Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 44


__ADS_3

Hai, jumpa lagi sama Ay si Author recehan.


Banyak yang komentar Thor kenapa ceritanya jadi serem sih bukan kisah percintaan lagi?


Ay cuma bisa jawab, sebaiknya kalian baca genre yang tertulis di halaman depan. Di sana sudah jelas tertulis ROMANTIS, MISTERI, SUPERNATURAL, jadi wajar kalau unsur dari ketiga itu ada di novel ini.


Sekali lagi tolong jangan gagal paham dan bilang Ay keluar dari jalur. Semua sudah Ay tulis secara jelas. Novel ini memang berbeda dengan novel pertama yang cuma bergenre Romantis.


Tolong di pahami ya!!!!!!


Terimakasih sebelumnya, jangan lupa like, coment, vote dan juga tip buat yang punya koin lebih. Sekarang lanjut baca lagi yuuuu ..!!!


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


*****_____*****


Setelah kamu mengganti pikiran negatif dengan yang positif, kamu akan mulai mendapatkan hasil positif.


~Ay Alvi~


"Katakan apa maumu?!" tanya Jordan sedikit tidak sabar karena sosok itu belum juga mau menjawab. Pria itu khawatir jika terlalu lama tubuh Ziga di rasuki sosok tersebut akan dapat membahayakan nyawa ayah tiga orang anak itu.


Ziga mengangkat kepalanya, pria itu menatap sekeliling dengan mata yang memerah. Pandangannya terhenti tepat di Joshua. Ia menatap tajam kekasih Nadhya tersebut sembari menunjuk ke arah Joshua membuat pria itu kebingungan.


"Uncle!" panggil Zeline yang mendekati Ziga, bocah itu bukan memanggil ayahnya melainkan memanggil sosok yang mengisi raga sang ayah.


Ziga menoleh mendengar panggilan dari Zeline, sorot matanya meredup tidak lagi tampak merah menyala. Pria itu bangkit kemudian mendekati Zeline yang saat ini masih berdiri di dekat Joshua.

__ADS_1


Zeline meraih tangan Ziga yang kini ada di hadapannya. Bocah itu kemudian menarik juga tangan Joshua dan menyatukan ketiga tangan mereka.


"Uncle Josh pejamkan mata," pinta Zeline kepada Joshua. Walau merasa bingung, tapi Joshua tetap memenuhi permintaan Zeline. Ia segera memejamkan kedua matanya.


Dengan mata terpejam, tiba-tiba Joshua bisa melihat peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam. Seolah saat ini ia berada di sana di mana terjadi pembunuh di Puri kediaman Albert. Keringat mengucur deras dari pelipis Joshua, wajah pria itu menegang melihat peristiwa memilukan tersebut.


Sementara itu yang lainnya memandang khawatir ke arah mereka. Ketiga orang di tengah-tengah mereka nampak seperti tengah melakukan pergelutan batin yang kuat. Tidak hanya tubuh Joshua yang berkeringat dengan deras, tubuh Zeline dan Ziga pun mengalami hal yang sama.


Akhirnya setelah sekitar setengah jam lamanya, Zeline melepaskan pegangan tangan mereka. Joshua pun membuka kedua matanya dan Ziga kini telah kembali kesadarannya. Pria itu jatuh terduduk karena merasa lemah di sekujur tubuhnya.


Jordan segera membantu Ziga untuk bangun dan duduk kembali di kursi taman. Via pun segera menghampiri sang suami yang saat ini dan memberikan Ziga segelas air seperti peintah Jordan.


"Daddy tidak apa-apa?" tanya Via khawatir melihat keadaan suaminya, wanita itu segera menyodorkan minuman untuk Ziga.


Pria itu menggeleng lemah kemudian mengambil gelas dari tangan istrinya dan menenggak habis hingga tidak tersisa.


"Daddy maaf dan terimakasih," ucap Zeline kepada Ziga yang kini tampak kebingungan dengan ucapan putri kecilnya tersebut.


"Maaf dan terimakasih untuk apa?" Via yang bertanya karena wanita itu juga penasaran dengan apa yang di katakan oleh Zeline.


"Harusnya aku yang mengucapkan hal itu," ujar Joshua kepada pasangan Pratama tersebut.


