
Semakin kau menginginkan sesuatu, semakin kau harus bersiap untuk kecewa jika tidak berhasil untuk mendapatkannya.
Karena tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan dengan mudah. Semua itu butuh proses dan juga perjuangan.
~Ay Alvi~
"Jangan bertindak gegabah, pastikan keselamatan Nona!" pesan Marco kepada kelima anak buahnya.
Keadaan hutan dan gua yang sunyi membuat Howard dan Daniel dapat mendengarkan keributan yang terjadi di luar. Pria itu tahu bahwa orang-orang yang mengejar mereka telah menemukan gua.
Howard pun memerintahkan Daniel untuk berjalan terus masuk ke dalam gua yang gelap gulita. Mereka memilih bersembunyi di dalam gua karena tidak ada jalan keluar dari tempat itu. Pintu masuk satu-satunya gua tersebut telah di kuasai oleh anak buah Marco. Maka, tidak ada pilihan lain bagi Howard selain terus masuk ke dalam gua dengan membawa serta juga Nadhya.
Tak lupa Daniel menutup mulut Nadhya dengan dasi yang di kenakannya agar gadis itu tidak berteriak meminta pertolongan kepada orang-orang yang mengejar mereka.
Semakin lama ketiganya semakin masuk ke dalam gua yang ternyata cukup besar dan panjang. Tidak ada pilihan lain bagi Howard selain harus bersembunyi di sana hingga Marco dan anak buahnya pergi. Pria itu berharap semoga saja Marco tidak memeriksa terlalu dalam, karena jika tidak resiko mereka untuk dapat di temukan pastinya akan lebih besar.
Keadaan gua yang gelap dan jalannya yang terjal membuat Howard sedikit kesusahan, apalagi Daniel yang juga harus berjalan sembari menarik tentang tubuh Nadhya yang terus saja memberontak. Tiba-tiba Howard menghentikan langkahnya, membuat Daniel yang berjalan di belakang pria itu menabraknya dengan tidak sengaja.
"Ada apa Tuan?" tanya Daniel kebingungan karena tiba-tiba saja Howard menghentikan langkahnya.
Howard tak menjawab, matanya menatap ke sosok wanita yang ada di depannya. Pria itu mengenali wajah wanita yang tampak mengerikan karena sebagian dari wajah dan tubuhnya wanita itu hangus terbakar.
"Kau ... pergi kau!" teriak Howard, pria itu terhuyung ke belakang karena penampakan yang ia lihat benar-benar mengerikan.
__ADS_1
"Tuan ... Tuan ... Anda kenapa?" tanya Daniel kebingungan karena Howard berteriak dan berbicara sendiri.
Howard tidak menjawab, ia kembali menjerit ketakutan, " Kau sudah mati, jangan ganggu aku lagi!" pekik pria itu membuat Daniel dan Nadhya pun bergidik ngeri.
Daniel melepaskan pegangannya kepada Nadhya kemudian menghampiri Howard yang tubuhnya bergetar hebat menahan ketakutan yang di alaminya. Mata pria itu terpejam tak sanggup melihat pemandangan yang hanya dapat ia lihat sendiri.
Wanita yang di lihat Howard kembali mendekati pria itu dengan tampilan wajah yang mengerikan serta bau daging gosong yang teramat menyengat membuat pria itu hampir saja muntah karena merasa mual. Aroma tidak sedap itu bukan hanya tercium oleh Howard, kedua orang lainnya Daniel dan Nadhya juga dapat mencium aroma tersebut walau mereka tidak dapat melihat rupa si wanita yang kini semakin mendekati Howard.
"Pergi ... pergi kau!" seru Howard lagi, pria itu memberontak dari tangan Daniel yang mencoba untuk menenangkannya. Howard berlari ke arah berlawanan dari tujuannya. Pria itu memutar badan dan melesat meninggalkan dua orang yang kini memandangnya dengan wajah kebingungan.
Di bagian sisi pulau lainnya, Erik mulai mendapatkan sinyal menguat dari Ziga sang atasan. Pria itu segera memerintahkan anak buahnya berpencar untuk mencari di sekitar perkebunan jeruk yang amat luas.
Hampir melewati tengah malam saat itu, keadaan di pulau terasa sunyi tak ada aktivitas apapun selain rombongan Erik ya g tengah berusaha mencari Ziga. Hanya suara deburan ombak yang terdengar memecah keheningan malam.
Di dalam sumur tua, Jordan telah menemukan lubang yang mengarah ke atas untuk jalan keluar mereka. Namun, kedalaman sumur tersebut yang cukup lumayan membuat ia harus mencari cara agar mereka dapat menjangkau ke atas.
Ia dan Joshua belum mengetahui jika Howard lah yang melakukan perbuatan tidak berprikemanusiaan itu, Jordan belum menceritakan apa yang ia lihat dan ia dengar dari hantu wanita yang bernama Joyce tersebut. Zeline sendiri tidak dapat menceritakan secara jelas, bocah itu tidak mengerti jika anak kecil yang ia lihat lewat mata batinnya kini telah tumbuh menjadi orang dewasa yang bernama Howard.
"Tuan, ada sebuah sumur di sini!" pekik seorang anak buah Erik. Asisten Ziga tersebut segera menghampiri asal teriakan anak buahnya yang kebetulan memiliki sinyal cukup kuat dari Ziga.
"Hei ... !" teriak Jordan dari dalam sumur begitu terdengar suara ribut di atasnya. Pria itu berteriak sekuat tenaga agar orang yang di atas dapat mendengar kemudian segera bergegas menolongnya.
Erik dan kelima anak buahnya yang berada di atas sumur tua tersebut pun mendengar teriakan Jordan dari dalam tempat yang gelap itu. Kekasih dari Mia itu pun segera mengarahkan senter yang di bawanya ke dalam sumur untuk melihat keadaan di bawah sana.
__ADS_1
"Apa ada orang di dalam?" tanya Erik berteriak memastikan karena sinar dari senter yang ia bawa tidak sanggup menembus kegelapan di dalam sumur yang ternyata lumayan dalam tersebut.
"Kami di sini Erik," jawab Ziga dengan suara teriakan yang begitu keras.
"Cepat cari cara untuk mengeluarkan kami!" perintah pria tersebut kepada asisten pribadinya itu.
Erik pun segera memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk mencari tali tambang atau apa saja yang dapat ia gunakan untuk menarik semua orang itu ke atas permukaan.
"Tunggu sebentar Tuan, kami akan segera mengeluarkan kalian, bertahanlah!" jawab Erik dari atas sumur, pria itu menunggu anak buahnya datang membawa alat bantu untuk mengeluarkan Ziga dan yang lainnya.
Hampir lima belas menit berlalu akhirnya anak buah Erik datang dengan membawa sebuah tambang besar yang biasa di gunakan untuk mengikat perahu di pelabuhan. Tidak ada benda lain yang dapat ia temukan yang bisa mereka gunakan untuk menolong sang tuan muda beserta beberapa orang lainnya.
"Tuan, ikatkan tubuh kalian dengan tali ini erat-erat, kami akan menarik ke atas secara perlahan!" ujar Erik dari atas melemparkan tali tersebut ke dalam sumur yang cukup dalam tersebut.
Lemparan tali itu langsung di sambut oleh Ziga yang kemudian segera mengikatkannya di pinggang mungil Zeline, ia juga melepas kemeja yang di kenakannya untuk melindungi pinggang putri kecilnya tersebut agar tidak terluka karena lilitan tali tambang yang besar.
*****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.
Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.
Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.
__ADS_1
Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