
Kedua wanita berbeda usia itu, sibuk memanjakan diri. Sampai salah satu dari mereka tidak menyadari jika sedari tadi, benda pipih pintarnya terus berteriak, menjerit, tanda ada panggilan masuk.
“Maaf, nona. Dari tadi ponselnya berbunyi.” Salah seorang terapis salon menyerahkan tas tangan milik Laura kehadapan gadis yang sedang tidur telungkup di atas kasur spa.
“Ah, terima kasih, mbak.” Gadis itu sedikit mendongak menerima tas miliknya, kemudian merogoh ponselnya.
“Siapa, La?” Felisha bertanya dari sebelah kiri gadis itu. Wanita dewasa itu juga sedang dalam posisi yang sama.
“Siapa lagi, mbak. Kalau bukan kakakmu yang posesif itu.” Laura terkekeh, kemudian ia menekan tombol berwarna hijau pada layar ponselnya.
“Ya, Ed?” Gadis itu menyapa sang penelepon. Namun yang terdengar hanya embusan nafas saja.
“Hallo, Ed. Apa kamu mendengarku?” Masih saja belum ada sahutan dari seberang panggilan.
“Mungkin dia salah pencet, aku matikan saja.” Ujar gadis itu memancing.
“Tunggu. Kenapa kamu memanggilku begitu? Bukannya sudah disepakati panggilan kita?” Sebuah pertanyaan bernada protes keluar dari bibir pria itu. Ia diam karena kesal mendengar Laura memanggilnya Ed lagi.
Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan. Dasar bocah tua. Begitu saja sudah merajuk.
“Ed, aku sedang melakukan perawatan di salon bersama mbak Felisha. Disini juga ada empat orang terapis.” Gadis itu berucap pelan. Ia tidak enak hati dengan orang di sekitarnya.
“Jadi karena itu kamu tidak mengabariku?”
‘Astaga, bocah tua ini.’
“Kita baru berpisah beberapa jam, tuan Hugo. Belum ada sehari.” Laura menggerutu pada ponselnya.
“Sudahlah, La. Matikan saja. Ini waktunya kamu memanjakan diri.” Felisha berceletuk di samping gadis itu.
“Felisha di dekatmu?” Tanya Edward menyelidik.
“Iya. Kami sedang melakukan pijat.”
“Benarkah? Astaga. Kamu membuatku ingin kesana dan menghabisimu.” Suara Edward terdengar menggeram.
Laura merasa obrolan ini akan kemana-mana jika di teruskan.
“Ed. Nanti sampai di panti, aku menghubungimu lagi. Aku harus berendam sekarang. Aku matikan ya?” Gadis itu berdusta.
“Tidak bisakah melakukan panggilan video?” Tanya pria itu dengan polos.
Laura mencebikan bibirnya. Ia kemudian memutuskan sambungan telpon itu secara sepihak.
“Astaga, Ed. Ternyata dia sudah sangat tergila-gila padamu, La.” Felisha tergelak. Andai pria itu ada di dekatnya, Felisha ingin menggodanya habis-habisan.
“Darimana dia mewarisi sifat posesif itu, mbak?” Tanya Laura sembari menikmati pijatan pada punggungnya.
“Darimana lagi, kalau bukan dari mama. Kamu tau, kadang aku merasa seperti orang yang tidak waras, di kekang oleh dua orang.”
Laura membenarkan ucapan Felisha. Bahkan sebelum tau jika nyonya Samantha itu adalah nyonya Hugo, gadis itu sudah merasa jika sifat wanita paruh baya itu mirib dengan Edward.
__ADS_1
Mereka melanjutkan melakukan perawatan. Setelah melakukan perawatan tubuh, kedua wanita itu melanjutkan dengan perawatan rambut.
Hampir 4 jam berada di salon kecantikan, Felisha mengajak sang calon ipar untuk mengisi perut, karena waktu juga sudah menjelang petang. Perut pun sudah meronta minta di isi.
“Kamu suka makanan apa, La?” Tanya Felisha melihat-lihat ke kanan dan ke kiri dari dalam mobil. Ia mencari tempat makan yang berada di sekitar tempat itu.
Mereka berdua tengah berada di dalam mobil, dengan seorang sopir pribadi yang selalu setia menemani kemana pun Felisha pergi.
Sebenarnya mama Devano itu bisa mengemudi, namun semenjak kejadian kecelakaan Ed dan David, yang mengakibatkan hilangnya nyawa sang suami, Felisha memutuskan untuk menggunakan sopir pribadi.
Meski tidak ikut dalam kecelakaan itu, namun ada rasa trauma di hati wanita itu saat duduk di balik kemudi.
