Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 54


__ADS_3

"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Aldrich kepada salah seorang anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan adik kandungnya yang telah terpisah sekian tahun lamanya.


"Sudah Tuan," jawab pria itu kemudian segera memberikan sebuah amplop coklat besar berisi data dan juga photo-photo yangb berhasil ia dapatkan.


Aldrich pun segera membuka amplop dan mengeluarka isinya. Betapa terkejutnya pria itu setelah melihat photo yang terdapat di dalam amplop.


"Tidak ... ini tidak mungkin!" tukas Aldrich tak percaya, photo beserta amplop yang di pegangnya pun terlepas berserakan di lantai.


"Ada apa Tuan?" tanya anak buah Aldrich memungut photo-photo dan juga laporan yang baru saja di berikannya. Melihat ekpresi sang atasan membuat ia yakin bahwa ada yang tidak di sukai oleh tuan mudanya tersebut. Namun, sebagai seorang bawahan ia tidak berani bertanya lebih kepada Aldrich.


Aldrich menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan anak buahnya tersebut, ia tidak ingin seorang pun tahu apa yang saat ini tengah di rasakannya, "Kau boleh pergi melanjutkan pekerjaanmu!: titah Aldrich yang saat ini ingin sendiri untuk merenungi semua kenyataan ini.


"Kalau begitu saya permisi Tuan," pamit pria itu undur diri dari hadapan Aldrich yang hingga saat ini masih memandangi photo yang di dapat oleh anak buahnya tersebut.


Aldrich tidak menjawab, ia hanya menganggukan kepala tanpa menoleh sedikit masih tetap fokus memandangi photo seorang gadis yang amat ia kenal. Aldrich membuang nafas kasar, mengapa kehidupan seolah mempermainkannya. Dulu ia telah kehilangan orang tuanya karena sang kakek mengusir ibu kandungnya yang menikah dengan seorang pria miskin asal Cheko sehingga ia di rawat oleh sang kakek karena pria tua itu tidak mengizinkan sang ibu membawanya yang baru berusia empat tahun saat itu.


Pria itu sempat mencari tahu keberadaan kedua orang tuanya ketika ia telah tumbuh menjadi remaja dan merupakan pewaris tunggal dari bisnis yang di kelola oleh Abraham Keningstone sang kakek. Dari situlah ia mengetahui jika ia memiiki seorang adik perempuan walau ia sendiri belum menemukan keberadaan kedua orang tuannya hingga saat ini.


Menurut kabar yang ia terima bahwa sang ibu telah bercerai dengan sang ayah dan pergi meninggalkan kota sejuta menara tersebut dengan meninggalkan adik perempuannya yang saat itu baru berusia tujuh tahun di bawah asuhan nenek dari pihak ayah kandungya,

__ADS_1


Akan tetapi ia sama sekali tidak menyangka jika adik kandung yang selama ini ia cari ternyata berada begitu dekat dengannya bahkan ia adalah gadis yang selama ini di cintainya.


Aldrich membuang nafas kasar kemudian menyimpan laporan tersebut ke dalam laci meja kerjanya. Pria itu masih belum dapat menerima jika Mia adalah ternyata adik kandungnya. Ia masih ingin menyelidiki lagi dan mencari tahu tentang kebenaran tentang siapa gadis itu.


"Sebaiknya kau tinggal bersama kami," ujar Via yang tidak tega membiarkan gadis tersebut tinggal seorang diri di Praha. Usia Mia masih amat muda, ia khawatir jika nantinya gadis itu akan salah jalan mengikuti pergaulan anak muda zaman sekarang mengingat saat inu gadis itu hidup sebatang kara. Ibu tiga orang anak itu pun memikirkan biaya kuliah dan juga biaya sehari-hari yang akan di tanggung oleh Mia.


