TEMAN TIDUR SANG PEWARIS

TEMAN TIDUR SANG PEWARIS
Bab. 100. Tidak Akan Meninggalkan Panti.


__ADS_3

Setelah hari itu, Damian semakin sering mengunjungi panti asuhan tempat Leo tinggal. Apalagi, menurut hasil penyelidikan orang kepercayaannya, ternyata anak yang di kandung Teresha tidak meninggal.


Kemungkinan remaja itu memang putranya, karena sang anak buah mengatakan jika Teresha hanya tinggal sendiri di negara tetangga, sementara kedua orang tuanya telah tiada.


Damian semakin gencar melakukan pendekatan dengan anak-anak panti, namun ia sangat jarang bisa berbicara dengan Leo.


Pemuda itu sepertinya memiliki sifat tertutup kepada orang yang baru ia kenal. Karena yang Damian lihat, Leo begitu akrab dan penyayang kepada keluarganya di panti.


Tak pantang menyerah, setiap dua hari sekali Damian datang membawa buah tangan untuk para penghuni panti. Ia juga akan menyempatkan diri untuk bermain dengan anak-anak, dan menjadi guru mengajari mereka tugas sekolah.


“Apa aku boleh bergabung disini?”


Damian menyela di antara Leo dan tiga adiknya yang sedang belajar.


“Silahkan, pak.” Leo mengijinkan. Sejauh ini ia tidak melihat hal mencurigakan dari orang dewasa ini.


Leo tidak pernah memperhatikan secara seksama wajah Damian. Ia hanya akan memperhatikan gerak-gerik pria dewasa itu dari kejauhan.


“Apa kamu yang biasanya mengajari adik-adikmu?” Damian menunjuk para bocah yang sedang sibuk menulis di atas meja.


“Ya, dulu kakakku yang mengajari. Tetapi, setelah kakak kuliah, aku yang menggantikannya.” Jelas Leo, yang masih fokus membaca lembaran soal adik-adiknya.


“Kakakmu sekarang dimana?” Meski sudah tau dari ibu Maria, Damian berbasa-basi agar bisa lebih dekat dengan Leo.


“Kakakku sudah menikah, baru dua minggu yang lalu. Dia tinggal di kota dengan suaminya.”


‘Oh.. jadi kalian masih pengantin baru?’


“Apa kakakmu menikah dengan pria lajang?”


Pertanyaan Damian membuat Leo memicingkan matanya.


“Maksud bapak?”


Ia menatap sekilas lawan bicaranya. Kemudian kembali membaca deretan kalimat yang tertera di atas kertas.


“Tidak ada, hanya saja saat ini banyak gadis menikah dengan pria dewasa, bahkan dengan yang sudah pernah menikah.”


“Kakak iparku memang sudah dewasa, mungkin seumuran bapak. Tetapi dia belum pernah menikah. Bahkan dia belum pernah berpacaran.” Leo terpancing untuk menjelaskan. Ia tidak suka jika ada orang yang berkata buruk tentang keluarganya.


“Kamu yakin?”


“Yakin. Bahkan mama dari kakak iparku adalah donatur tetap di panti ini. Beliau yang membantu ayah dan ibuku mendirikan tempat ini. Kedua orang tuaku kenal baik dengan mama kakak iparku.”


‘Aku ayahmu nak. Tidak bisakah kamu merasakannya? Atau kamu memang bukan putraku?’


Leo kembali membantu adik-adiknya mengerjakan tugas, sesekali Damian menyela memperbaiki yang ia rasa salah.


Meski begitu, Leo tidak mau mengakrabkan dirinya. Tidak seperti saat pertama ia bertemu dengan Edward.


“Berapa umurmu, nak?”


Damian kembali bertanya, saat mereka telah selesai mengajarkan anak-anak tugas sekolahnya.


“Tahun ini 16 tahun.”


“Apa bulan lahirmu sudah lewat?”


“Ya.. dua bulan lalu.”


‘Bulan lahir yang sama dengan anakku.’


Leo merapikan meja di depannya.

__ADS_1


“Kamu sangat pintar, jarang sekali aku menemukan remaja seusiamu yang masih tetap berada di rumah dan membantu keluarganya.” Damian memberi pujian. Ia masih tetap gencar melakukan pendekatan pada pemuda itu. Setelah dekat, rencananya Damian akan melakukan tes DNA diantara mereka berdua.


Leo menghela nafasnya. Ia kemudian duduk di samping Damian.


“Keadaan yang membuatku begini, pak. Aku kehilangan ayahku di usia 5 tahun. Dimana saat itu aku belum mengerti apapun. Dan tiga tahun lalu, aku juga kehilangan ibuku. Jadi aku harus bisa memeberi contoh yang baik untuk adik-adikku.”


Leo berucap sendu. Ia teringat kembali pada ibunya. Ia sama sekali tidak memiliki kenangan bersama sang ayah, karena usianya saat itu baru 5 tahun. Memorinya belum jelas merekam semuanya.


“Apa kamu akan meneruskan panti ini?”


“Tentu. Kakak sudah menikah dan ikut suaminya. Dengan begitu, akulah yang bertanggung jawab atas panti ini suatu hari nanti. Panti ini adalah kebanggaan orang tuaku, aku tidak akan meninggalkannya.”


Meski Leo baru berusia 16 tahun, tetapi dia sudah memiliki pemikiran yang jauh kedepan. Keadaan membuatnya dewasa sebelum waktunya.


“Meski ada orang yang menawarimu kehidupan yang lebih baik?”


