Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 29


__ADS_3

Orang yang bijak adalah yang tahu siapa yang harus dia percaya. Orang yang lebih bijak adalah dia yang selalu bisa dipercaya.


~Ay Alvi~


"Zel-Zeline?" tanya Joshua dengan lemah, pria itu melihat dengan kurang jelas bocah kecil yang berhasil menolongnya kini tengah tidak sadarkan diri terbaring di atas sofa.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Zeline, tapi kita harus secepatnya keluar dari sini," ucap Ziga panik memandangi wajah Zeline yang semakin pucat dengan nafas sedikit tersengal.


Ziga kembali mengirimkan sinyal beruntun kepada Erik agar pria itu segera datang untuk menolongnya karena keadaan Zeline begitu mencemaskan.


Sementara itu Via di kediamannya mencoba menghubungi Erik untuk menanyakan keadaan Ziga dan juga putrinya. Setelah tiga orang yang sebelumnya ia hubungi tidak ada jawaban akhirnya Erik menjawab panggilan wanita itu.


"Erik, bagaimana keadaan Zeline dan Ziga?" tanya Via cemas, wanita itu benar-benar mengkhawatirkan keadaan suami dan juga putri satu-satunya tersebut.


"Maaf Nyonya, untuk saat ini kami belum mengetahui keadaan Tuan dan Nona kecil," jawab Erik jujur karena ia tidak mau ada kesalahan dalam melaporkan keadaan Ziga dan juga Zeline.


"Bagaimana mungkin kau tidak tahu?!" tanya Via kesal karena jawaban yang di berikan Erik malah menambah kekhawatirannya akan keadaan kedua orang yang amat di sayanginya.


"Lalu, bagaimana dengan Jordan dan Nadhya?" tanya Via lagi karena selain suaminya kedua orang itu juga tidak dapat ia hubungi ponselnya.


"Keduanya juga sama Nyonya, mereka masih menjadi tawanan Howard," jawab Erik menggambarkan keadaan yang sebenarnya.


"Tapi tenang saja Nyonya, kami akan segera menyelamatkan Tuan dan yang lainnya," ucap Erik berjanji pada Via.


"Harus! Kau harus membawa mereka pulang dengan selamat," tegas Via dengan suara bergetar, wanita itu tidak mampu menahan lagi air matanya karena ia benar-benar mencemaskan keadaan putri dan juga suaminya.


"Baik Nyonya," jawab Erik kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya karena ada sinyal yang datang beruntun dari Ziga.


"Kita berangkat sekarang!" perintah Erik kepada Marco dan anak buahnya. Pria itu memimpin operasi untuk menyelamatkan Ziga dan yang lainnya.


Marco mengangguk, lalu dengan langkah lebar pria itu menyusul Erik yang sudah siap dengan senjatanya.

__ADS_1


Via terisak saat selesai menghubungi Erik, ia takut suami dan putrinya mendapatkan musibah. Wanita itu pun berdoa untuk keselamatan suami, putri dan juga kedua sepupunya. Semoga saja tidak ada hal buruk yang menimpa mereka harap Via.


Erik dan Marco bergegas membawa anak buahnya untuk menyerang kediaman Howard. Mereka mengendap-endap untuk melumpuhkan anak buah pria itu yang tidak sedikit jumlahnya.


Dengan membawa sepuluh orang bersamanya Erik mulai menembaki kediaman pria itu dan membuat Howard kelabakan karena mendapatkan serangan dadakan.


Pria itu segera memerintahkan anak buahnya untuk menghadang Erik dan pasukannya yang telah memasuki wilayah mereka. Sedangkan ia sendiri segera berlari ke kamar tempat Nadhya di sekap dan membawa gadis itu untuk di jadikan sandera.


Erik dan Marco memukul mundur semua musuh-musuhnya dan membuat beberapa di antara tewas seketika. Sementara itu Howard beserta Daniel membawa serta Nadhya melarikan diri ke hutan melalui jalan rahasia.


Di dalam kamar tempatnya di sekap, Jordan berusaha mendobrak pintu agar dapat keluar dari sana. Pria itu mengkhawatirkan keadaan Zeline yang semakin melemah.


Ziga memeluk tubuh sang putri yang kini tidak berdaya, air mata hampir membasahi pipinya saat melihat keadaan Zeline yang begitu memprihatinkan.


Joshua sendiri memandangi tubuh Zeline dengan perasaan bersalah. Pria itu sadar apa yang menimpa Zeline adalah akibat dari menolong dirinya. Joshua mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya, namun karena sudah terlalu lama raganya terbaring di atas ranjang membuat seluruh tubuhnya kaku dan agak sulit untuk di gerakkan.


