Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 33


__ADS_3

Dicintai secara mendalam oleh seseorang memberimu kekuatan. Mencintai seseorang secara mendalam memberimu keberanian.


~Ay Alvi~


Phoenix Island, Kiribati.


"Nyonya, bisakah kau menunjukkan di mana tubuhmu berada?" tanya Jordan kepada Joyce karena ia mendengar wanita itu meminta tolong kepada Zeline untuk menemukan jasadnya.


Jordan dan yang lainnya pun mengikuti arah kemana Joyce pergi. Mereka segera melanjutkan perjalanan untuk secepatnya keluar dari lorong tersebut. Ziga kembali meraih putrinya


Mereka terus menyusuri lorong gelap dengan perlahan karena cahaya penerangan yang kurang. Semuanya harus berjalan dengan hati-hati mengingat lorong tersebut merupakan bangunan tua yang bisa runtuh kapan saja.


Sementara itu Erik terus mencari Ziga melalui sinyal darurat yang di pancarkan oleh pria itu. Arloji yang di kenakan Ziga memang di beri alat khusus untuk mengirimkan sinyal darurat yang dapat di terima oleh Erik.


Pria itu membawa kelima anak buahnya untuk berjalan menjauh dari bangunan megah yang kini telah runtuh. Ia mengikuti jejak dari Ziga yang mengarah ke perkebunan yang letaknya sedikit jauh dari bangunan Puri.


Jordan kini membantu Albert dengan mendorong kursi roda milik kakek tua itu. Sedangkan Joshua sudah mulai berjalan sendiri dengan di tuntun oleh Zeline yang tidak mau lagi di gendong oleh ayahnya.


Ziga yang berada di urutan paling belakang berjalan sembari mengawasi keadaan sekitar. Pria itu juga terus mengirimkan sinyal kepada Erik agar asisten pribadinya tersebut dapat dengan segera menemukan mereka.


"Uncle Josh!" panggil Zeline kepada Joshua yang berjalan berdampingan dengan bocah kecil itu.


"Ada apa Zel?" tanya Joshua sembari terus melangkah perlahan mengikuti arahan dari Jordan.


"Apa Uncle merindukan Aunty Joyce?" tanya Zeline membuat pria itu menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ia terkejut karena Zeline tiba-tiba menanyakan perihal tentang ibunya yang telah lama meninggal.

__ADS_1


Pria itu saat ini tidak dapat melihat hal yang tak kasat mata. Maka dari itu Joshua tidak melihat kehadiran hantu wanita yang mengaku sebagai ibunya.


"Bagaimana Zel bisa tahu tentang Aunty Joyce?" tanya Joshua keheranan. Seingat Joshua wanita yang merupakan ibu kandung pemuda itu telah meninggal dua puluh tahun silam sehari setelah perayaan ulang tahunnya yang ke sepuluh. Namun, jasad sang ibu tidak pernah di temukan hingga sekarang karena menurut cerita yang ia dengar wanita itu hilang dalam badai besar yang menerjang pulau tersebut puluhan tahun silam.


"Zel melihat Aunty Joyce dan Aunty sangat merindukan Uncle," jawab bocah tersebut jujur. Mereka berbicara sembari tetap berjalan menyusuri lorong yang panjang.


Joshua hampir saja menitikkan air matanya saat ia mendengar perkataan Zeline. Tentu saja ia sangat merindukan wanita itu. Dua puluh tahun ia hidup tanpa kasih sayang kedua orangtuanya, hanya ada Albert dan juga istrinya yang merupakan nenek Joshua yang merawat pria itu hingga menjadi dewasa seperti sekarang.


"A-Apa yang Aunty Joyce katakan?" tanya Joshua penasaran dengan apa yang di katakan oleh sang ibu yang tidak dapat ia lihat dan ia dengar. Saat ini Joshua telah kembali menjadi manusia biasa, bukan lagi roh yang dapat melihat dan mendengar hal-hal yang tak kasat mata.