"Aku tidak ingin merepotkan Aunty dan Uncle," jawab Mia menolak tawaran Via secara halus. Gadis itu merasa selama ini ia telah banyak merepotkan Via dan juga keluarga Pratama. Untuk itulah ia tiak ingin tinggal dengan keluarga Pratama, apalagi sedari kecil Mia memang terbiasa hidup susah, jadi saat ini tidak akan ada bedanya. Mungkin yang berbeda adalah saat ini ia hanya tinggal seorang diri tanpa kehadiran nenek yang selama ini sangat ia sayangi.


"Tidak ada yang repot sayang," bantah Via membelai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. Ia sudah menganggap gadis itu seperti adik kandungnya sendiri. Begitu pun juga Ziga yang tidak pernah keberatan dengan kehadiran Mia di tengah-tengah keluarga mereka.


"Aku hargai niat baik Aunty dan Uncle, tapi aku masih harus melanjutkan kuliahku di sini," ucap Mia lagi-lagi menolak secara halus tawaran Via untuk bergabung dengan keluarga Pratama.


"Tapi ...."


Via pun akhirnya mengerti isyarat yang di berikan oleh sang suami. Ia tidak lagi meneruskan kalimatnya malah menarik Mia ke dalam pelukannya.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan, tapi ingat untuk memberitahu kami jika kau membutuhkan sesuatu," ujar Via membelai punggung gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Ya Aunty, terimakasih untuk semua kebaikan Aunty dan Uncle selama ini," jawab gadis itu tulus. Mia menyeka air mata yang mengalir membasahi pipi putihnya.

__ADS_1


Bukan ia tidak ingin menerima bantuan dari keluarga Pratama, hanya saja ia ingin hidup mandiri dan mengandalkan dirinya sendiri untuk menjalani kehidupan yang keras ini.


Via dan seluruh anggota keluarga Pratama pun pamit karena mereka harus segera kembali ke Amerika mengingat beberpa hari lagi adalah hari pernikahan untuk Nadya dan juga Joshua.


"Mia!" panggil Zeline sebelum mereka masuk ke dalam pesawat yang akan membawa rombongan itu menuju USA.


"Ada apa Zel?" tanya Mia penasaran melihat bocah kecil itu terlihat serius saat memanggil namanya.


"Ada yang ingin Zel katakan" jawab bocah perempuan itu menarik tangan Mia agar gadis itu membungkuk untuk mendengarkan apa yang akan di bisikannya.


Zeline pun membisikan apa yang di katakan nenek Mila kepadanya. Bocah itu juga berkata bahwa nenek Mila berpesan agar Mia jangan bersedih karena semua ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Dan juga Mia harus menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.


Mia tampak terkejut mendengar apa yang di bisikan oleh Zeline, gadis itu tidak menyangka jika sang nenek memiliki rahasia yang selama ini di sembunyikannya dengan rapi.


Setelah menyampaikan pesan dari nenek Mila, Zeline pun pamit kepada gadis itu. mereka semua akan kembali ke Amerika dengan menggunakan pesawat jet, hanya Erik yang tinggal di sana sementara untuk menemani Mia untuk memberikan sedikit penghiburan dan juga dukungan terhadap kekasihnya tersebut.


"Apa keputusanku salah?" tanya Mia ketika mereka telah berada di mobil yang akan membawa keduanya menuju apartemen Mia.


Erik meraih tangan sang kekasih kemudian menggenggamnya erat, "Tidak salah, itu bagus jika kau ingin mandiri, kita tidak harus bergantungb kepada orang lain," jawab Erik mencium lembut punggung tangan Mia membuat gadis itu merona.

__ADS_1


"Aku akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanmu," tambah pria berusia tiga puluh tahun tersebut.


"Terimakasih," ucap Mia menatap Erik dengan penuh kasih sayang, Ia sungguh merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Erik yang lebih dewasa yang selalu berpikiran luas. Walaupun mereka menjalani hubungan jarak jauh tetapi tidak membuat rasa cinta di antara keduanya memudar bahkan semakin hari semakin bertambah.


__ADS_2