Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 24


__ADS_3

Tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah, dan peganglah pikiran yang memberi kekuatan bagimu.


~Ay Alvi~


Los Angeles, USA


Pagi-pagi sekali Ziga beserta rombongan berangkat menuju Phoenix Island dengan menggunakan helikopter. Untuk Marco dan beberapa anak buahnya pria itu perintahkan menyelundup dalam kapal yang membawa bahan makanan untuk ke pulau.


"Zel ingat apa yang Uncle bilang?" tanya Jordan kepada keponakan kecilnya tersebut.


"Ingat Uncle," jawab Zeline mengerjapkan mata dan menganggukkan kepalanya.


Jordan meminta bocah kecil itu berkomunikasi dengan Joshua secara sembunyi-sembunyi. Pria itu sengaja meminta Zeline melakukan hal itu karena tidak akan ada yang curiga pada bocah kecil jika terlihat berbicara sendiri.


"Kau siap Nadh?" tanya Ziga kepada sepupunya tersebut. Nadhya berperan penting di sini karena selain sebagai pembeli tapi gadis itu juga di harus bisa menarik hati Howard dengan pesona yang di milikinya.


Awalnya Nadhya menolak karena ia tidak terbiasa untuk merayu seorang pria apalagi pria itu tidak di kenalnya bahkan seorang pria yang jahat. Namun, mengingat ini demi menolong Joshua, laki-laki yang amat di cintainya akhirnya Nadhya pun menurut dengan kata-kata Ziga. Ia akan berusaha untuk menjalankan peranannya sebaik mungkin.


Pukul sembilan waktu setempat rombongan Ziga telah tiba di Phoenix Island. Sedangkan untuk anggota yang lainnya telah lebih dulu tiba karena mereka di berangkatkan oleh Ziga kemarin malam. Semua sudah siap menjalankan perannya masing-masing. Hanya Nadhya yang nampak agak tegang, gadis itu masih berusaha untuk bersikap senatural mungkin.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Pratama!" sambut Howard ketika rombongan mereka tiba.


"Maaf Tuan Curtis, ini sepupuku bukan istriku," ucap Ziga memberitahu Howard bahwa Nadhya adalah saudara sepupunya.


"Oh maaf Nona ...." Howard tidak meneruskan kalimatnya karena belum mengetahui nama Nadhya.


"Panggil saja Nadhya," ucap Nadhya memperkenalkan dirinya. Gadis itu tersenyum dengan manisnya.

__ADS_1


"Nona Nadhya perkenalkan aku Howard Howard." Pemuda itu memperkenalkan dirinya kemudian mencium punggung tangan gadis itu sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Nadhya memutar bola matanya malas, ia merasa jengah dengan sikap Howard yang menjijikan. Namun, demi mencapai maksud dan tujuannya gadis itu pun terpaksa meladeni sikap Howard. Nadhya membalasnya dengan tersenyum sedikit manja.


"Baiklah, aku akan tunjukkan semua sisi bagian pulau ini," ajak Howard kepada para tamu kehormatannya.


Pemuda itu berjalan berdampingan dengan Nadhya, sedangkan Jordan dan Ziga membuntuti di belakang dengan Zeline di dalam gendongan sang ayah. Bocah kecil itu sedikit ketakutan melihat wajah Howard yang kemarin sempat ia lihat dalam mata batinnya.


"Uncle!" panggil Zeline kepada Joshua yang berjalan di samping sang ayah. Bocah itu mengatakan pada Joshua agar pria itu berhati-hati. Joshua mengangguk menjawab apa yang di katakan oleh Zeline sambil berbisik.


Jordan pun memberi isyarat kepada Ziga untuk memberi perintah ke anak buahnya segera bersiap karena mereka akan menyerang ketika Howard lengah.


Pria itu pun menuruti permintaan Jordan, segera Ziga menghubungi Marco untuk menyiapkan anak buahnya. Howard sendiri tampak asik berbincang dengan Nadhya sepanjang perjalanan mengelilingi pulau. Walau dengan rasa yang malas, gadis itu mencoba bersikap manis untuk menarik perhatian Howard.


