
Terkadang cobaan menghampiri hidup kita, agar kita menjadi orang yang lebih sabar dan ikhlas untuk menghadapi segalanya.
~Ay Alvi~
"A-Apa yang kau lakukan?" tanya Mia, gadis itu cemas melihat Erik memanjat tiang untuk mencapai balkon tempat ia berada.
Erik tidak menjawab, pria itu memanjat dengan cekatan hingga akhirnya bisa tiba di hadapan Mia kekasihnya. Pria itu segera menarik sang gadis masuk ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu Mia," ucap Erik memeluk erat tubuh kekasih kecilnya tersebut. Beberapa hari tidak bertemu membuat Erik benar-benar merasakan kerinduan kepada Mia. Pria itu meraih dagu sang kekasih kemudian menanamkan ciuman lembut di sana membuat Mia tersentak, namun kemudian gadis itu pun membalas kecupan sang pria.
"Aku juga merindukanmu," jawab Mia di sela-sela sentuhan bibir mereka. Gadis itu merasa senang karena akhirnya dapat bertemu kembali dengan Erik. Kekesalan yang tadi menghinggapi hatinya kini lenyap sudah berganti rasa bahagia akibat sikap romantis yang Erik tunjukkan.
"Mengapa kau tidak memberi kabar?" tanya Mia setelah bibir mereka terlepas. Gadis itu masih penasaran apa alasan Erik tidak juga menghubunginya.
"Maafkan aku sayang," ucap Erik menarik kembali gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir," tambah pria itu membelai mesra rambut panjang gadis kecilnya.
"Harusnya kau mengabariku, jadi aku tidak cemas," ucap Mia mengerucutkan bibirnya, membuat Erik merasa gemas dan kembali meraup bibir gadis itu. Memberikan ciuman lembut kepada Mia kekasih hatinya, menghanyutkan keduanya dalam asrama mereka yang semakin dalam.
"Aku janji mulai sekarang akan terus memberimu kabar dan tidak akan membiarkanmu untuk mencemaskanku," tambah Erik yang di balas dengan pelukan dari gadis kecilnya.
"Sekarang istirahatlah! Besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Erik mengusak lembut rambut Mia dan mengecup puncak kepalanya.
Mia mengangguk, ia menuruti kata-kata sang kekasih. Gadis itu mengecup pipi Erik sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya.
Erik melambaikan tangannya dan menanti kekasihnya itu masuk sebelum akhirnya ia meluncur kembali menuruni tiang untuk sampai ke bawah.
"Sepertinya besok aku harus memasang kawat berduri di tiang itu," ucap Ziga membuat Erik terkejut dan hampir saja terjatuh karena kakinya belum menapak ke tanah.
"Ma-maaf Tuan," jawab Erik menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa tidak enak karena ketauan oleh sang tuan muda.
__ADS_1
"Ikut aku, ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ucap Ziga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Erik pun segera menyusul ke belakang, pria itu mengikuti Ziga. Mereka berdua menuju ruang kerja keluarga Pratama. Ada masalah yang ingin di bicarakan oleh Ziga tentang Howard kepada Erik. Pria itu juga ingin tahu apa yang terjadi pada lelaki yang telah menawan mereka di pulau.
"Bagaimana dengan Howard?" tanya Ziga setelah mereka berada di ruang kerja pria itu. Ia memilih tempat tersebut agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh orang lain. Terutama oleh Via karena Ziga tidak ingin istrinya itu khawatir jika mengetahui bahwa ia dan juga putrinya sempat di kurung bahkan di pasangi bom oleh Howard.
"Untuk luka tembak sudah di tangani oleh dokter," jawab Erik.
"Lalu, bagaimana dengan jiwanya? Aku lihat sepertinya ia terus saja berteriak tak karuan," ucap Ziga mengingat sewaktu mereka akan meninggalkan pulau kondisi pria itu begitu memprihatinkan.
"Masih seperti kemarin Tuan, ia terus saja meracau tidak jelas dan selalu ketakutan seperti tengah melihat hantu," jawab Erik menerangkan seperti apa keadaan Howard saat ini.
