
Setiap orang mempunyai masalah, lebih baik mencari solusi masalahmu daripada membandingkan dengan orang lain.
~Ay Alvi~
"Grandma mengapa menangis?" tanya Zeline yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah bocah itu kembali dari toilet.
"Grandma tidak apa-apa sayang," jawab Ayu menghapus air mata dari pipinya, tak ingin cucu kesayangannya mengetahui bahwa ia baru saja menangis.
"Mengapa Grandma sama seprti nenek? tadi nenek di toilet juga menangis," tutur Zeline membuat bulu kuduk Ayu merinding, pasalnya di rumah itu tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka bertiga.
"Nenek yang mana Zel?" tanya Aiden ikut buka suara setelah mendengar ucapan adik kembarnya.
"Nenek Mila," jawab Zeline yang tidak tahu jika nenek dari Mia itu kini telah tidak bernyawa.
"Zel jangan bicara sembarangan!" tukas Ayu tidak ingin suasana menjadi horor karena apa yang dikatakan oleh cucu perempuannya itu.
"Zel tidak bicara sembarangan Grandma. nenek Mila memang menangis di toilet," jawab bocah itu polos.
"Apa kau bertanya mengapa nenek Mila menangis?" tanya Aiden penasaran. Ia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Zeline bisa melihat nenek Mila di rumah mereka.
Zeline menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sng kakak, memang nenek Mila mendatangi Zeline hanya dengan menangis saja, tidak berbicara atau belum bicara apapun pada Zeline.
Aiden terdiam bocah laki-laki itu tampak tengah berpikir keras menebak apa yang sebenarnya terjadi pada nenek Mila sehngga harus menemui Zeline.
Aiden meraih ponsel miliknya kemudian segera memanggil nomor sang ayah untuk menanyakan tentang nenek Mila yang saat ini ada di rumah sakit.
Sementara itu di rumah sakit, Mia masih tampak terpukul dan bersedih setelah kehilangan orang yang paling berarti untuknya. Saat ini gadis itu tidak mempunyai siapa-siapa lagi setelah kepergian sang nenek.
"Ikhlaskan kepergian nenek sayang, biarkan nenek tenang di alam sana," ucap Erik menghibur kekasih hatinya itu.
"Tapi ... kini aku tidak memiliki siapa-siapa lagi," jawab Mia lemah. Gadis itu kini hidup sebatang kara.
"Jangan bicara seperti itu!" ucap Erik melarang Mia berkata bahwa ia hanya seorang diri di dunia ini.
__ADS_1
"Aku-"
Erik segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Mia, tak ingin gadis itu meneruskan ucapannya.
"Kau memiliki aku dan juga keluarga Pratama, jangan pernah berpikir kalau kau sendirian di dunia ini," ujar Erik mengecup puncak kepala Mia dengan penuh kasih sayang.
Mia mengangguk, ia merasa sangat beruntung memiliki seorang kekasih seperti Erik. Usianya yang telah matang membuat pria itu dapat berpikir jauh lebih dewasa daripada dirinya.
"Kau tunggu di sini, aku akan mengurus kepulangan jenazah nenek dan juga pemakamannya," ucap Erik yang kembali di jawab dengan anggukan kepala oleh Mia.
"Tidal perlu! Aku telah mengurus semuanya," tukas Aldrich membuat Erik tidak senang.
"Apa maksud Anda Tuan Keninngstone?" tanya Erik kepada Aldrich dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
Aldrich menepuk kedua bahu Erik, kemudian pria itu pun berkata, "Aku telah mengurus semuanya dan ini sebagai ucapan bela sungkawa terhadap seorang teman."
Setelah mengatakan hal itu, Aldrich pun segera bergegas meninggalkan rumah sakit, ia tahu keberadaannya tidak di sukai oleh Erik dan Aldirch tidak mau ada masalah apalagi saat ini Mia tengah bersedih dan berduka.
"Aldrich tunggu!" panggil Mia sebelum pria itu meninggalkan rumah sakit. Gadis tersebut berlari ke arah Aldrich untuk menghampiri pria itu.
