Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 26


__ADS_3

Seorang teman sejati adalah seseorang yang memahami masa lalumu, percaya akan masa depanmu, dan menerima apa adanya dirimu.


~Ay Alvi~


Albert pun segera membawa para tamunya untuk menuju bagian Utara pulau dengan di bantu oleh beberapa orang pelayan. Peter sendiri masih memeriksa keadaan Howard yang belum juga sadarkan diri. Pria itu sedikit bingung karena menurut hasil pemeriksaan yang telah di lakukannya, Howard tidak mengalami masalah kesehatan apapun. Pria itu jelas sehat-sehat saja.


"Apa yang terjadi pada Tuan Howard?" tanya Daniel penasaran dengan apa yang terjadi pada Tuannya tersebut. Ia berharap Howard cepat sadar karena pria itu khawatir kejahatan mereka akan terbongkar setelah Albert membawa Ziga dan rombongannya memasuki wilayah Utara pulau.


"Entahlah, dari hasil pemeriksaan tidak ada yang salah dengan Tuan Howard," jawab Peter setelah selesai memeriksa keadaan Howard.


Pria itu juga bingung dan tidak dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada pria tersebut.


"Ayo kita menemui Josh," ajak Albert kepada Nadhya dan yang lainnya. Kakek tua itu memimpin jalan dengan menggandeng Zeline di tangan kanannya.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam melalu jalan setapak akhirnya mereka tiba di sebuah rumah besar yang terlihat sangat mewah. Albert pun langsung membawa Nadhya untuk menemui cucu kesayangannya.


"Buka pintunya!" perintah Albert kepada kedua orang pria yang bertugas menjaga pintu kamar tempat Joshua di rawat.

__ADS_1


"Maaf Tuan, kami tidak berani membuka tanpa seizin Tuan Howard," jawab penjaga tersebut tidak ingin melanggar perintah yang di berikan oleh Howard.


"Kurang ajar! Kalian berani membantah!" bentak Albert berteriak dengan keras, pria itu menggebrak pintu yang ada di hadapannya.


Kedua penjaga itu tidak bergeming dengan teriakan yang di keluarkan oleh Albert. Sebelum pergi menyambut Ziga beserta rombongan, Howard telah berpesan kepada mereka agar tidak membukakan pintu kepada siapapun tanpa ada izin langsung darinya.


"Apa kalian tidak mendengar apa yang di perintahkan oleh Kakek?" tanya Nadhya kesal dengan sikap kedua penjaga itu yang tidak memperlihatkan rasa hormatnya kepada Albert selaku atasan mereka.


"Maaf Nona, tapi kami hanya mengikuti perintah," jawab salah satu orang penjaga yang memang hanya mengikuti perintah dari Howard.


Kedua orang itu saling berpandangan mereka tidak tahu harus menjawab apa. Keduanya hanya menjalankan apa yang telah di perintahkan. Yang mereka tahu, Howard adalah atasan mereka. Jadi, hanya pria itulah yang dapat memberi perintah kepada mereka.


"Maaf Tuan, kami hanya akan menuruti jika Tuan Howard yang memberi perintah," jawab keduanya berbarengan. Kedua pria itu menghalangi pintu agar Albert beserta yang lainnya tidak dapat masuk.


"Kurang ajar!" maki Albert, Kakek tua itu emosi karena sebagai pemilik semuanya dia tidak lagi di hargai oleh para anak buah dari Howard.


"Kakek sabar," ucap Nadhya menenangkan Albert agar pria itu tidak marah karena Nadhya takut hal itu berakibat buruk pada kesehatan Albert yang telah renta tersebut.

__ADS_1


"Benar apa yang di katakan Nona itu Kek, Kau harusnya bisa lebih sabar, jika tidak mungkin kau akan mati cepat sebelum cucu kesayanganmu sadar," ejek Howard yang tiba-tiba telah ada di sana. Pria itu datang dengan puluhan anak buahnya yang menodongkan senjata ke arah Albert dan juga Ziga beserta rombongannya.


Pria itu memerintahkan anak buahnya untuk mengepung mereka agar tidak dapat keluar. Senjata pun di arahkan anak buah Howard untuk membuat mereka takut.


"Dasar kurang ajar!" hardik Albert, ia tidak menyangka bahwa Howard akan berbuat nekad seperti itu.


"Hahahaha ...." Howard tertawa kencang mendengar Albert menghardiknya, pria itu tersenyum mengejek ke arah kakek dari Joshua tersebut.


"Buka pintunya!" perintah Howard kepada anak buahnya.


"Sebaiknya kalian semua ikut masuk ke dalam!" perintah Howard kepada Ziga dan juga rombongannya.


Ia menahan semuanya di dalam ruangan di mana terdapat tubuh Joshua.


"Maaf jika Anda harus terlibat Tuan Pratama, tapi aku tidak bisa membiarkan kau keluar dari pulau ini," ucap Howard mendorong masuk tubuh Ziga ke dalam ruangan tersebut.


"Dan kau lebih baik temani aku Nona." Howard menarik Nadhya ke dalam pelukannya dengan menodongkan senjata ke arah gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2