"Maaf telah merepotkanmu tentang yang baru saja terjadi dan terimakasih kau telah menjadi perantara sehingga aku bisa mengetahui semua yang terjadi di masa lalu," jelas Joshua panjang lebar.


Ziga menghela nafas panjang, ia sendiri tidak sadar apa yang terjadi tadi kepadanya. Yang ia ingat adalah ada satu sosok pria paruh baya yang meminta izin untuk memasuki tubuhnya dan sebelum ia menjawab ternyata raganya telah di isi oleh sosok tersebut.


"Jadi, kau sudah mengetahui semuanya?" tanya Ziga kepada Joshua. Sementara yang lain nampak serius mendengarkan percakapan mereka karena semua penasaran apa yang sebenarnya di lihat oleh ketiga orang itu sehingga membuat mereka menjadi tegang hingga berkeringat deras.

__ADS_1


"Ya aku telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua orang tuaku dan Howard lah yang harus bertanggung jawab atas semua ini," jawab Joshua mengepalkan kedua tangannya, pria itu merasakan amarah yang memuncak kepada sepupunya tersebut.


Joshua tidak menyangka, jika sedari kecil pria itu telah berpikiran picik dan jahat. Dulu, Joshua merasa senang ketika sang nenek datang membawa Howard untuk tinggal bersama mereka. Ia pikir Howard adalah anak yang baik sehingga mereka dapat berteman karena usia keduanya juga seumuran.


Namun, siapa yang menduga jika kedatangan anak itu adalah awal dari bencana yang menimpa keluarga Joshua. Hati Howard di penuhi kebencian karena merasa iri akan kasih sayang yang di dapatkan oleh Joshua sehingga membuat anak kecil berusia sepuluh tahun itu berubah menjadi monster yang kejam.


"Howard ada di dalam pengawasan Marco, kau bisa menemuinya kapan saja kau inginkan," tukas Ziga memberikan izin kepada Joshua untuk menemui Howard guna membalaskan semua dendamnya.


"Aku ingin menemuinya sekarang," jawab Joshua tidak sabar, pria itu benar-benar merasakan amarah di dalam dadanya telah memuncak.


Nadhya meraih tangan Joshua dan mengusap lembut punggung calon suaminya tersebut untuk menenangkan pria itu. Ia tidak ingin. Joshua bertindak gegabah dalam keadaan marah. Sudah cukup tiga tahun ia kehilangan pria itu dan kini Nadhya tidak ingin ada hal buruk yang dapat memisahkan dirinya dengan Joshua.


"Bisakah kau menunda itu semua setelah pernikahan kita?" tanya Nadhya yang tidak ingin rencaba pernikahannya gagal lagi.


"Tapi ...." Joshua tampak ragu, pria itu ingin segera melampiaskan kemarahannya kepada Howard. Namun, melihat tatapan Nadhya yang menyorotkan pengharapan membuat hati pria itu luluh. Ia juga tidak ingin lagi membuat gadis cantik di sampingnya itu bersedih.


"Baiklah, aku akan menyelesaikan masalah ini setelah pernikahan kita," putus Joshua pada akhirnya, pria itu menarik Nadhya ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala gadis itu.


Semua pun bernafas lega mendengar keputusan Joshua. Mereka berharap kedua pasangan ini akan hidup bahagia setelah begitu banyak cobaan yang di alami oleh keduanya.


"Lalu kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Via yang sudah tidak sabar melihat sahabatnya mengenakan gaun pengantin dan berjanji di atas altar di hadapan Tuhan.


"Minggu depan," jawab Nadhya dengan mata berbinar, gadis itu benar-benar merasa bahagia karena akhirnya penantian dan kesetiaannya kepada Joshua selama ini tidak sia-sia.


"Selamat Nadh," ucap Via memeluk tubuh sahabat sekaligus sepupunya tersebut. Ia ikut bahagia mendengar kabar gembira ini.


Jordan yang mendengar hal itu pun langsung melirik ke arah Sera membuat gadis itu menundukkan kepalanya. Ia telah menyatakan perasaannya kepada Sera, namun hingga saat ini belum ada jawaban pasti dari gadis asal Yogyakarta itu.

__ADS_1


__ADS_2