Di luar ruangan, baku tembak antara Erik, Marco dan anak buahnya melawan pengikut Howard berlangganan cukup sengit. Kalah jumlah membuat Erik dan Marco mengalami sedikit kesulitan. Akan tetapi karena anak buah yang mereka bawa adalah yang terbaik dan berpengalaman membuat pasukan Erik dapat memenangkan pertempuran itu denga mengalahkan puluhan anak buah Howard.


Mereka semua menggeledah satu-persatu ruangan yang terdapat di dalam bangunan besar tersebut. Setelah beberapa lama, akhirnya Erik dan anak buahnya dapat menemukan ruangan tempat Ziga dan yang lainnya di tahan. Akan tetapi yang mengejutkan mereka adalah terdapat bom yang terpasang di pintu tersebut dan waktu yang tersisa hanya tinggal dua puluh menit saja.


Sementara itu Howard dan Daniel melanjutkan pelariannya dengan membawa serta Nadhya. Mereka menyusuri jalan setapak memasuki kawasan hutan belantara.


Pria itu menggeret tangan Nadhya yang terikat, Howard menarik paksa gadis itu untuk mengikutinya.


"Lebih baik kau bunuh aku!" tukas Nadhya tak ingin menjadi tawanan Howard. Ia lebih rela kehilangan nyawanya ketimbang harus mengikuti keinginan pria jahat itu.


"Tutup mulutmu Nona!" bentak Daniel tak sabar karena sedari tadi gadis itu terus berteriak memaki Howard.


"Hentikan Daniel! Sebentar lagi Nona cantik ini akan menjadi Nyonya Curtis," ujar Howard meraih wajah Nadhya dan mencium sekilas pipi gadis itu.


"Cuih!" Nadhya meludahi wajah Howard. Gadis itu benar-benar merasa jijik dengan pria yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kurang ajar kau Nona!" Daniel menampar pipi Nadhya hingga sudut bibir gadis itu berdarah.


Howard sendiri menyeka wajahnya yang di ludahi oleh Nadhya.


"Sebaiknya kau jaga sikapmu Nona, asistenku tidak bisa bersabar dan bersikap lembut," ucap Howard mengingatkan Nadhya bahwa Daniel memiliki temperamen yang buruk.


Namun, Nadhya tak perduli dengan perkataan Howard, gadis itu malah menggunakan kakinya untuk menendang paha Howard yang langsung dapat di hindari oleh pria itu.


Daniel pun segera menarik paksa tubuh Nadhya dan melanjutkan pelarian mereka. Howard mengikuti di belakang sembari melihat sekelilingnya dan memastikan tidak ada yang mengikuti pergerakan mereka.


Mereka memasuki hutan belantara di saat matahari hampir saja terbenam. Ketiganya terus memasuki hutan untuk menghindar dari kejaran Erik dan anak buahnya.


Setelah menggeledah isi rumah dan tidak mendapati Howard berada di sana, Erik pun segera memerintahkan Marco untuk menyisir keluar dan melakukan pengejaran terhadap pria itu.


Sedangkan ia sendiri bersama beberapa orang lainnya mencoba untuk menjinakkan bom yang terpasang di pintu ruangan tempat Ziga dan yang lainnya di tahan.


"Tuan, tolong jangan menggerakkan pintu!" pinta Erik karena dari dalam Jordan berusaha untuk mendobrak pintu tersebut.


"Mereka memasangkan bom pada pintu ini, kami akan berusaha untuk menjinakkannya," ujar Erik menjelaskan keadaan di luar kepada Ziga dan semua yang berada di luar ruangan.


Ziga terkejut mendengar ucapan Erik, saat ini ia harus segera membawa keluar putrinya yang sedang tidak sadarkan diri. Pria itu pun memerintahkan Erik untuk segera berusaha membebaskan mereka.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2. Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya. Buat yang punya koin lebih bisa kasih tip juga ya, biar Ay semangat up nya.


Ay juga mau kasih pengumuman buat yang mau masuk Gc ay (Alvi Barta Jadul) harap memberikan alasan dengan mengetikkan judul novel karya Ay. Atau juga bisa tinggalkan jejak komentar di novel Ay. Biar admin ga usah cek profil lagi.


Buat yang kemarin kena kick admin, ay minta maaf ya karena memang Gc di tutup sementara. Sekarang kalian bisa masuk lagi kok!


Ayo kita seru-seruan bersama.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2