Namun, siapa sangka, pria itu meraih tangan Mia kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Jika ada lagi yang kau butuhkan, kau bisa menghubungi aku," pesan Aldrich membelai punggung Mia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mia mendorong pelan tubuh Aldrich, ia merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh pria itu, apalagi di sana ada Erik kekasihnya.
"Sekali lagi terimakasih," ucap Mia kali ini dengan meembungkukkan tubuhnya di hadapan Aldrich.
Erik sendiri mengepalkan kedua tangannya erat, tapi pria itu harus bisa menahan emosinya karena mereka saat ini mereka berada di rumah sakit.
Kembali ke kediaman Via di Praha, Aiden yang telah mengetahui tentang kematian nenek Mila dari sang ayah segera memberitahu hal tersebut kepada Zeline dan juga Ayu neneknya.
"Zel di mana nenek Mila sekarang?" tanya Aiden serius, ia ingin tahu apa yang ingin di sampaikan oleh nenek Mila dengan datang menemui Zeline.
__ADS_1
Zeline menunjuk sebuah sudut ruangan yang tampak kosong di mata Aiden dan Ayu, tetapi tidak untuk bocah perempuan itu. Ia melihat dengan jelas nenek Kamila Slavic tengah berdiri di sana dengan raut wajah yang sedih.
"Nenek, kemarilah!" ajak Zeline meminta supaya nenek Mila mendekat.
Nenek Mila tidak bergeming, roh wanita tua itu masih berdiri di tempatnya dengan tangis yang terisak. Zeline pun segera menghampiri nenek Mila dan menuntun wanita tua itu untuk medekat kepadanya.
"Nenek ada apa?" tanya Zeline duduk di tempat tidurnya di samping nenek Mila yang ia minta untuk duduk di sana.
Ayu yang tidak dapat melihat sosok nenek Mila merasakan bulu kuduknya merinding, walaupun ia telah mengetahui bahwa cucu perempuannya memiliki kelebihan khusus, tetapi baru kali ini ia menyaksikan dengan jelas Zeline berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata.
"Ada rahasia besar yang harus Mia ketahui, tapi nenek belum sempat mengatakannya," jawab nenek Mila sendu, ia menyesal belum dapat mengatakan hal tersebut kepada cucunya itu.
"Apa itu Nek?" tanya Zeline.
"Semua ada di dalam kotak yang tersimpan di lemari nenek," jawab nenek Mila.
"Baiklah, nanti akan Zel sampaikan pada Mia," ucap Zeline membuat roh nenek Mila tersenyum kemudian menghilang dari pandangannya.
Zeline menarik nafas kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur, entah mengapa setiap berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata membuat tubuh gadis itu merasa lelah.
"Apa yang nenek Mila katakan Zel?" tanya Aiden penasaran, sedari tadi ia hanya dapat mendengar suara sang adik, tapi tidak dengan suara nenek Mila. Jadi bagi Aiden dan Ayu, Zeline hanya bermonolog saja.
"Ada rahasia yang masih di simpan oleh nenek dan beliau menyesal belum sempat memberitahu Mia," jawab Mia sesuai dengan apa yang di katakan oleh nenek Mila.
Di tempat lain, Aldrich menghisap rokok yang baru saja di sulutnya, pria itu kini berada di salah satu klub malam terkenal di Praha.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Aldrich kepada salah seorang anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan adik kandungnya yang telah terpisah sekian tahun lamanya.
"Sudah Tuan," jawab pria itu kemudian segera memberikan sebuah amplop coklat besar berisi data dan juga photo-photo yangb berhasil ia dapatkan.
Aldrich pun segera membuka amplop dan mengeluarka isinya. Betapa terkejutnya pria itu setelah melihat photo yang terdapat di dalam amplop.
"Tidak ... ini tidak mungkin!" tukas Aldrich tak percaya, photo beserta amplop yang di pegangnya pun terlepas berserakan di lantai.
__ADS_1
*Jangan lupa like, coment, vote dan juga tips ya! Biar Ay tambah semangat buat terus up. Jangan pelit-pelit ya!*