"Aunty bilang, Uncle harus membalaskan perbuatan anak jahat itu," jawab Zeline, bocah kecil itu tidak tahu bahwa yang mencelakakan Joyce adalah Howard yang sama dengan yang menahan mereka di dalam kamar.


Yang Zeline katakan adalah apa yang lihat dan ia dengar. Bocah itu melihat bahwa yang mencelakakan Joyce adalah seorang anak laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dengan dirinya.


"Maksud Zel?" tanya Joshua tidak mengerti apa maksud dari perkataan bocah kecil itu. Ia belum tahu bahwa penyebab kematian sang ibu adalah Howard.


"A-Apa itu?" tanya Albert menunjuk ke arah tumpukan tulang belulang manusia yang di lihatnya samar-samar karena gelapnya keadaan.


Jordan pun mendekati tumpukan tulang tersebut kemudian menyalakan korek agar dapat memperjelas penglihatannya.


"Ini ... tulang milik Nyonya Joyce," jawab Jordan ketika melihat hantu wanita itu kembali ada di hadapannya dekat dengan tulang yang tampak berserakan.


Joshua segera mendekat begitu mendengar perkataan Jordan. Pemuda itu tidak menyangka setelah sekian lama akhirnya ia akan dapat menguburkan jenazah sang ibu dengan layak. Buliran bening menetes di pipi pria itu. Walau hanya tulang belulang yang ia temukan Joshua tetap bersyukur karena dengan ini makam yang selama ini dibuat untuk Joyce dapat terisi dengan benar, bukan hanya makam kosong belaka.


Jordan menepuk bahu Joshua untuk menguatkan pria itu. Sedangkan Albert sendiri juga tak kuasa menahan tangisnya ketika mengetahui tulang tersebut adalah milik putri satu-satunya yang telah lama ia cari. Kakek tua itu tidak menyangka jika selama ini tulang tersebut berada di dalam sumur tua yang keberadaannya tidak pernah di acuhkan.

__ADS_1


Di bagian lain pulau, Marco dan anak buahnya terus mencari keberadaan Howard dan juga Daniel. Pria itu nampak terkejut setelah mengetahui bahwa Nadhya juga ikut di bawa oleh pria jahat itu.


"Hati-hati jangan menembak sembarangan karena seperti mereka juga membawa Nona Nadhya!" pesan Marco kepada anak buahnya, ia tidak mau bertindak gegabah yang dapat menyebabkan nyawa Nadhya terancam.


"Tuan, kami menemukan sebuah gua!" seru anak buah yang lainnya.


Marco bergegas menghampiri dan memimpin mereka untuk memasuki gua dan memeriksa keadaan di dalam sana.


"Jangan bertindak gegabah, pastikan keselamatan Nona!" pesan Marco kepada kelima anak buahnya.


Keadaan hutan dan gua yang sunyi membuat Howard dan Daniel dapat mendengarkan keributan yang terjadi di luar. Pria itu tahu bahwa orang-orang yang mengejar mereka telah menemukan gua.


Howard pun memerintahkan Daniel untuk berjalan terus masuk ke dalam gua yang gelap gulita. Mereka memilih bersembunyi di dalam gua karena tidak ada jalan keluar dari tempat itu. Pintu masuk satu-satunya gua tersebut telah di kuasai oleh anak buah Marco. Maka, tidak ada pilihan lain bagi Howard selain terus masuk ke dalam gua dengan membawa serta juga Nadhya.


Tak lupa Daniel menutup mulut Nadhya dengan dasi yang di kenakannya agar gadis itu tidak berteriak meminta pertolongan kepada orang-orang yang mengejar mereka.


Semakin lama ketiganya semakin masuk ke dalam gua yang ternyata cukup besar dan panjang. Tidak ada pilihan lain bagi Howard selain harus bersembunyi di sana hingga Marco dan anak buahnya pergi. Pria itu berharap semoga saja Marco tidak memeriksa terlalu dalam, karena jika tidak resiko mereka untuk dapat di temukan pastinya akan lebih besar.


*****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.


Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.

__ADS_1


Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2