“Ya.”


“Lalu bagaimana kamu membiayai kebutuhan panti ini?”


Leo berpikir sejenak. Kemudian ia menjawab pertanyaan itu.


“Suatu hari nanti aku akan bekerja di salah satu kantor kakak iparku. Tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini.”


Mendengar ucapan Leo, membuat Damian merasa bangga. Anak itu begitu menyayangi keluarganya. Bagaimana jika pemuda itu benar-benar putranya. Ia pasti akan beruntung.


“Apa kamu mau bekerja di perusahaan ku? Aku juga memiliki usaha seperti kakak iparmu. Walau tidak sebesar yang is miliki.”


Kepala Leo menggeleng. Ia tidak berminat.


“Aku hanya ingin bekerja di tempat keluarga ku, pak. Agar aku juga bisa mengurus panti.” Tolaknya secara halus.


Damian tidak mau memaksa sekarang. Leo masih 16 tahun. Pemuda itu juga belum terbukti putranya. Mungkin nanti jika semuanya jelas, Damian akan melakukan sedikit paksaan.


Sementara itu, pasangan Edward dan Laura baru saja selesai melakukan kunjungan kerja di hotel milik keluarga Hugo yang berada di negara tetangga.


Secara langsung Edward mengenalkan istrinya kepada para pegawai hotelnya. Sekarang Edward tidak perlu lagi menutupi keberadaan Laura. Wanita itu sudah bergelar nyonya muda Hugo.


“Kita makan siang dimana, baby?” Tanya Edward sembari menggenggam tangan sang istri dan berjalan di koridor hotel.


“Apa di hotel ini ada restorannya?”


“Tentu. Semua menu dari negara kita ada. Kamu mau?”


Laura mengangguk antusias.


Edward pun menuntun sang istri menuju restoran yang terletak di bangunan lain, namun masih satu kawasan dengan hotelnya.


Dengan memasuki lift, menuruni gedung bertingkat 20, Edward membawa sang istri menaiki golf car, untuk mencapai restoran.


Setelah tiba di restoran, seorang pramusaji wanita memberi hormat kepada pemilik tempat itu.


Ia juga memberi hormat kepada Laura, setelah mendengar kabar, jika sang atasan hari ini datang bersama istrinya.


Pramusaji itu mengantar pasangan pengantin baru itu ke salah satu meja.


Mereka pun memilih salah satu makanan daerah dari negara asalnya.


Beberapa menit menunggu, makanan tiba. Edward dan Laura pun makan dengan damai.


Setelah acara makan siang itu selesai, mereka memutuskan kembali ke dalam kamar, untuk beristirahat. Nanti malam baru akan berjalan-jalan di dekat hotel.


“Tunggu sebentar disini, aku mau ke bagian kasir.”

__ADS_1


Laura mengangguk. Meski hotel dan restoran itu milik Edward, pria itu tetap melakukan pembayaran. Demi kelancaran pembukuan keuangan bisnisnya.


Laura memindai seluruh penjuru restoran. Memang nuansa negara asal mereka sangat kental terasa di tempat makan itu.


Sedang asyik melihat, tiba-tiba tubuhnya terbentur sesuatu.


“Aduh.” Ia terlonjak. Tubuh sesampainya sedikit terhuyung.


“Maaf aku tidak sengaja.” Ucap seorang wanita yang menabraknya. Wanita itu sibuk dengan ponsel di tangannya, sehingga tidak melihat ada orang di depan mata.


“Tidak apa-apa.” Jawab Laura tersenyum.


“Ternyata kita berasal dari negara yang sama.” Ucap wanita itu setelah mendengar jawaban Laura.


Laura menganggukkan kepalanya. Ia meneliti lawan bicaranya yang terlihat lebih dewasa darinya.


“Sayang. Ayo.. aku sudah selesai.” Edward datang dari belakang Laura, kemudian merangkul pinggang ramping sang istri.


Deg..


‘Edward?’


Wanita itu menoleh ke arah pria itu. Hatinya bergemuruh kencang. Bagaimana pria yang dari dulu dia cintai ada di hadapannya kini.


Teresha.


Ya, wanita yang menabrak Laura adalah Teresha, pengagum rahasia Edward sejak masih sekolah.


Meski hampir 15 tahun berada di negara ini, wanita itu tidak pernah berhenti mencari tau tentang pria idamannya itu.


Setiap informasi tentang Edward di internet ia tau, karena itu Teresha tidak pernah melupakan wajah tampan Edward.


“Sudah selesai?” Tanya Laura meyakinkan.


Edward mengangguk.


“Iya. Ayo kita ke kamar. Aku mau istirahat.” Edward sedikit menarik istrinya, ia bahkan tidak peduli dengan orang lain yang berada di dekat mereka.


“Baiklah, mbak. Saya permisi dulu.” Laura pamit, meski mereka tidak saling mengenal.


“Tu-tunggu. Apa aku boleh tau namamu?”


Laura tersenyum, ia kemudian menyodorkan tangannya.


“Nama ku Laura.”


“Aku Tere.” Wanita itu membalas jabatan tangan Laura.


“Dan anda— ” Teresha memancing, menyodorkan tangan pada Edward agar pria itu mau berkenalan dengannya.


“Baby, aku tidak nyaman. Ayo kembali.” Pria itu berbisik di telinga sang istri.


“Maaf mbak, dia suamiku. Dia—.”


“Sayang kembali sekarang.”


Edward menarik sang istri sebelum menyelesaikan perkenalannya.


.


.


.

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2