Ziga menarik nafas mendengar penjelasan asisten pribadinya. Ia tahu bahwa apa yang di alami oleh Howard adalah buah dari kesalahannya sendiri. Pria itu terlalu jahat dan busuk hatinya sehingga Tuhan membalas dengan caranya sendiri.
"Itu akibat dari perbuatan jahatnya kepada Joshua dan juga keluarganya," tutur Ziga yang memang mengetahui sedikit tentang apa yang terjadi pada calon suami sepupunya tersebut.
Howard benar-benar tidak berperasaan, ia sanggup melakukan hal jahat kepada kakek yang membesarkannya dan juga kepada sepupunya sendiri Joshua. Ziga masih belum tahu tentang apa yang terjadi pada Joyce ibu dari Joshua, mungkin jika tahu pria itu tidak akan dapat menahan emosinya.
Erik mengangguk menanggapi apa yang di katakan oleh tuan mudanya. Ia setuju dengan pendapat Ziga. Jika ia yang menjadi Joshua mungkin ia telah menghabisi nyawa pria itu. Ia tidak perduli jika harus menghuni jeruji besi asal dendam yang ia miliki dapat terbalaskan.
Namun, sayang Joshua bukanlah dirinya. Sepertinya pria itu terlalu sabar walau telah di sakiti berulang kali oleh Howard yang sebenarnya tidak memilki hubungan darah dengan dirinya mengingat pria itu hanyalah cucu tiri dari Albert.
"Kita harus bertanya bagaimana keputusan Joshua dan kakek Albert," ucap Ziga, pria itu tidak dapat memutuskan bagaimana nasib Howard mengingat pria itu bersalah kepada Joshua bukan dirinya.
"Kau jaga saja dia, jangan biarkan Howard lepas atau melarikan diri," tambah Ziga.
"Sekarang istirahatlah dan aku tidak ingin melihatmu naik ke atas dengan memanjat tiang," pesan Ziga kepada asisten pribadinya tersebut membuat wajah Erik merona karena pria itu merasa malu kepada sang tuan muda.
"Baik Tuan," jawab Erik, ia pun segera meninggalkan ruang kerja Ziga dan kembali menuju paviliun yang terdapat di belakang kediaman Pratama.
Di rumah sakit Nadhya masih di temani Joshua. Pria itu terus menggenggam tangan kekasihnya seolah takut jika ia lepas Nadhya akan menghilang dari hadapannya.
__ADS_1
"Sayang, terimakasih," ucap Joshua, sedari tadi pria itu tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Nadhya.
Joshua merasa beruntung memiliki kekasih seperti gadis itu. Nadhya begitu setia kepada dirinya yang selama tiga tahun ini dalam keadaan koma.
"Terimakasih untuk apa?" tanya gadis itu bingung. Ia sendiri tidak mengerti mengapa Joshua terus saja mengucapkan terimakasih kepadanya.
Joshua tidak menjawab, pria itu malah menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Untuk tetap setia menungguku kembali lagi," jawab Joshua yang kemudian segera menanamkan ciuman lembut di bibir gadis tersebut.
Nadhya membalas ciuman sang kekasih yang telah lama ia rindukan. Calon suami yang hilang kini telah kembali dan membuat ia benar-benar merasa bahagia.
Semakin lama ciuman Joshua semakin dalam, tiga tahun tidak dapat menyentuh Nadhya membuat ia sangat merindukan gadis itu. Pria itu meraih tengkuk Nadhya dan memiringkan wajahnya agar dapat meraup lebih banyak bibir kekasihnya tersebut.
Ciuman itu terhenti ketika keduanya hampir kehabisan nafas. Joshua menyatukan kening mereka berdua.
"Aku sangat sangat mencintaimu Nadh," ucap Joshua tepat di wajah gadisnya itu.
"Aku juga mencintaimu Josh," balas Nadhya memejamkan matanya saat Joshua kembali meraup bibirnya dan mencium gadis itu dalam-dalam.
*****
Terimakasih telah membaca TAKDIR CINTA 2.
Jangan lupa untuk memberikan like, coment dan juga votenya.
Buat kalian yang punya koin banyak bisa juga memberi tips buat Ay karena TC 2 belum kontrak jadi tidak ada pemasukan dari pembaca.
Sekali lagi Ay ucapkan terimakasih.
Salam sayang dari Ay si Author recehan 😘😘😘
__ADS_1