Takdir Cinta 2

Takdir Cinta 2
Bab 15


__ADS_3

Apabila kita menginginkan hal besar terjadi di hidup kita, maka kita juga harus siap untuk melakukan perjuangan yang lebih besar juga.


~Ay Alvi~


"Bagaimana keadaannya?" tanya Albert pada Howard yang merupakan cucu tiri pria iti.


"Masih sama seperti sebelumnya tak ada perubahan berarti," jawab Howard malas, jika bukan karena kakek tua itu banyak harta sudah tentu ia tidak ingin mengurus pria yang semakin menyusahkan itu.


Albert menghela nafas, matanya memandang tubuh Joshua yang terbaring lemah tak berdaya. Penyesalan menghinggapi relung dadanya karena ia tidak bisa melindungi cucu kandungnya tersebut.


"Kakek, apa kau akan terus menunggu hingga dia terbangun?" tanya Howard sembari menunjuk raga Joshua yang kini terbaring di atas kasur.


"Dia sudah mati, tidak akan pernah bangkit kembali," tukas Howard, ia begitu membenci Joshua karena sedari kecil pria itu selalu berlimpahan kasih sayang.


Walaupun kini, kedua orang tuanya telah meninggal ada sang kakek dan juga bibinya yang sangat menyayangi pria itu. Sedangkan ia sendiri tidak seberuntung Joshua.


Howard adalah cucu dari Josephine dari anak hasil pernikahan pertamanya sebelum wanita yang kini telah meninggal itu menikah dengan Albert kakek kandung dari Joshua. Sebenarnya tidak ada perbedaan kasih sayang di antara mereka, hanya saja sifat buruk Howard yang membuat Albert enggan untuk mewariskan seluruh hartanya pada pria berumur tiga puluh tahun tersebut.


Di tambah lagi ayah Howard yang merupakan menantu dari Albert pernah mengecewakan lelaki tua itu dengan hampir saja membuat bangkrut perusahaan miliknya. Seperti ayah begitu pula kelakuan anaknya. Selama ini Howard tidak pernah mau mengurus perusahaan, pria itu hanya menghambur-hamburkan uang yang bahkan bukan miliknya.


Howard tidak pernah mau bekerja, ia hanya menghabiskan uang dan harta dari ibunya yang merupakan anak tiri dari Albert. Berbeda dengan Joshua, pria itu memang tidak menyentuh perusahaannya, akan tetapi Joshua memiliki sebuah usaha yang ia bangun sendiri. Joshua merintis usah tersebut dari nol hingga sukses seperti sekarang. Hal itu lah yang membuat Albert lebih mempercayakan harta warisan dan juga perusahaan pada pria tersebut.

__ADS_1


Kini di saat Joshua sedang dalam keadaan koma berkepanjangan, perusahaan miliknya di kelola oleh Antony yang merupakan sahabat baik pria itu.


Kembali ke keluarga Pratama, Ziga tengah berfokus pada layar komputernya untuk mencari keterangan tentang pria yang ada di photo yang tadi sempat di tunjuk oleh Joshua.


Joshua, Nadhya dan Zeline juga menemani Ziga. Saat ini mereka tengah berada di ruang kerja pria tersebut. Sedangkan Via harus mengurus Juan yang sedikit rewel hari ini. Aiden sendiri memilih untuk tidur karena hari memang telah larut malam.


"Zel, tidurlah Nak!" titah Ziga kepada putri kecilnya karena hari memang telah larut, walau mereka semua yang di sini membutuhkan bantuan bocah tersebut untuk berkomunikasi dengan Joshua, tapi melihat bocah itu yang telah sedikit mengantuk membuat mereka tidak tega.


"No Daddy, Zel wants to help Uncle Josh." Zeline membantah ucapan ayahnya.


Bocah kecil itu masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Joshua hingga menyebabkan pria itu menjadi sosok tak kasat mata seperti sekarang.


Ziga menghela nafas, Zeline memang mirip seperti ibunya. Bocah itu tidak ingin setengah-setengah dalam membantu orang, tetapi melihat putri kecilnya yang terus-terusan menguap membuat Ziga memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mereka keesokkan harinya. Pria itu juga melarang Nadhya untuk pergi ke Colorado sebelum ia mendapatkan informasi yang jelas tentang siapa pria di dalam photo yang telah di tunjuk oleh Joshua.


