandai mengelola perusahaan. Joshua memiliki perusahaan sendiri yang saat ini berkembang cukup pesat. Untuk sementara perusahaan itu di kelola oleh sahabat Joshua yaitu Antony.


Sementara itu di kediaman keluarga Pratama tengah di adakan diskusi bagaimana caranya untuk menolong Joshua. Apalagi kini Jordan telah menyatakan bahwa ia membutuhkan seseorang yang memiliki kelebihan khusus seperti dirinya.


"Uncle kenapa?" tanya Zeline yang melihat wajah Joshua tampak bersedih.


"Apa yang terjadi dengan Uncle Josh, Zel?" tanya Nadhya khawatir. Gadis itu cemas dengan apa yang terjadi pada pria yang hampir saja menjadi suaminya tersebut.


"Uncle tidak apa-apa sayang," jawab Joshua pelan.


"Mungkin Uncle memang tidak bisa kembali lagi ke dunia," ucap Joshua menyerah, rasanya tidak ada lagi harapan bagi dirinya.


"Mengapa?" tanya Zeline tidak mengerti dengan ucapan Joshua.

__ADS_1


Semua yang berada di sana mendengarkan apa yang di katakan oleh Zeline, tapi mereka tidak dapat mengetahui apa yang di katakan oleh Joshua. Hanya Jordan yang dapat melihat interaksi kedua orang tersebut.


"Tidak ada yang dapat membantu Uncle," ucap Joshua sedih. Pria itu duduk di samping Zeline sembari memandang ke arah Nadhya dengan perasaan yang tidak dapat ia lukiskan.


Pria itu masih belum rela seandainya ia tidak dapat lagi mendampingi wanita yang sangat di cintainya tersebut. Namun, tidak ada lagi yang ia lakukan, kini ia hanya bisa pasrah pada keadaan dan juga berserah pada Tuhan Yang Maha Esa.


"Zel akan membantu Uncle," ujar Zeline mencoba meraih wajah pria itu dan mengusap air mata yang yang mengalir di sudut matanya.


Joshua terkejut karena ia dapat merasakan sentuhan dari Zeline. Tangan bocah itu dapat menghapus air matanya bahkan menyentuh pipinya. Bukan hanya Joshua yang terkejut, Zeline pun terperangah karena saat ini ia tidak hanya bisa berkomunikasi dengan Joshua, bocah kecil itu juga dapat bersentuhan dengan pria yang tak kasat mata itu.


"Zel, bisa menyentuh Uncle," jawab Zeline riang, bocah itu merasa senang dan segera memberitahukan pada orang di sekitarnya.


"Benarkah?" tanya Ziga tak percaya karena ayah dari Zeline itu tidak melihat apa yang terjadi antara Joshua dengan putrinya.


"Benar," jawab Jordan meyakinkan, ia melihat dengan jelas keponakannya menyentuh pipi Joshua dan menghapus air mata yang mengalir di sana.


"Kalau begitu kita harus secepatnya membantu Joshua, sebelum masa roh itu berakhir," ucap Jordan mengingatkan bahwa waktu yang mereka miliki hanya sedikit.


"Tunggu! Apa maksudnya?" tanya Nadhya tak mengerti, ia tidak mengetahui bahwa ada yang membuat roh Joshua terkunci sehingga membuatnya tidak dapat kembali ke dalam raga pria itu.


"Kita harus segera menemukan tubuh Joshua untuk mengembalikan rohnya," jawab Jordan membuat gadis itu akhirnya mempunyai harapan untuk dapat bersatu lagi dengan sang kekasih.


****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga vote jika kalian punya poin lebih ya.


Untuk yang punya koin berlimpah bisa juga berikan tips untuk Ay ... wkwkwk.


Karena program THR udah ga berlaku lagi jadi TAKDIR CINTA 2 ga ada pemasukan, hahaha.


Jadi biar Ay semangat up beri dukungan kalian ya!

__ADS_1


Salam sayang selalu dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2