“Kita makan, makanan Korea saja, mbak, tiba-tiba aku ingin makan mie dari negara itu.” Laura mengutarakan keinginannya.
“Hmm? Baiklah. Pak kita ke restoran Korea.” Felisha memberi perintah kepada sang sopir.
Mobil pun melaju membelah jalanan. Setelah 20 menit berlalu, mobil yang di tumpangi Felisha dan Laura tiba di sebuah restoran korea.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki tempat makan khas negara yang sering di juluki negri gingseng itu.
Saat akan mencari tempat duduk, tanpa sengaja Laura menabrak seorang pria dari arah berlawanan. Membuat tubuhnya sedikit terhuyung, namun dengan sigap pria itu menangkap punggung gadis itu.
Deg..
Gadis itu merasa kembali ke masa dimana ia pertama kali bertemu dengan Edward dan Johan.
“Maaf, aku tidak sengaja.” Suara maskulin mengalun indah di telinga Laura. Ia lantas menegakan kembali tubuhnya.
Deg..
Laura tersentak. Ia merasa tidak asing dengan wajah pria yang sepertinya sudah berumur itu.
‘Apa aku pernah bertemu pria ini sebelumnya? Kenapa wajahnya seperti tidak asing?’
“La, kamu tidak apa-apa?” Felisha berbicara di samping gadis itu. Membuat Laura menoleh ke arah wanita itu.
“Aku baik-baik saja, mbak.” Laura tersenyum kepada Felisha.
“Feli?” Pria dewasa di depan dua wanita itu berseru. Seketika membuat Felisha menoleh ke arahnya.
“Ya, anda mengenalku?” Felisha melontarkan pertanyaan.
“Aku Damian, teman satu kelas mu dulu waktu SMA.”
“Aa.. kamu ketua kelas itu, ya?” Felisha masih mengingat-ingat. Ia tidak menyimpan kenangan masa sekolahnya. Karena telah penuh dengan kenangan bersama mendiang sang suami.
“Iya. Kamu mengingatnya juga.” Pria itu tersenyum kepada Felisha. Ia juga tersenyum ke arah Laura. Namun entah kenapa, pandangan pria dewasa itu terkunci pada Laura.
“Apa dia saudari mu, Fel?” Pria itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah manis Laura.
Laura yang di perhatikan seperti itu merasa risih. Ia pun mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Iya.. dia saudari ku. La, kenalkan dia Damian teman sekolahku dulu.” Felisha menunjuk ke arah pria itu. Yang lantas menjulurkan tangannya ke arah Laura.
“Laura.” Ucap gadis itu tanpa membalas uluran tangan pria asing yang tidak ia kenal itu.
“Mbak.. kita duduk dimana?” Gadis itu berbisik. Ia ingin segera pergi dari hadapan pria ini. Entah kenapa ia merasa pria ini, seperti pria genit.
“Ah, iya Dam. Maaf kami permisi dulu. Kami sudah lapar.” Felisha juga merasa ada yang aneh dari tatapan teman semasa sekolahnya ini.
“Oh. Silahkan. Makanan di tempat ini sangat enak. Kalian pasti akan sangat suka. Selamat menikmati makan malam kalian. Aku permisi dulu.” Pri bernama Damian itu undur diri. Namun sebelum pergi ia menyeringai ke arah Laura.
Gadis itu bergidik ngeri. Ia memang familier dengan wajah pria tadi. Tetapi di perhatikan seperti itu membuatnya takut.
“Ada apa, La?” Felisha bertanya setelah mereka duduk.
“Mbak, aku merasa tidak asing ya dengan wajah pria tadi. Apa dia orang terkenal?”
Felisha terkekeh. Jujur saat ini, ia tidak tau tentang kehidupan teman-teman masa sekolahnya dulu.
Ia sibuk dengan dunianya sendiri bersama Devano dan mendiang suaminya. Tidak ada waktu untuk mengurusi hal lain kecuali berhubungan dengan keluarganya.
“Aku tidak tau, La. Mungkin kamu pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya dengan dia. Sudahlah jangan di ambil pusing. Kita pesan dulu. Aku sudah lapar.”
Laura mengangguk. Ia pun membuka buku menu. Namun rasa penasaran di hatinya masih saja menghantui.
‘Siapa sebenarnya pria itu. Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahnya? Ah, siapapun dia, bukan urusanku. Jika Ed tau aku memikirkan pria lain, habislah aku.’
.
.
.
T. B. C
Visual menurut aku kalau di Indonesia si Babang Ed itu Christian Sugiono. 🥰🥰
Menurut versi kalian siapa, Genks ?!!
———
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Gift
TerimaGaji banyak❤️❤️❤️
__ADS_1