Nadhya pun mengangguk setuju dan mengerti, gadis itu tidak lagi ngotot harus pergi ke Colorado karena Joshua melarangnya seperti apa yang di katakan oleh Zeline sang keponakan.


Saat ini Nadhya telah percaya bahwa roh sukma Joshua selalu ada di dekatnya, seperti yang selama ini ia rasakan. Bahkan tadi gadis itu sempat merasakan belain lembut Joshua di kepalanya dan cengkraman pria itu di lengannya.


Mereka pun segera beranjak menuju kamar masing-masing. Ziga membawa tubuh mungil putrinya ke dalam kamar bocah itu. Nampak jelas sekali bahwa Zeline sudah mengantuk berat, bahkan beberapa kali bocah itu sempat terpejam di dalam gendongan Ziga.


Sementara itu Nadhya pun melangkah menuju kamarnya, di ikuti oleh Joshua dari belakang. Walau pria itu tidak dapat ia lihat, akan tetapi Nadhya bisa merasakan kehadiran pria yang hampir saja menjadi suaminya tersebut.

__ADS_1


Setelah meletakkan Zeline di tempat tidur kesayangannya, Ziga bergegas naik ke lantai lima menuju kamar pribadinya. Ia ingin beristirahat sekaligus berbincang dengan Via untuk meminta pendapat istrinya tersebut tengah hal ini.


Namun, setibanya Ziga di kamar ia melihat Via tertidur lelap di samping Juan. Mungkin wanita itu ketiduran ketika tengah menyusui putra bungsunya itu. Pria itu tidak tega untuk membangunkan Via. Maka dengan hati-hati Ziga memindahkan tubuh Juan ke dalam box bayinya. Setelah membaringkan Juan di tempat tidurnya, pria itu tidak lupa untuk memberikan kecupan pada bocah lelaki tersebut.


Ziga juga mengecup kening Via kemudian pria itu beranjak menuju balkon untuk menenangkan pikirannya. Ayah tiga anak itu masih memikirkan tentang Joshua. Sepertinya ada hal yang tidak wajar dari kecelakaan yang menyebabkan Joshua koma hingga sekarang.


Ziga juga harus berhati-hati karena sepertinya orang yang ada di balik kecelakaan pria itu bukanlah orang yang dapat ia remehkan. Terbukti dengan bagaimana mereka dapat menutupi keadaan Joshua dan membuat seluruh dunia berpikir bahwa pria yang berusia tiga puluh tahun itu telah meninggal dalam kecelakaan tersebut.


Begitu juga dengan dirinya, ia sempat mengira Joshua telah meninggal. Mungkin jika bukan karena Zeline putrinya dapat melihat dan berkomunikasi dengan Joshua, mereka tidak akan mengetahui kenyataan ini. Ziga mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang ia simpan di dalam laci. Kemudian menuju balkon untuk menyulut rokok tersebut sambil berpikir kembali tindakan apa yang harus ia lakukan sekarang demi menyelamatkan Joshua.


Sementara itu di ruangan lainnya lebih tepatnya di kamar yang kini di tempati oleh Nadhya, gadis itu tidak dapat memejamkan matanya. Ia kembali teringat akan sentuhan Joshua tadi. Sentuhan yang sudah lama sekali ia nantikan. Gadis itu begitu merindukan Joshua, merindukan kekasihnya, merindukan pria yang hampir saja menjadi suaminya.


"Josh, aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Nadhya berkata dengan lirih, matanya juga berkaca-kaca teringat kembali akan kenangan indah saat mereka bersama.


"Aku lebih merindukanmu sayang," jawab Joshua yang tidak akan pernah terdengar di telinga kekasih hatinya itu.


****


Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2 jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya. Ay juga minta tolong untuk rate bintang 5 novel ini, karena rate-nya menjadi semakin berkurang. Ay minta tolong untuk menaikkan kembali rate-nya dengan memberikan ulasan bintang 5.


Sekali lagi terimakasih sesudah dan sebelumnya, tolong rate bintang 5 ya.

__ADS_1


Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘


__ADS_2