Sementara itu di bagian Utara pulau, dokter kembali memeriksa keadaan Joshua. Albert juga ikut menemani saat tubuh sang d


Hari ini tubuh pria itu lebih banyak merespon dari biasanya. Detak jantung dan juga tekanan darah Joshua nampak normal seperti orang yang tengah tertidur lelap. Dokter bahkan mengatakan jika kesempatan Joshua untuk sadar kali ini lebih besar. Hal ini membuat Albert merasa sangat senang.


Pria tua itu segera menghubungi pengacaranya untuk mempersiapkan surat warisan seandainya Joshua bisa segera tersadar. Ia ingin melimpahkan seluruh harta kekayaannya kepada cucu kesayangannya tersebut.


Howard sendiri belum mengetahui hal ini. Pria itu masih berada di selatan pulau dan bersiap untuk menjamu para tamunya makan siang bersama di rumah besar yang terdapat di bagian selatan pulau itu.


"Anda tinggal seorang diri di sini Tuan Howard?" tanya Nadhya mencoba memancing pria itu untuk mengetahui siapa saja yang tinggal di pulau bersama dengan pria itu.


"Aku hanya tinggal sendiri di sini Nona," jawab Howard.


"Apa kau berminat untuk menemaniku Nona?" tanya Howard menggoda gadis itu. Howard memberikan piring yang telah di isi berbagai macam makanan untuk Nadhya. Bahkan Howard mencoba menyentuh tangan gadis itu saat ia menyodorkan piring tersebut kepada sepupu dari Ziga itu.

__ADS_1


Nadhya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Howard bahkan gadis itu ingin sekali menampar wajah lelaki itu karena ia sudah muak dengan sikap yang di tunjukkan oleh Howard.


Juan sendiri yang melihat hal itu mengepalkan kedua tangannya, matanya menatap nanar ke arah Howard. Andai saja ia bisa menyentuh seseorang yang akan di oleh lakukan pria itu saat ini tentu saja memukul Howard dengan sekuat tenaga. Mungkin juga ia tidak akan membiarkan pria itu berdiri dengan kedua kakinya karena telah menggoda Nadhya wanita yang paling di cintainya.


"Apa kau tidak memiliki keluarga?" tanya Nadhya lagi mencoba mengorek keterangan walau sebenarnya ia telah jengah berbincang dengan pria itu.


"Aku memiliki seorang Kakek yang sudah renta dan beliau tinggal di bagian Utara pulau," jawab Howard mulai terpancing dan sedikit demi sedikit mulai membuka rahasia yang di milikinya.


"Tapi tenang saja, ia tidak akan mengganggumu jika kau memutuskan untuk tinggal di pulau ini. Tua bangka itu terlalu sibuk untuk mengurusi cucunya yang sedang sekarat," jawab Howard santai, seolah mengucapkan hal itu tidak akan menyakiti hati seseorang.


Tangan Nadhya mengepal begitu mendengar jawaban dari pria yang kini ada di hadapannya. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka merasa kesal karena pria itu benar-benar mulai menunjukkan sifat aslinya.


Joshua sendiri bergegas menghampiri Howard, dengan kekuatan penuh pria itu mencoba memukul Howard dengan segenap tenaga. Akan tetapi, usaha Joshua sia-sia jangankan untuk memukul Howard dan memberinya pelajaran. Menyentuh pria itu saja Joshua tidak bisa.


"Uncle awas!" Zeline memberi peringatan ketika Joshua akan memukul Howard untuk kedua kalinya. Bocah kecil itu merasakan bahaya yang mengancam saat Joshua bergerak untuk memukul Howard.


Namun, peringatan dari Zeline datang terlambat, Joshua tetap melayangkan tinjunya ke arah Howard dan seketika pria itu berteriak kesakitan. Joshua merasakan sensasi terbakar di sekitar tubuhnya saat ia mendekati sepupunya yang jahat tersebut.


Joshua terguling sembari memegangi dadanya bukan yang terasa nyeri dan panas. Sedangkan Howard terlihat bingung ketika mendengar teriakan Zeline yang cukup keras.


***


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA, maaf up nya sedikit telat karena kesibukan Ay di dunia nyata mulai menyita waktu.


Tapi Ay tetap usahakan untuk up setiap hari minimal satu bab. Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.


Buat yang punya koin lebih bisa kasih tips juga ya, terimakasih sebelumnya.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘


__ADS_2